Oleh : Putri Pelangi
Pagi itu,, baru saja Sang Mentari menghangatkan sinarnya menerpa celah-celah di jendela kamar tidur hingga menggambar bayangan diri di dinding kamar.
Aku tersadar dari lamunanku, saat dia bisikan di telingaku “aku sangat mencintaimu, my wife”.
Aku kaget dan langsung berdiri dari sisi sudut tempat tidur. Lalu ku alihkan pandanganku pada pintu keluar kamar dan aku bergegas ke dapur tanpa menjawab pernyataannya.
Langsung ku sibukkan diriku dengan potongan sayur dan buah, untuk ku buatkan jus dan sarapan pagi.
Kenangan yang salah
Dalam hatiku yang terdalam, sering ku masih memikirkannya, menganggapnya ada, mengingat semua tawa riang dan guraunya. Seolah dia masih saja ada di sekelilingku, mengikuti setiap langkahku, menjaga gerak lakuku.
Dia memang sangat menyayangi ku dan terlalu perhatian padaku. Hingga aku dianggapnya anak kecil, karena setiap waktu aku selalu terpantau dengan segala perhatiannya.
Aku selalu berada dalam lingkaran cinta yang over protectif. Tapi aku sangat menyayanginya dan tak pernah merasa terbelenggu dengan segala perhatiannya. Karena aku memang terlalu manja dan tak bisa mandiri.
Tapi ini semua sudah berlalu, kisahku sudah lama berlalu, sudah lima tahun seharusnya ku kubur semua kenangan yang salah ini. Tak seharusnya aku masih mengisi lamunanku dengan segala kenangan yang salah ini. Tak seharusnya aku berada dalam dunia ku bersamanya, bersama kenangan yang salah ini.
Bukan dia
Aku memang dulu sangat menyanyanginya. Dia yang tak sempat berucap janji dalam mihrab cinta. Memang bukan dia yang mendampingiku dalam mahligai indah pernikahan ku saat ini. Tapi dia yang selalu menyita waktuku saat aku bersama suamiku kini.
Aku sadari, aku bersalah saat ini, karena aku masih simpan segala kenangan yang salah ini. Tapi aku tak tau, bagaimana caraku menghapusnya. Aku tidak kurang perhatian dari suamiku, bahkan suamiku pun kini mampu memberi segala cinta dan sayangnya padaku. Suamiku adalah lelaki pilihan dari Sang Maha Baik untuk aku. Bukan dia yang kini telah pergi bersama segala kenangan manisku bersamanya. Memang bukan dia yang kini bersamaku, karena Allah lebih menyanyanginya. Hanya saja aku yang belum mampu menghapusnya dari segala kenangan indah itu.
Suami ku pun tau, suamiku lelaki terbaik pilihanNya. Karena suamiku tak pernah kecewa dengan segala kenanganku ku tentangnya. Suamiku senantiasa membimbingku untuk senantiasa mendoakannya bukan menghakiminya dan menyalahkan ku yang masih saja membawanya dalam lamunanku.
Ketika Sang Fajar sudah menyingsih, dan suamiku pun telah rapi berganti pakaian, ku ajak dia ke meja makan untuk menyantap sarapan pagi yang telah ku siapkan. Pagi itu aku menangis, ku cium punggung tangan kanannya. Ku katakan padanya, “maafkan aku, suamiku”. Aku telah bersalah dan mengkhianati cinta dan sayang mu. Aku yang terbang bersama angan dalam kenangan yang salah. Aku yang tak dapat menghargai segala upayamu sebagai suamiku kini. “maafkan aku”.
Lelaki terbaik
Suamiku tak pernah marah ataupun merasa diduakan, karena dia sangat memahamiku. Suamiku telah menerima segala kekuranganku dan telah berjanji akan membimbingku dan akan memimpinku dalam kebaikan, karena harapannya aku akan terus bersamanya dan mendampinginya hingga ke surga Allah.
kenangan terindah
Alhamdulillah … 🙂