Dapat Izin Merantau, Nazwa Zikria Ceritakan Dinamika Anak Perempuan dalam Keluarga Strict Parents

perempuan

Milenianews.com – Ponselnya hampir tak pernah benar-benar lepas dari genggaman. Di sela kesibukan kuliah dan rutinitas harian, layar kecil itu selalu menyala, menjadi penghubung antara dirinya dan rumah. Meski jarak telah memisahkan ratusan kilometer, kebiasaan itu tak pernah berubah. Bukan karena takut tersesat, melainkan karena ada sepasang orang tua yang selalu menunggu kabar, setiap hari, tanpa jeda.

Bagi Nazwa Zikria (21), kebebasan bukan sesuatu yang datang begitu saja. Ia tumbuh perlahan, seiring kepercayaan orang tua yang terus ia jaga dan pelan-pelan ia perjuangkan.

Keinginan untuk melanjutkan kuliah ke luar kota, tidak lahir dari rencana besar yang disusun rapi sejak awal. Selepas lulus sekolah, Nazwa justru menghabiskan waktunya dengan bekerja selama kurang lebih satu tahun. Namun, pekerjaan yang tak menetap membuatnya merasa berjalan tanpa arah. Hingga suatu hari, sebuah obrolan sederhana dalam kumpul keluarga membuka pintu kemungkinan baru.

“Waktu itu bingung mau jadi apa, kerja juga nggak tetap. Pas kumpul keluarga dan saudara, ada saran buat coba kuliah, dari situ aku mulai mikir, yaudah coba aja.” ujar Nazwa Zikria, saat di wawancarai pada Kamis (12/2).

Setelah melalui berbagai pertimbangan, Nazwa akhirnya memantapkan diri mendaftar di Universitas PGRI Semarang. Namun, keputusan itu bukan akhir dari kegelisahan. Justru ada satu hal yang terasa jauh lebih rumit, meminta izin orang tua.

Baca juga: Perempuan Gak Bisa Mimpin? Thalita Buktikan Itu Salah, BEM yang Dipimpinnya Dapat Dana Ratusan Juta Untuk Pengembangan Desa Wisata

Di Antara Aturan dan Rasa Takut Orang Tua

Sebagai anak perempuan yang tumbuh dalam keluarga dengan pola asuh ketat, rencana merantau bukanlah kabar yang mudah diterima. Respon orang tuanya bukan penolakan keras, melainkan kecemasan yang terus berulang.

“Namanya anak perempuan, orang tua itu banyak khawatirnya. Mereka sering nanya, ‘yakin kuliah di sana?’ Lebih ke cemas sebenarnya,” tuturnya.

Sejak duduk di bangku SMP, aturan ketat sudah menjadi bagian dari hidup Nazwa. Ia terbiasa dengan batasan, seperti tak boleh pulang malam, tak diizinkan pergi jauh tanpa ditemani, dan harus sangat selektif dalam pergaulan. Dulu, semua itu terasa mengekang. Namun seiring waktu, cara pandangnya mulai berubah.

“Dulu sempat kesel, tapi sekarang aku ngerti itu cara mereka buat jaga aku,” katanya pelan.

Nazwa juga mengaku sempat berada di titik ragu, bahkan hampir mengurungkan niatnya. Melihat orang tua yang tampak berat melepas, ia mempertanyakan kembali keputusannya sendiri.

“Aku sempat mikir, apa nggak usah aja ya,” ucapnya pelan. “Tapi aku juga pengin ngebanggain orang tua, kali aja dari apa yang aku lakuin ini bisa jadi jalan yang baik,” sambungnya. 

Ketakutan terbesarnya bukan soal hidup jauh dari rumah, melainkan kemungkinan mengecewakan orang tua. Oleh karena itu, ketika izin akhirnya diberikan, kebebasan tersebut datang bersama tanggung jawab. Nazwa merasa harus membuktikan bahwa kepercayaan itu tidak salah diberikan.

Ketakutan terbesarnya bukan soal hidup jauh dari rumah, melainkan kemungkinan mengecewakan orang tua. Maka ketika izin akhirnya diberikan, kebebasan itu datang bersamaan dengan tanggung jawab. Ada kepercayaan yang harus dijaga.

“Aku berusaha nunjukin kalau aku bisa tanggung jawab. Mulai dari ngurus berkas sendiri, urusan kuliah aku usahain sendiri, terus rutin ngabarin orang tua,” ujarnya.

Baca juga: Qirā’at QS. Al-Ahzab: 33 dan Ruang Karir Perempuan dalam Perspektif Matan Syatibi

Kebebasan yang Datang Bersama Kepercayaan

Sejak saat itu, komunikasi menjadi semacam ritual wajib. Hampir setiap hari, panggilan video dilakukan tanpa pernah terlewat. Jarak memang memisahkan, tetapi pengawasan tetap hadir dalam bentuk yang lebih halus.

“Namanya juga strict parents,” katanya sambil tertawa kecil.

Menurut Nazwa, sulitnya orang tua memberi kebebasan pada anak perempuan berangkat dari rasa takut. Lingkungan yang dianggap semakin tidak aman, ditambah paparan berita kriminal di media sosial, membuat kekhawatiran itu terus bertambah.

Menurut Nazwa, sulitnya orang tua memberi kebebasan pada anak perempuan berangkat dari rasa takut. Lingkungan yang dianggap semakin tidak aman, ditambah paparan berita kriminal di media sosial, membuat kekhawatiran itu terus bertambah.

“Sekarang kan banyak berita nggak baik di TV atau TikTok, orang tua juga lihat itu. Anak perempuan dianggap lebih rentan, jadi mereka milih ngebatesin daripada ambil risiko, walaupun kadang jadi terasa mengekang,” ujarnya.

Kini, setelah menjalani kehidupan sebagai mahasiswa perantauan, Nazwa menemukan makna baru tentang kebebasan. Baginya, kebebasan bukan tentang pergi tanpa batas, melainkan keberanian mengambil keputusan dan kesiapan menanggung konsekuensinya.

“Kebebasan itu bukan ngelakuin apa aja, tapi bisa ambil keputusan sendiri dan tanggung jawab sama diri sendiri,” katanya.

Ponsel itu masih sering menyala. Pesan tetap rutin dikirim, panggilan masih kerap dilakukan. Namun, di balik semua itu, ada satu hal yang perlahan tumbuh, kepercayaan. Bagi Nazwa, itulah bentuk kebebasan yang paling nyata. Bukan yang datang tiba-tiba, melainkan yang diperjuangkan, dijaga, dan dinegosiasikan setiap hari.

Pada akhirnya, kebebasan bukan soal sejauh apa kaki melangkah, tapi seberapa jauh kepercayaan bisa bertahan meski jarak terus memisahkan.

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *