Belajar “Sharing the Planet” di Sekolah BM 400 Cibubur

Siswa-siswi Primary Years Programme (PYP) Grade 1 Sekolah Bakti Mulya 400  Cibubur memngikuti kegiatan “Sharing the Planet” dengan narasumber dari Divers Clean Action (DCA) —komunitas penyelam yang mendedikasikan diri untuk menjaga kebersihan dan keselamatan laut Indonesia, Rabu (26/11/2025). (Foto: Dok BM 400 Cibubur)

Milenianews.com, Cibubur— Pada Rabu, 26 November 2025, suasana perpustakaan Bakti Mulya 400 School Cibubur tampak berbeda dari biasanya. Rak-rak buku yang tenang menjelma menjadi penanda petualangan baru ketika siswa-siswi Primary Years Programme (PYP) Grade 1 berkumpul menyambut narasumber dari Divers Clean Action (DCA)    https://www.diverscleanaction.org/ —komunitas penyelam yang mendedikasikan diri untuk menjaga kebersihan dan keselamatan laut Indonesia.

Kegiatan yang berlangsung pukul 10.00–12.00 WIB ini menjadi bagian penting dari Unit of Inquiry (UOI) bertema “Sharing the Planet”, sebuah pembelajaran yang mengajak siswa memahami hubungan antara manusia, lingkungan, dan tanggung jawab bersama menjaga keseimbangan alam.

Menurut Slamet Suwanto selaku koordinator PYP Bakti Mulya 400 Cibubur yang menjadi narasumber pendamping, kegiatan ini dirancang agar pengalaman konkret dapat memperdalam pemahaman siswa. “Anak-anak perlu merasakan langsung cerita dari para pelaku di lapangan. Itu membuat pembelajaran lebih bermakna,” ujarnya.

Cerita Nyata dari Dunia Bawah Laut

Sesi dimulai dengan pemaparan foto dan video hasil penyelaman di berbagai perairan Indonesia. Gambar terumbu karang berwarna-warni, penyu yang berenang tenang, dan ikan-ikan kecil yang melintas di antara bebatuan membuat anak-anak terkagum-kagum.

Namun keindahan itu ditingkahi kenyataan pahit. Narasumber menunjukkan foto penyu yang terlilit jaring, karang yang memutih, hingga sampah rumah tangga yang terdampar di kedalaman laut.

Ini rumah mereka,” katanya sembari memperlihatkan foto seekor penyu yang tubuhnya terimpit limbah plastik. “Kalau kita tidak jaga, mereka tidak bisa bertahan,” imbuhnya.

Anak-anak yang sebelumnya ramai tiba-tiba hening. Beberapa terlihat menatap foto lama-lama, seakan membandingkan benda-benda itu dengan keseharian mereka. Momen ini menjadi titik awal munculnya empati yang menjadi inti pembelajaran UOI.

Bagaimana Penyelam Membersihkan Laut?

Setelah sesi pengenalan, siswa diajak memahami bagaimana DCA bekerja. Mereka menyaksikan video para penyelam yang mengangkat sampah dari dasar laut menggunakan jaring besar, memilahnya, hingga mencatat data untuk tujuan riset.

Kami bukan hanya menyelam dan mengambil sampah,” jelas narasumber. “Kami mencatat jenis dan jumlahnya untuk mengetahui pola pencemaran,” tuturnya.

Baca Juga : Heroes’ Day & Parents’ Workshop – “My Family is My Hero” di Sekolah BM 400 Cibubur

Anak-anak juga menyaksikan adegan penyelamatan hewan laut—penyu Bali yang berhasil dibebaskan dari lilitan tali nilon serta ikan pari kecil yang terjebak alat pancing. Wajah siswa tampak bergantian antara kaget dan prihatin.

Perpustakaan berubah menjadi ruang belajar yang hidup, tempat anak-anak mengalami secara langsung bagaimana upaya pelestarian laut dilakukan.

Sesi Tanya Jawab yang Membangun Kesadaran

Bagian paling menarik muncul ketika sesi tanya jawab dimulai. Anak-anak mengangkat tangan bersamaan, mengajukan pertanyaan spontan khas usia PYP Grade 1.

Kenapa lautnya bisa kotor?” tanya seorang siswa.
Karena sampah dari darat terbawa air hujan dan sungai hingga ke laut,” jawab penyelam.

Ikan-ikan kalau rumahnya kotor pergi ke mana?
Ada yang pindah, ada yang mati, karena mereka kehilangan tempat tinggal.

Baca Juga : BM 400 Cibubur: Menumbuhkan Pemimpin Muda yang Berintegritas

Pertanyaan tentang hiu memancing tawa seluruh ruangan. “Apakah penyelam takut hiu?
Hiu tidak berbahaya kalau tidak diganggu. Laut yang rusak justru lebih berbahaya.

Dialog sederhana ini membuat konsep Sharing the Planet menjadi lebih mudah dipahami: manusia, hewan, dan alam saling terhubung. Setiap keputusan membawa pengaruh bagi keseimbangan kehidupan.

Menghubungkan Pembelajaran dengan Aksi Nyata

Usai sesi bersama DCA, guru-guru melanjutkan diskusi di kelas. Anak-anak diajak merenungkan: apa yang bisa mereka lakukan untuk membantu menjaga laut?

Jawaban mereka sederhana namun bermakna:

  • membawa botol minum sendiri,
  • mengurangi sampah plastik,
  • membuang sampah pada tempatnya,
  • mengingatkan keluarga agar menjaga lingkungan.

Menurut Slamet Suwanto, membangun kebiasaan kecil seperti itu adalah fondasi penting dalam pendidikan lingkungan sejak dini. “Anak-anak adalah generasi yang akan mewarisi bumi. Tanggung jawab melindungi laut dimulai dari langkah-langkah kecil yang mereka lakukan hari ini,” ujarnya.

Planet ini adalah rumah bersama, dan setiap orang—termasuk anak-anak—punya peran menjaga keberlanjutan hidup di dalamnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *