Ibu Hanya Pergi Bukan Hilang

Ibu Hanya Pergi Bukan Hilang

“Tepat enam bulan,” ucap Davina dalam hati.

Rasanya Davina sebagai anak pertama sedang melihat titik terendah dalam rumah tangga kedua orang tuanya. Bukan hanya perihal materi tetapi pikiran, batin dan tenaga.

Tatkala Davina yang hanya bisa melihat isi keluarga yang penuh airmata. Davina yang melihat bentuk nyata akan ketulusan, keikhlasan, ketulusan, dan sabar yang tiada batas. Davina pun bingung, mengapa mereka sekeluarga bisa bertahan dan berjuang bersama sebegitu hebatnya hingga titik akhir.

“Pak, apa ibu bisa sembuh?,” ucap ibu Davina dengan suara lirih.

“Bisa atas izin Sang Pencipta,” jawab ayah Davina.

Davina si gadis yang lahir dari keluarga cemara. Cemara baginya bukan mereka yang selalu terpenuhi akan materi, cemara baginya bukan mereka yang terlahir dari keluarga dengan kedudukan sosial yang tinggi, cemara baginya adalah mereka yang merasa didengar dan bebas berekspresi dalam keluarga.

Davina ini terkenal dengan anak manja yang apa-apa sudah ada dan disiapkan oleh kedua orang tuanya. Davina anak pertama dan ia mempunyai seorang adik perempuan yang berumur 4 tahun. Umurnya 17 tahun dan ia merupakan seorang penulis sekaligus aktivis literasi disekolah.

‘Davina Nur Rasiyah’ panggil aja ‘Vina’.

“Vin, cowoknya mana?,” pertanyaan yang selalu teman-temannya lontarkan.

“Cowoku enggak ada tapi aku punya jodoh,” jawab Davina setiap kali mereka bertanya akan kisah percintaannya.

Sepanjang jalan dengan kendaraan bermotor dari sekolah menuju rumah ia sering bertanya dalam hati “Andai aja ibu enggak sakit pasti aku selalu diantar dengan si biru ini”.

Oh iya, si biru adalah sebutan motor ibunya. Ia yang berusaha menepis pertanyaan-pertanyaan yang ada didalam benaknya walau pada faktanya ia selalu rindu akan momen dimana dirinya selalu diantar kemanapun.

***

Assalamu’alaikum, Vina pulang Bu,” sembari memakirkan si biru diteras rumah.

Wa’alaikumsalam, Vin udah pulang, tolong bangunin ibu, ibu mau duduk”.

Saat itu dirumah hanya ada Vina, adiknya, dan ibunya. Ayahnya yang pada saat itu belum pulang dari kerjanya. Pemandangan yang selalu ia lihat selama 6 bulan lamanya. Ia tidak pernah mengeluh akan kondisi rumah yang dulunya selalu rapih, akan makanan enak yang dulu selalu disiapkan oleh ibunya, akan segala hal dirumah yang dulunya terlihat indah.

“Mba” panggilanku saat dirumah. Sesampainya aku dirumah, aku langsung duduk disamping ibuku sambil berkata “Ibu, udah makan? Mau makan sama apa? Ingat kata dokter, ibu enggak boleh makan daging apalagi makanan yang digoreng”.

“Tapi ibu bosen Vin, ibu pengen makan nasi padang,” jawab ibuku.

Ibu Davina ini memang keras kepala, lucunya saat masa muda, beliau terkenal dengan sosok alpha woman. Bahkan kisah cintanya dengan ayahnya berawal dari benci. Ayahnya ini adalah cowo dingin yang gila kerja dan abai terhadap perempuan. Hanya saja prinsip ibunya adalah ‘kejar terus sampai dapat’.

Saat itu ibunya memilih untuk makan sayur bayam dan bacam tahu. Dua makanan itu merupakan makanan favoritnya. Davina pun bergegas masak setelah melepas seragam sekolahnya.

Assalamu’alaikum”. Itu suara ayah Davina. Ibu dan Davina pun menjawab salam. Davina yang pada saat itu didapur pergi keruang keluarga. Davina yang melihat ayahnya langsung duduk disamping ibunya sembari mencium keningnya.

“Ya Tuhan, panjangkanlah umur mereka, jagalah mereka sampai maut yang memisahkan”.

Davina yang kembali melanjutkan memasak didapur tidak sengaja mendengar percakapan mereka “Ibu, besok kita kontrol lagi ya ke rumah sakit, nanti ayah ambil cuti,” ucap ayah Davina.

“Iya Yah, ayah bosan enggak sih sama ibu? Ibu udah enggak bisa masakkin ayah lagi,” tanya ibu Davina.

Enggak bu, ayah enggak ada rasa bosan dan cape sedikitpun, ayah ikhlas ngurus ibu dan anak-anak. Udah ya bu, ibu enggak usah mikir yang aneh-aneh, bapak kan udah janji dulu sama ibu akan ngejalanin sampai gimana akhirnya. Bapak bersih-bersih dulu ya bu”.

Ibu Davina yang hanya mengangguk. Davina yang mendengar percakapan mereka langsung meninggalkan masakannya dan mengajak ayah untuk bicara berdua dikamar.

“Ayah, Vina mau bilang sesuatu, Vina enggak kuat untuk bilang ini semua hanya saja rasa mengganjal Vina menghantui hari-hari Vina,” ucapnya pada yah sambil berusaha menahan air mata.

“Vina mau bilang apa? Kenapa malah berkaca-kaca matanya,” jawab ayah.

Davina yang memaksakan diri, “Tiga hari yang lalu, Vina mimpi…Vina mimpi…Vina mimpi ibu meninggal,” ucap Vina sambil menangis tersengguk-sengguk.

“Udah ya Vin, kita berdo’a aja supaya ibu cepat sembuh, kita juga kan belum tau lebih jelasnya ibu sebenarnya sakit apa, besok baru mau kontrol lagi,” jawab ayah sambil mengelus kepala Vina sembari menatap adiknya yang sedang tertidur.

Esok hari pun tiba, mereka berdua pergi kontrol ke rumah sakit, ini kontrol yang kesekian kalinya dalam enam bulan dan itu dilakukan setiap minggunya. Vina yang sekolah, tidak bisa ikut. Hanya ibu, ayah, dan adiknya saja. Di  sekolah Vina yang selalu memikirkan tentang kondisi rumah, berharap keadaan pulih seperti semula.

Tak terasa, jam pulang sekolah tiba. Vina segera bergegas pulang dan melakukan aktivitas seperti biasa. Sesampainya dirumah ternyata mereka belum pulang dari rumah sakit.

“Lebih baik aku masak terus bersih-bersih rumah,” ucap Vina dalam hati.

Biasanya Vina yang bagian memasak dan ayahnya yang bersih-bersih. Hanya saja kali ini Vina yang akan ambil alih semuanya. Beberapa jam setelah semuanya selesai, terdengar suara mobil dan ternyata itu mereka. Vina yang melihat mereka langsung mengambil minum dan menyuguhkan mereka diruang keluarga.

Mereka pun duduk di sofa. Vina yang begitu bersemangat karena ia pikir sudah ketahuan penyakitnya, karena melihat tubuh ibunya yang semakin kurus. Tapi, nyatanya tidak menunjukkan hasil apapun, sedikit kecewa karena hanya diresepkan obat saja. Pikirnya, dokter memang tidak ingin memberitahu apa penyakitnya agar ibu tidak kepikiran.

Lima bulan berlalu, kondisi ibunya semakin parah dan ternyata ini adalah kontrol terakhir. Setelah bukti-bukti rekam medis menunjukkan bahwa ada kista kompleks di ovarium ibunya, pada saat kontrol terakhir sudah disiapkan penjadwalan operasi dan itu jatuh dihari Jumat.

Tepat Senin malam, Vina yang tidak kuat melihat kondisi ibu selalu di kamar, karena ia pikir ada orang tua ibu yang menemani.

“Vin,” panggil ibunya dengan suara lirih. Vina yang pada saat itu langsung menghampiri.

“Iya bu,” jawabnya.

“Vina ngapain dikamar terus?,” tanya ibunya.

Vina yang pada akhirnya tidak mampu membendung air mata mengungkapkan kepada ibunya “Vina enggak kuat liat ibu, mending Vina dikamar. Ibu…nanti dateng ya ke wisuda Vina, Vina mau nunjukkin seberapa hebat kita didalam karya buku nya Vina, Vina udah merelakan masa depan Vina untuk menuhin keinginan ayah asal ibu sembuh”.

Entah apa yang ada dipikirannya sampai bisa melontarkan kalimat seperti itu.

In Syaa Allah ya Vin, kejar yang Vina mau, apapun yang Vina mau, ibu pasti dukung,” jawab ibunya.

Tangisannya semakin isak dan lagi-lagi entah apa yang terbesit dipikirannya hingga ia mengajak ibu untuk solat taubat.

“Ibu, Vina tuntun ya buat sholat taubat, ibu ikutin aja sambil duduk”.

Vina yang langsung mengambil air wudhu dan mengenakan alat solatnya. Ibunya yang sudah bertayamum dan meminta dipakaikan alat sholatnya.

Kami pun menjalani solat bersama. Setelah selesai sholat dan berdo’a, Vina langsung mencium tangan ibu sambil meminta maaf atas apapun karena batin nya berkata bahwa ia tidak akan bisa melihat ibu lagi.

“Ibu, Vina minta maaf, maafin Vina kalo selama ini Vina masih sering ngecewain ibu,” ucap Vina.

“Minta maaf apa Vin? Vina enggak salah apa-apa,” jawab ibunya. Tangisan Vina yang semakin isak dan ia memutuskan untuk kembali ke kamar.

Esok paginya, ia seperti tidak ingin berangkat sekolah tapi ibunya masih saja menyuruh pergi ke sekolah dengan alasan tidak ingin mengganggu sekolahnya. Saat Dzuhur, Vina mendapat panggilam dari ayahnya, bahwa ibu dibawa lagi ke rumah sakit karena kondisinya semakin parah. Vina langsung terdiam mendengar jawaban tersebut.

Yang lebih menyakitkan adalah ketika pada akhirnya ibu masuk ruang ICU malam Selasa. Berharap akan ada keajaiban, tapi di Rabu pagi sepertinya mereka semua sudah tidak ada harapan. Vina yang diberitahu ayah, bahwa kenyataan pahitnya ibu sedang menghadapi sakartul mautnya.

“Vin, Vina pulang sekolah ya, terus ke rumah sakit, hubungin orang-orang terdekat, kumpulin semuanya. Tadi ayah udah nelpon keluarga ayah dan ibu yang dikampung halaman”. Vina yang bergegas pulang dan pikirannya yang sudah kemana-mana.

Sesampainya di rumah, Vina menghubungi orang-orang terdekat. Salah satunya adalah Adnan, dia teman kecilnya. Ibu ingin sekali bertemu dengannya, sudah 4 tahun sejak adiknya lahir.

Sekitar pukul dua siang, Vina yang sedang menunggu taksi online, Adnan dan keluarganya yang sudah dekat dengan rumah sakit. Tiba-tiba Vina ditelepon oleh ayahnya. Lagi-lagi ini pahit dan sepertinya dunia terasa hancur “Vin, jangan kaget ya. Kita ikhlasin semuanya, ibu udah enggak ada”.

Rasanya hanya badan saja yang berdiri tapi hatinya mati. Pada saat itu, Adnan langsung Vina suruh putar balik kerumahnya karena jenazah ibu akan dibawa pulang dan dimakamkan dikampung halaman ayah. Saat jenazah ibu tiba, Vina tidak merasakan apapun bahkan ia sulit meneteskan air mata.

Kondisi rumah sangat ramai dan akhirnya “Vina sama dede udah ya, bukan punya kita, kita aja ada yang punya,” ucap ayahnya.

“Iya yah, kita harus kuat. ibu beneran sembuh dan ayah nepatin janjinya ke ibu… berjuang sampai akhir,” jawabku.

Walau pada akhirnya ternyata ibuku adalah seorang cancer fighter stadium lanjut. Kista kompleksnya berubah menjadi tumor jinak kemudian pecah menyebar ke paru-paru dan berujung menjadi sel kanker ovarium.

Saat itu pula, kesedihan dan bangkitku terasa bersama. Adnan dan keluarga nya yang kala itu ikut andil pada situasi tersebut. Aku seperti melihat bentuk nyata dari do’aku selama ini. Dia sempurna, perlakuannya terhadap mendiang ibuku tak akan aku temukan pada laki-laki lain. Lucunya beberapa hari yang lalu, aku mengirim pesan singkat padanya bahwa aku ingin bertemu dengan cara yang Tuhan ridhoi. Benar saja, setelah empat tahun, mereka dipertemukan lagi dengan cara yang Tuhan ridhoi dan dengan keridhoan yang amat mendalam.

 

Penulisa: Dea Affriyanti

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *