EconInsight FEB UIII Bedah Mahalnya Biaya Logistik Indonesia

EconInsight Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) menggelar diskusi tentang mahalnya biaya logistik di Indonesia, dengan menampilkan narasumber VP Information Communication and Technology JNE, Andries K. Indrajaya, di FEB UIII, Depok,  pekan lalu.  (Foto: Dok UIII)

Milenianews.com, Depok-   EconInsight Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) membedah mahalnya biaya logistik di Indonesia. Dari tahun ke tahun biaya logistik di Indonesia, menurut  VP Information Communication and Technology JNE, Andries K. Indrajaya, cenderung tidak berubah bahkan termahal di Asia Tenggara. “Biaya logistik kita diperkirakan mencapai 24% dari Produk Domestik Bruto (PDB), ini tertinggi di kawasan. Hampir dua kali lipat dari Malaysia,” papar Andries dalam diskusi di forum EconInsight di FEB UIII, Depok,  pekan lalu.

Diskusi ini dihadiri Dekan FEB UIII, Prof. Dian Masyita; Kaprodi Magister Ilmu Ekonomi, M. Luthfi Hamidi, Ph.D; dan Fajar B. Hirawan, Ph.D, dosen di FEB UIII; serta mahasiswa Program Ilmu Ekonomi baik magister maupun doktoral dan mahasiswa dari Fakultas lain di UIII.

EconInsight adalah platform diskusi mahasiswa FEB UIII dengan mengundang para ahli dari semua kalangan termasuk akademisi, industri, dan regulator.

VP Information Communication and Technology JNE, Andries K. Indrajaya (kiri).

Diskusi regular di EconInsight sebelumnya mengundang Agil Yudawan, Business Development manager, Technip Energies, 29 Maret 2023  dengan bahasan “Energi Terbarukan”  dan pekan  ini mengundang  Naudhy Valdryno, Public Policy Manager META, untuk membahas “Industry social commerce”, Selasa  (4/3/2023).

Saat ini mahasiswa FEB UIII terdiri dari mahasiswa dari luar negeri (40%). Mereka kebanyakan dari negeri-negara berkembang seperti Mesir, Maroko, Yaman, India, Pakistan, Saudi Arabia, dan Nigeria.

Baca Juga: Mahasiswa FEB UIII Siap Bawa Program Maggot ke Tingkat Internasional

Dalam pemaparannya, Andries menjelaskah ihwal tingginya biaya logistik di Indonesia. “Indonesia itu negara kepulauan, jadi biaya logistik sangat besar karena belum meratanya infrastruktur yang sudah dibangun. Di Jawa yang terjangkau sekitar 60%, di Sumatera sekitar 20%, sementara di Kalimantan, baru sekitar 3%,” papar Andries. Sebagai contoh, Andries merujuk bagaimana biaya logistik pengiriman barang ke Kepulauan Seribu. Secara wilayah, Kepulauan Seribu masih dalam wilayah administratif DKI Jakarta. Namun berbeda dengan wilayah daratan DKI, dimana pengiriman untuk paket dikenai biaya Rp 9.000, biaya yang sama tidak masuk untuk Kepulauan Seribu. “Penyebabnya, wilayah itu baru dihubungkan oleh kapal tempel (kapal kecil) dengan muatan terbatas, sehingga biaya transportasinya menjadi lebih mahal,” tutur Andries.

Kiat JNE Bertahan

Dio Darmawan, salah satu mahasiswa FEB UIII menyoal bagaimana JNE bisa bertahan dan bagaimana biaya logistik ke depannya bisa terus diturunkan hingga sampai tingkat ekonomis. JNE saat ini dikenal sebagai perusahaan yang menguasai sekitar 24% dari total pangsa pasar logistik di Indonesia yang totalnya diperkirakan mencapai Rp 500 triliun setahun. JNE memiliki cabang di 83 kota besar dan didukung oleh 8.000 titik gerai dengan kurang lebih 50.000 pegawai.

Menjawab ini, Andries menyarankan perlunya kolaborasi, khususnya untuk industri ritel. “Antar industri logistik dan mitra perlu berkolaborasi sehingga biaya yang ditimbulkan bisa ditekan,” ujarnya.

Selain itu, ia menambahkan,  perlu pemanfaatan excess capacity. Sebagai contoh, banyak perusahaan seperti Indomaret, AlfaMart, Kimia Farma, Pagadaian, yang memiliki tempat penyimpanan (warehouse) yang iddle (nganggur) di titik-titik layanan. “Kalau ini dimanfaatkan, mereka bisa mengenakan biaya lebih murah dibanding biaya komersial yang ada di pasaran. Mereka dapat memanfaatkan tempat yang belum terpakai itu dan imbal pendapatan sesuai perjanjian,”   ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Andries juga menjelaskan strategi bersaing yang dilakukan JNE untuk bisa bertahan. Pertama dengan menerapkan teknologi tepat guna. Misalnya, JNE sudah menggunakan otomatis shorting machine di  mana dalam satu jam, mesin bisa menyortir hingga 40 ribu paket. Sehingga tercipta efisiensi.

Kedua, JNE sudah menggunakan pesawat sendiri. “Kami memiliki dua armada pesawat. Kalau harus pakai armada pesawat komersial, rutenya tidak selalu sesuai dengan pengiriman logistik kita, sehingga sering menunggu yang berujung keterlambatan dan biaya menjadi mahal,”   kata Andries.

Yang terakhir, Andries mendorong mitra JNE apakah itu pesawat, bus, kereta, untuk bisa melakukan sharing excess capacity. “Pesawat komersial itu kalau sudah jamnya berangkat dia akan jalan, padahal mungkin kargo mereka masih lega. Ini kalau bisa dikolaborasikan akan sangat menguntungkan bagi industri logistik,” papar Andries.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *