“EZRAA!!” BRUGH!
Ezra langsung membuka matanya. Nafasnya tak teratur dan terlihat pucat, bibirnya bergetar tak bisa berkata apa-apa. Ia kembali memeluk gulingnya dan menyembunyikan wajahnya. Tak ada yang bisa ia lakukan. Mimpi itu terus mendatanginya dua tahun terakhir.
Tapi selalu pada titik dimana Ezra mengingat kembali kejadian yang menimpa kedua orangtua dan adiknya, mimpi itu selalu datang bersama dengan rasa takut dan gelisah. Yang Ezra biasa lakukan untuk mengurangi itu, ia harus mengunjungi makam mereka. Sekadar melepas kembali kerinduan dan gundah, bercerita kepada Sang Ibu tentang hari-harinya yang buruk dan tak teratur.
***
“Ezra pergi sekolah dulu bu, maaf nggak bisa cerita banyak.” Ezra berdiri, lalu memeluk nisan ibunya sebelum sebuah suara menginterupsi.
“Apa harus begitu?” Ezra menatap seorang remaja yang nampak seumurannya.
“Maksud gue, penghormatan ke makam. Itu wajib?” Ezra tak ingin menjawab. Dia hanya diam melihat makam ibunya, lalu berjalan pergi.
Rupanya orang itu seperti belum menyerah, ia mengambil langkah panjang, menyamakan posisi dengan Ezra.
“Nama gue Genta. Gue sekolah di Gantari, sama kayak lo. Tapi mungkin lo jarang liat gue karna gue orang sibuk.” Ezra tidak butuh informasi tidak jelas. Apa nantinya ia akan mencari orang ini? Mereka berjalan menuju sekolah yang memang tak lebih dari dua kilometer jaraknya dengan makam.
Setelah memasuki gerbang sekolah. Suara ocehan Genta terasa berkurang bahkan hilang. Ezra terdiam dan menatap sekelilingnya. Banyak siswa juga yang baru datang, mungkin Genta bersama dengan temannya.
***
Ezra masih belum mau bicara dengan siapapun, ia membawa dirinya kebelakang parkiran sekolah. Lalu duduk di salah satu batu besar yang bisa diduduki. Mendengarkan sebuah lagu lewat earphone dan hanya melamun sambil memejamkan mata. Lagu yang ia putar tiba-tiba mati, membuatnya membuka mata dan melihat siapa yang melakukannya.
Di depannya, Genta berdiri, dengan senyum mengembang, ia menaruh tiga bungkus roti dan jus alpukat, mengambil duduk di depannya dengan tenang.
“Sekarang lagi istirahat, bukannya makan malah sendirian di sini.” Jawab Genta melihat wajah heran Ezra. “Udah makan aja. Gue nggak bakal sejahat itu naro racun di roti kantin.”
Ezra tidak protes, jujur nafsu makannya sedang tidak stabil, pagi tadi ia tidak sarapan dan itu membuatnya kelaparan sekarang.
“Lo tau dari mana, kalau gue suka jus alpukat?” Genta tertawa. Dan entah mengapa tawa itu mengingatkan Ezra dengan tawa-tawa hangatnya dulu.
“Gue baca di Wikipedia. Kalo orang suka sendiri, dia butuh alpukat buat nenangin dirinya.”
“Hah?” Ezra bertambah bingung dengan jawaban absurd Genta.
“Ya bercanda lah, Ra. Lo percaya aja. Gue sering liat lu sendiri kesini, bawa-bawa jus alpukat. Jadi gue inisiatif aja, siapa tau itu kesukaan lu.” Jelas Genta. Ezra hanya mengangguk, sedikit terkesan dengan jawaban spontan Genta yang sangat terdengar bersahabat di telinganya. Seperti dejaVu.
“Makasih,” kata Ezra dengan suara yang kecil. Genta tersenyum kecil, terbesit pikiran untuk menjahilinya.
“Apa? Sorry gak kedengeran.” Ezra menatap wajah Genta yang memang jelas-jelas memasang wajah meledek. “Gak ada pengulangan.” Jawab Ezra melantangkan suaranya.
Meledakkan suara tawa yang panjang dari Genta. Ezra yang sedang menggigit roti tersenyum kecil. Hanya senyum kecil.
***
Dua purnama terlewati. Senyum yang dulu tertahan gengsi kini sudah teratasi. Ezra dan Genta selalu bertemu di tempat yang sama, dan pada waktu yang sama. Pada akhir pekan, Ezra selalu mengajak Genta ke rumahnya. Entah mereka sama-sama mengerjakan tugas, atau hanya sekedar menonton TV dengan segelas coklat panas.
Secara alami, luka Ezra perlahan pulih. Tapi ia tidak bodoh, Ezra jelas sadar lukanya seakan sembuh ketika ia bersama Genta. Bagi Ezra yang sekarang, Genta bukan lagi orang asing yang tiba-tiba datang ke makam ibunya, orang asing yang dengan asalnya menawari minuman kesukaannya. Rasanya Genta bisa jadi lebih dari sekedar orang asing.
Namun ia sadar, semakin dekat dirinya dengan Genta, semakin banyak juga luka yang dibuka. Yang terbaik saat ini adalah, tetap berada pada garis yang dari dulu Ezra buat, garis yang membatasinya dengan interaksi semua orang disekitarnya.
“Ra, tugas karya tulis lu udah kelar?” tanya Genta dengan matanya yang fokus pada ponsel dan sepotong roti di tangannya. “Belom, gue aja belum nentuin judul sama bikin cover. Lagian tugas masih lama itu. Buat bulan Februari kan?” Genta menggetok kepala Ezra dengan ponselnya.
“Nggak gitu. Walau masih lama, nanti kepepet tugas lain lu. Udah tau kelas dua belas banyak tugasnya.” Ezra hanya bergumam kecil dengan ocehan Genta.
“Yaudah bantuin gue dah. Lo kan anaknya ambis banget nih. Tolong yaa…”
“Males ah, gue mau pergi. Lo mau ikut nggak?” Genta berdiri, tanpa menoleh ke belakang ia menuju motor Ezra. “Kemana dulu? Mau pake motor?” Genta hanya tersenyum sambil menaikkan alisnya.
“Udah ikut aja yok. Lo yang bawa motor,” Ezra tersenyum, lalu ia berdiri dari batu. Mengeluarkan kunci dari sakunya, dan langsung bersiap menyalakan mesin motor.
“Yakin kita mau bolos?” tanya Ezra pada Genta. Ia hanya tertawa.
“Udah jalan aja,” Ezra tersenyum lagi, ia menarik gas dan membawa motor bergerak dengan cepat. Melewati
gerbang sekolah yang terbuka lebar entah sejak kapan. Seakan-akan alam menyetujui mereka. Ketika mereka bersiap belok menuju jalan raya, sebuah mobil bergerak dengan kecepatan yang sama kencangnya.
“EZRAA!!” BRUGH!
Ezra dan Genta terlempar dari motor cukup jauh. Ezra melihat dengan remang-remang, kepalanya terasa sangat berat. Ia melihat kedua tangannya yang penuh darah. Tapi matanya tak berhenti mencari. “GENTAAA!!” Ezra tak peduli, seberapa besar rasa sakit yang ia timpa, ia bangun dan menghampiri Genta yang sudah bermandikan darah. Ia memeluk Genta erat, mencoba membangunkannya berkali-kali. Namun tak ada respon.
“TOLOOONG!!! SIAPA SAJA TOLONG SAYA!!! PANGGIL AMBULAN!!! GENTA, LO HARUS TAHAN SEBENTAR!!! GENTA, JANGAN PERGI GENTA! SIAPA YANG GUE PUNYA LAGI SELAIN LO, GENTAA!” Seorang pria berlari menghampiri Ezra, kemudian menyobek kaos putihnya dan segera membalut kepala Ezra. Namun Ezra terus menolak. “TOLONG GENTA DULU!!” teriaknya dengan butiran darah yang bercampur air
mata.
Bugh!!
Pria itu menonjok Ezra. “Satu-satunya yang harus ditolong saat ini cuma kamu. Gak ada yang lain.” Ezra terus memejamkan matanya, namun air mata selalu saja lolos dari kedua matanya.
***
“Kamu kenal siapa ini?” foto yang sangat Ezra kenal.
“Genta. Genta Adwiraya. Siswa Kelas 12 IPS 1 Di SMA Gantari. Dan… dia satu-satunya teman saya.” Ezra langsung menitikkan air mata. Dalam foto itu, terlihat Genta sedang memakan roti dan membawa jus alpukat.
“Genta… nggak selamat ya dok?”
“Kamu benar. Tapi yang harus kamu tahu, Genta sudah meninggal sejak dua tahun yang lalu.” Ezra mengepalkan tangannya kuat-kuat. Sungguh pernyataan yang memuakkan bagi Ezra, ia sudah tiga kali keluar-masuk ruang ini karena mengamuk dengan jawaban itu.
Kali ini dengan jawaban yang sama, Ezra ingin tahu kelanjutan kalimatnya. “Genta yang dua bulan terakhir bersama kamu, adalah implementasi dari rasa bersalahmu dua tahun lalu. Ketika kamu menabrakkan mobil keluargamu kepada temanmu satu-satunya. Kamu tidak kuat dan menghapus ingatan itu dengan sendirinya. Namun pikiranmu secara abstrak menangkap rasa sakit itu dan mengubahnya sebagai hal yang bisa mengobatimu. Pikiran kamu tidak menyerah Ezra, jangan sampai usaha Genta mengobati kamu sia-sia.” Ezra tidak mengerti.
Ia hanya ingin menangis seharian setelah ini. Mungkin menemui makam Genta dan bersujud sampai malam. Walau pikirannya menolak menyerah, namun rasa sakit itu tetap ada. Dan Ezra harus mencari tau bagaimana lagi cara mengobati sakitnya.
“Dok, saya harus tau bagaimana selanjutnya. Bantu saya cari kemana saya harus pulang.”
Tatapan Ezra kosong. Ia terus menatap kedua tangannya. Rasanya di tangan itu masih ada lengket serta bau anyir darahnya. Dokter itu terdiam cukup lama. Lalu membuat sebuah panggilan, meminta seseorang untuk datang.
“Dia adalah orang pertama yang beri kamu pertolongan. Juga satu-satunya orang yang sadar bahwa kamu berhalusinasi.”
Di belakang Ezra, pintu kantor tersebut terbuka. Ia melihat pria yang saat itu berada di jalan raya.
“Namanya Farel Adwiraya. Dia kakak kandung Genta. Satu-satunya orang yang bisa membunuh kamu, tapi dia pilih menyelamatkan kamu.”
Penulis : Muhammad Rafif Hilmi – SMA Tadika Pertiwi
Sobat Milenia yang punya cerita pendek, boleh kirimkan naskahnya ke email [email protected], untuk dibagikan ke Sobat Milenia lainnya.
Jangan sampai ketinggalan info terkini bagi generasi milenial, segera subscribe channel telegram milenianews di t.me/milenianewscom.
Bagus sekali..👍