Coretan Asa pada Arunika

Cerpen Coretan Asa pada Arunika

Malam di teras. Hembusan angin yang menciptakan nada melalui pepohonan, suara jangkrik yang tengah berdialog di antara lelapnya tidur setiap insan. Dan indahnya langit malam dengan gemerlap bintang dan terangnya sang bulan. Sungguh, suguhan malam yang memberi sedikit tenang pada seorang gadis yang tengah dilanda duka yang begitu dalam.

Arini Arunika, remaja berusia 18 tahun yang mencintai dunia sastra ini baru saja kehilangan Ayahnya siang tadi. Semenjak itu, dunia Arini terasa runtuh. Hidupnya seakan hampa, kosong, dan mati. Rasanya Arini ingin menolak takdir ini, namun apa daya? Tuhan telah berkehendak demikian.

Dan seharusnya Arini tahu, bahwa seperti inilah kehidupan. Kita tak pernah tahu mana yang akan lebih dulu, meninggalkan atau ditinggalkan.

Tring…..

Sebuah notifikasi membuat ponsel Arini bergetar. Suara itu pun berhasil membuyarkan lamunannya. Sebelum mengambil ponsel yang tepat berada di sisinya, Arini lebih dulu menggunakan tangannya untuk mengusap air mata yang menetes tanpa ia sadari sebelumnya.

Dengan satu ketukan, layar ponsel itu kini menampilkan sebuah pesan balasan dari penerbit yang beberapa hari lalu ia kirimi naskah hasil tulisannya. Sepertinya semesta sedang ingin menguji Arini. Setelah kehilangan satu-satunya keluarga, kini ia juga harus mendapatkan kabar bahwa tulisannya kembali ditolak.

Yah! Arini adalah seorang penulis yang sampai saat ini tak ada satu pun karyanya yang berhasil di pajang di rak-rak toko buku. Berbagai penolakan sudah banyak ia terima, walau begitu Arini tak pernah sekali pun menyerah. Sampai pada malam ini, penolakan yang sebenarnya sudah biasa bagi Arini, sekarang terasa sangat mengecewakan dan menyakitkan untuknya.

Netra sembabnya pun tak mampu lagi menampung cairan bening itu. Hingga di malam yang sunyi ini, suara isak tangisnya terdengar begitu menyedihkan. Bukan, Arini bukan sedang menangisi kegagalan dirinya. Tapi yang ia tangisi adalah tak ada lagi sosok Ayah yang akan selalu ada di setiap kegagalannya.

“Rin…” Arini yang mendengar panggilan itu refleks menoleh ke arah sumber suara. Dan di sanalah Nayanika berdiri, sahabat Arini sejak Sekolah Menengah Pertama. Di saat para pelayat pamit undur diri, perempuan dengan panggilan Naya ini lebih memilih menginap untuk menemani Arini. Ia berharap dengan kehadirannya Arini tak lagi merasa sendirian.

“Nay…”. Lirih Arini disela tangisnya. Tanpa aba-aba Nayanika langsung memeluk erat Arini sahabatnya.

“Aku udah kehilangan Ibu sejak lahir, dan sekarang aku juga kehilangan Ayah. Ayah adalah hidupku Nay, tak peduli seberapa banyak pun kegagalan asal ada Ayah semuanya akan baik-baik aja. Tapi sekarang? Aku gak tahu seperti apa hidupku setelah ini Nay”.

Nayanika yang mendengar ucapan Arini melonggarkan pelukannya lalu beralih menatap wajah sendu milik Arini. Di kedua mata itu, Nayanika melihat keputus-asaan yang sebelumnya tak pernah ada di sana.

“Aku ada di sini Rin, mungkin aku gak bisa menjamin kamu akan selalu baik-baik aja. Tapi aku bisa pastikan aku akan ada di samping kamu di saat kamu sedang terpuruk sekali pun,” kata Nayanika.

“Kamu harus tetap hidup Rin, Ayahmu juga pasti menginginkan hal itu bukan?,” lanjut Nayanika sambil menyodorkan sebuah buku catatan kecil pada Arini Arini memandang buku itu, dirinya ingat betul kapan ia mendapatkan buku dengan sampulnya yang bertuliskan Tempat Pulang itu. Sebuah buku catatan yang diberikan oleh Ayahnya sebagai kado ulang tahunnya yang ke 17 tahun.

Dengan hitungan detik, buku kecil itu telah berada di tangan Arini. Dan sampailah di mana netranya menemukan tulisan indah Edwin, Ayahnya. Arunikaku, maafkan Ayah yang mungkin tak akan selamanya menjadi pendengar kisah-kisah indah hidupmu. Namun Ayah percaya, walau tanpa Ayah, Arunika akan terus bercerita melalui coretan-coretan penanya.

Arunika, tetaplah bersinar dan beri kehangatan pada semesta. – Ayah yang selalu mencintai putri kecilnya.
Lagi, Arini kembali meneteskan Air matanya. Ayahnya baru saja pergi beberapa jam lalu, namun rasa rindunya sudah amat dalam. Rindu kali ini rasanya begitu sesak. karena ia sadar, jumpa tak lagi menjadi obat dari rindunya.

“Aku temani kamu untuk mewujudkan harapan Ayahmu yah,” ucap Nayanika yang sebelumnya sempat membaca tulisan tersebut.

“Sepertinya menulis bukan jalanku Nay.” Lirih Arini yang kemudian menundukkan pandangannya.

“Setelah banyak hal yang sudah kamu tulis, kamu berpikir itu bukan jalanmu?”

“Tulisanku kembali ditolak!. Ntah ini sudah yang ke berapa, dan aku rasa sudah cukup. Aku hanya membuang-buang waktu jika terus melanjutkannya, ada baiknya aku sadar dan berhenti bukan?”

“Lalu mimpimu dan Om Edwin? kamu gak memikirkan itu?”

“Alasanku menulis adalah Ayah, dan semua yang kutulis adalah hal yang kudapatkan dari Ayah. Lalu setelah kepergiannya, alasan apa lagi yang dapat membuatku untuk terus menulis?”

“Alasannya masih sama Rin, Ayah kamu. Karena yang hilang dari kamu hanyalah raganya, bukan kisah dan kenangannya. Justru melalui tulisan-tulisan itu Ayah kamu akan terus hidup.” Arini hanya diam mendengar apa yang dikatakan sahabatnya.

“Boleh aku pinjam handphonemu?” lanjut Nayanika dengan sebuah pertanyaan. Walau tak mengerti untuk apa, Arini menurut saja. Ia memberikan ponselnya dan membiarkan jari-jari Nayanika bermain di layar ponsel itu.

“Ini, sudah aku buatkan akun blog,” ucap Nayanika sambil memberikan ponsel Arini kembali.

“Blog?”

“Mungkin sekarang memang belum waktunya karya kamu diterbitkan, tapi bukan berarti kamu harus menyerah Rin. Kamu dan tulisan adalah dua hal yang gak bisa dipisahkan. Nah, dengan blog ini kamu bisa terus belajar dan menulis apa pun untuk dibaca semua orang.”

Kedua netra Arini berkaca-kaca mendengar perkataan sahabatnya, Nayanika hadir bukan sekedar menjadi seorang pendengar, tapi juga membawa secercah harapan di ujung keputusasaan.

“Aku rasa yang membuat Ayahmu bangga bukanlah keberhasilanmu saja, melainkan perjuanganmu yang tak pernah berhenti walau ditimpa banyak kegagalan.”

“Kamu benar Nay, gak seharusnya aku nyerah gitu aja. Ayah selalu ingin aku jadi seperti Arunika, yang terus bersinar dengan hangat walau tahu tak semua orang akan datang untuk menyambutnya juga. Maka seharusnya, penolakan tak membuatku berhenti begitu saja, iyakan?

Nayanika mengangguk membenarkan, satu detik selanjutnya mereka saling berpelukan untuk berbagi kekuatan. Yah, malam yang indah ini akan menjadi saksi. Bahwa setelah hari ini, Arini Arunika menolak untuk menyerah.

 

Penulis : Arni Tiani – MAN 4 Cirebon

 

Sobat Milenia yang punya cerita pendek, boleh kirimkan naskahnya ke email [email protected], untuk dibagikan ke Sobat Milenia lainnya.

Jangan sampai ketinggalan info terkini bagi generasi milenial, segera subscribe channel telegram milenianews di t.me/milenianewscom.

Respon (12)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *