Lelaki Luar Biasa Pilihan Bapak

Oleh : Putri Pelangi

Dia yang selalu memberiku hadiah setiap hari ulang tahun ku. Aku tak pernah memintanya. Sedikit  mengharap perhatian dari nya pun tak pernah. Tapi Dia tak pernah patah atau pun mundur untuk selalu mencuri perhatian dari aku. Namun sedikit pun aku tak ingin membalas segala perhatiannya. Terbesit ego dalam hati ku, aku tak pernah memintanya, dan aku tidak suka dengan segala perhatian Dia.

Dia terlalu baik buat ku, Dia punya segalanya yang Dia mau, Dia pun juga banyak penggemarnya. Dibandingkan dengan aku, berbanding 180 derajat dengan aku. Aku hanya perempuan sederhana yang tak punya apa-apa. Parasku pun tak secantik para penggila nya. Aku hanya gadis sederhana yang hanya mencoba bertahan dengan segala prinsip baik berdasarkan pada tiang agama yang ku akui kebenarannya.

 

Dia pria tampan yang punya segudang prestasi dan segala kemewahan ada di sekitarnya. Latar belakang orang tua yang sangat terpandang di kota. Pendidikannya pun tinggi, status sosialnya sangat berbeda dengan aku. Aku hanya anak seorang petani di desa, hidup serba kecukupan tanpa ada lebih. Tak pernah lah merasakan dinginnya ac di ruang kamar, tak pernah merasakan empuknya kasur dan hangatnya selimut berbulu domba. Kami tak pernah hidup semewah itu, hingga usiaku dewasa seperti sekarang. Cukup bagi aku dan keluarga untuk makan nasi bersama lauk secukupnya, pun tak berlebih hingga terbuang mubazir.

 

Aku hargai segala perhatiannya, tapi kali ini aku merasa sangat risih sekali dibuatnya. Sudah aku katakan padanya berkali-kali, aku tak membutuhkan segala perhatian dan barang pemberiannya. Sebisa mungkin masalah ku akan aku selesaikan dengan mandiri. Karena aku percaya Allah selalu bersama ku.

 

Siang itu, Dia datang kembali membawa sekeranjang buah-buahan. Mungkin ada yang memberitahunya hingga Dia datang di luar hari kebiasaannya, tetiba saja Dia hadir ke rumah orang tua aku. Dan memang kebetulan aku sudah dua minggu ini pulang, karena badan ini terasa kurang nyaman, plus memang sedang libur semester akhir. Aku heran kenapa Dia bisa tau alamat rumah aku di kampung, pusing kepala ku dibuat untuk berpikir.

Kenapa Dia seperti super hero yang tau segalanya dan sangat sok jadi pahlawan bagi keluarga aku. Kenapa harus datang pula ke rumah orang tua aku, aku kesal dibuatnya. Aku sangat tidak nyaman akan kehadirannya. Sikapnya yang begitu ramah pada orang tua ku pun, bagi aku itu sangat tidak pantas karena aku tak ingin sikapnya yang begitu baik kepada orang tua ku dan keluarga ku. Kedatangannya membuat harga diriku diinjak oleh nya. Seolah aku tak mampu menyelesaikan masalahku sendiri, terlebih saat itu Dia hadir dengan membawa banyak sekali makanan dan kebutuhan lainnya.

 

Esok harinya setelah kedatanganya ke rumah orang tua aku. Bapak dan Ibu bertanya dan memintaku duduk dihadapannya dengan sangat serius dan Bapak bertanya “sudah siapkah kau menikah?”. Tersentak aku dengan satu kalimat pertanyaan Bapak itu, untuk apa Bapak bertanya seperti itu, Bapak pun tau aku belum selesai kuliah. Masih cukup lama untuk memikirkan pernikahan. Dan aku pun tak berminat jika harus menikah dengan Dia.

 

Sepekan setelah itu, Bapak menelpon aku dan memintanya kembali pulang. Kaget aku dibuatnya, yang dibenak aku adalah kekhawatiran aku pada Bapak. Aku hanya memikirkan, apakah Bapak sakit atau Ibu yang sakit? Tapi segera aku pulang, sesampainya di rumah. Bapak dan Ibu sehat tapi terlihat ada yang berbeda di rumah itu. Sekeliling rumah menjadi terlihat baru, karena semua dinding rumah baru saja di cat. Rumah Bapak memang tidak luas hanya ada satu kamar tidur dan satu ruangan yang biasa dibuat untuk terima tamu, dapur saja di luar dekat kamar mandi, itu pun hanya kecil.

Tapi rumah yang sangat cukup untuk kami. Rumah begitu terlihat rapi, selain baru saja di cat, ruangan yang biasa untuk menerima tamu pun tertata dengan rapi dan terlihat lebih bersih dari biasanya. Yang luar biasa adalah kamar aku, berubah total. Tempat tidur aku baru ditambah dengan ada meja rias, kamar ku jadi terlihat lebih sempit meski semua terlihat bersih dan rapi. Ada apa ini?? Dalam hati aku bertanya. Dan untuk apa Bapak membeli tempat tidur baru serta meja rias di kamar aku. Aku bingung.

 

Setelah selesai mandi, Bapak memanggil aku sambil duduk di ruang depan, Ibu membawakan tiga cangkir teh hangat untuk kita bersama singkong rebus kesukaan Bapak. Lalu Bapak berbicara secara perlahan dan tutur yang lembut, itu memang kebiasaan Bapak, Beliau tak pernah berkata keras dan kasar, tutur nya senantiasa lembut dan halus. Aku sendiri juga takut jika Bapak sudah mulai membuka pembicaraan. Bapak mengatakan bahwa Bapak dan Ibu sudah cukup tua, dan tidak tau kapan akan dipanggil oleh Sang Pemilik Kehidupan, Bapak berharap sebelum tutup usia, Beliau bisa melihat aku bahagia bersama keluarga, menimang cucu dan bermain dengan cucu, tapi yang terpenting adalah sebelum Bapak meninggal, Bapak ingin melihat aku dijaga dan dibimbing oleh seorang pria yang tepat dan bertanggungjawab. Sepanjang Bapak memaparkan segala maksudnya, aku menjadi galau dan tak mengerti apa yang diinginkan oleh kedua orang tua ku.

Kemudian Ibu ikut menambahkan, namun perkataan Ibu lebih jelas tanpa basa basi. Ibu meminta aku segera menikah. Menikah dengan orang yang Sholeh. Menikah pada pria yang telah datang memintanya secara baik dan sopan pada Bapak. Ibu pun memberi nasehat, jika telah datang sosok pria baik dan sholeh datang maka tak pantas seorang wanita menolaknya, apalagi pria ini telah diketahui akhlak dan agamanya.

Lalu siapa Dia? Aku beranikan diri untuk bertanya, “siapa pria yang Bapak Ibu maksud, untuk menikah dengan aku?, Aku tak pernah punya teman pria yang akan aku jadikan calon pemimpin bagi keluarga ku kelak”. “Siapa Bu?”.

“Menikahlah dengan nak Fahmi”, Bapak langsung menjawab pertanyaan aku tanpa basa basi lagi.

Aku tersentak dan kaget dibuatnya. Mengapa aku harus menikah dengan Dia. Dia yang tak pernah aku inginkan kehadiarannya, Dia yang selalu memberiku perhatian berlebihan, Dia yang selalu datang tanpa diundang, Dia yang terlalu baik, Dia yang punya banyak penggemar, Dia yang terlalu pintar, Dia yang punya fans club penggila nya.

 

“Mengapa Bu????, Mengapa aku harus menikah dengan Dia???, Aku tidak pernah menyukainya”.

“Menikah tak perlu cinta dan suka, yang harus kau lihat adalah agama dan akhlaknya”, Bapak menjawab.

“Kau perempuan muslimah, yang sudah pasti tau amal kebaikan dari pernikahan, mintalah petunjuk pada Sang Khalik, agar kamu mampu menjadi istri yang baik dan membawa keberkahan bagi keluargamu kelak”, tutur Bapak.

 

Dan aku menangis dalam pelukan Ibu, haruskah ini aku jalani semua permintaan Bapak. Haruskah aku menikahi laki-laki yang tidak pernah aku sukai selama ini. Dia bukan pilihan ku.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *