Mendidik Anak dengan “Grateful” dan “Happiness”

Pakar pendidikan  Tjutju Herawati MPd menjadi narasumber seminar parenting bertajuk “Grateful and Happiness dalam Pengasuhan Anak” di Balai Sidang 45 Makassar, Jumat (23/2/2024).

Milenianew.com, Makassar— Menjadi orang tua yang sukses adalah dambaan banyak orang. Salah satu kunci suksesnya adalah mendidik anak dengan grateful dan happiness. Hal itu dibahas dalam seminar parenting bertajuk “Grateful and Happiness dalam Pengasuhan Anak” yang menampilkan nara sumber pakar pendidikan  Tjutju Herawati MPd, di Balai Sidang 45 Makassar, Jumat (23/2/2024). Seminar parenting itu diadakan dalam ranga HUT Bosowa Corporindo yang ke-51.

Tjutju Herawati mengawali materinya dengan menjelaskan makna grateful dan happiness.  Grateful artinya bersyukur/ berterima kasih. Yakni,  ungkapan rasa terima kasih atas sesuatu yang baik yang telah diterima. To be grateful adalah  sebuah kata yang muncul pertama kali dalam Bahasa Inggris pada abad ke-13.

Grateful adalah bersyukur atas segala nikmat yang Allah berikan. Bersyukur dengan hati, ucapan, dan perbuatan,” kata Tjutju Herawati dalam rilis yang diterima Milenianews.com.

Pakar pendidikan yang akrab dipanggil Hera itu lalu menjelaskan makna  Happiness. Happiness adalah suatu keadaan emosi positif  yang mencakup perasaan (kegembiraan,  kepuasan, kedamaian, kesenangan). Happiness juga merupakan evaluasi positif terhadap kehidupan seseorang yang melibatkan perasaan bahwa hidup ini berjalan dengan baik dan penuh makna.

Happiness adalah kemampuan untuk mengatasi tantangan dan menghadapi hidup dengan baik, melibatkan resiliensi, optimisme, dan kemampuan untuk menemukan sumber-sumber kebahagiaan bahkan di masa-masa sulit,” ujarnya.

Hera menyebutkan, ada dua jenis kebahagiaan menurut para ahli:

  • Kebahagiaan Sementara (Pleasure): muncul dari aktivitas atau pengalaman menyenangkan (makan makanan yang enak/ menonton film lucu).
  • Kebahagiaan yang lebih dalam dan tahan lama (Well-being): kepuasan hidup secara keseluruhan, makna serta tujuan dalam hidup. Berbahagia dalam setiap langkah kehidupan. Berbahagia dalam setiap tahap perkembangan anak.

Ia menambahkan, ada beberapa faktor happiness. Yakni, genetika, lingkungan, dan aktivitas.

Ia lalu menyebutkan tips untuk meningkatkan happiness.  “Yakni, olahraga teratur, berhubungan dengan orang lain, praktik mindfulness dan gratitude, membantu orang lain, serta mengejar tujuan dan impian,” paparnya.

Lalu, bagaimana tips membangun grateful dan happiness? Berikut langkah-langkahnya:

  • Luangkan waktu bersama.
  • Komunikasi yang terbuka dan jujur.
  • Saling mendukung dan menghargai.
  • Menetapkan tujuan bersama.
  • Menjadi contoh yang baik.
  • Mendorong anak untuk berfikir secara reflektif.
  • Tradisi keluarga yang berfokus pada grateful.
  • Apresiasi terhadap segala keberhasilan anak.

Hera menegaskan, usia 3 tahun pertama adalah periode tahap perkembangan yang paling cepat dari kehidupan anak. “Sejak awal kelahirannya bayi mampu membuat hubungan dengan orang dewasa, membangun kepercayaan dan mengeksplorasi dunia sekitarnya dengan: nutrisi yang seimbang, lingkungan yang appropriate, dan nurturing orang dewasa yang responsive,” kata Hera.

Resiliensi

Dalam kesempatan tersebut, Hera juga menjelaskan tentang resiliensi. Resiliensi  adalah kemampuan untuk mengatasi dan beradaptasi terhadap tantangan atau kesulitan alam hidup; Kemampuan untuk bangkit dan pulih ketika segala sesuatunya tidak berjalan sesuai harapan. “Resiliensi dapat dipelajari dan dikembangkan bahkan oleh orang-orang yang telah mengalami trauma atau kesulitan berat dalam hidup,” ujarnya.

Tips untuk mengembangkan Resiliensi dalam pola asuh keluarga :

  • Memberikan cinta dan kasih sayang
  • Membangun hubungan yang positif
  • Membantu anak untuk mengembangkan keterampilan yang dibutuhkan.
  • Menjadi panutan yang baik.

Togetherness

Di akhir materinya, Hera membahas tentang togethernesss. Togetherness adalah kebersamaan, kesatuan, atau kekompakan. Togetherness juga berarti keadaan atau kualitas kebersamaan baik  secara fisik maupun emosional.

Togetherness, kata Hera,  dapat terjadi dalam berbagai konteks : pribadi, kelompok, maupun masyarakat.

  • Dalam konteks pribadi : dalam keluarga, pertemanan, atau hubungan romantis.
  • Dalam konteks kelompok : organisasi, komunitas, atau tim olahraga.
  • Dalam konteks masyarakat : bangsa, negara, bahkan dunia.

Hera menjabarkan cara untuk meningkatkan togetherness sebagai berikut:

  • Luangkan waktu untuk bersama orang-orang yang anda cintai.
  • Berikan perhatian dan dukungan kepada orang lain.
  • Membantu orang lain yang membutuhkan.
  • Bergabung dalam komunitas yang membuat anda merasa terhubung dengan orang lain.

“Dengan togetherness kita dapat menciptakan dunia yang lebih baik bagi diri kita sendiri dan orang lain,” kata Tjutju Herawati.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *