Milenianews.com, Jakarta— Asosiasi Yayasan Pendidikan Islam (AYPI) menghadiri undangan Menteri Pendidikan Nadiem Makariem meluncurkan Kuriklum Merdeka di Aula Kemendibudristek Jakarta, Rabu, 27 Maret 2024.
Adapun yang hadir dari AYPI adalah Ketum AYPI H Mirdas Eka Yora Lc., M.Si , Ketua Pembina AYPI HE Afrizal Sinaro dan Sekretaris I AYPI Asnawi Sei.
“AYPI sangat mendukung Kurikulum Merdeka ini yang merupakan sebuah terobosan untuk membangkitkan beragam pitenai anak dan peserta yang begitu beragam dengan beraneka buadaya yang berbeda pula serta lingkungan pembelajaran yang kaya dengan variasi dan diferensiasinya,” kata Mirdas Eka Yora dalam rilis yang diterima Milenianews.com, Kamis (28/3/2024).
Ia menambahkan, hanya perlu dicermati agar pemahaman dan pencerahan sampai ke tingkat akar rumput betul- betul perlu didampingi dan dicermati. “Jangan sampai hanya semagatnya saja yang ditangkap oleh sekolah. Tidak kalah pentingnya adalah esensi Kurikukum Merdeka mesti betul- betul dipahami dan bisa diterapkan,” ujarnya.
Juga, kata Mirdas, agar disiasati jangan terjebak bdngan administrasi yang memberatkan para guru. Praktiknya harus sesuai dengan motto Kurikukum Merdeka , yaitu menjadikan pembelajaran menyenangkan baik buat para peserta didik maupun buat para gurunya.
“Satu lagi hal yang harus ditekankan bahwa pananaman iman dan takwa kepada Tuhan Yang Mahaesa serta akhlak mulia betul- betul menjadi karakter utama yang menjiwai semua inti pembelajaran,” ujar Mirdas.
Tiga Hal Utama
Sebelumnya, Mas Menteri Nadiem Makarim dalam acara peluncuran Kurikulum Merdeka di gedung Aula Kemendikbudristek menjeaskan bahwa hal yang esensial dalam Kurikulum Merdeka adalah bagaimana menjadikan proses pembelajaran menyenangkan.
Ia menyebutkan, ada tiga hal utama yang menonjol dalam Kurikulum Merdeka. Pertama, fokus pada muatan esensial. Dalam hal ini, kurikulum wajib dikurangi sehingga memberi waktu lebih pada pembelajaran yang mendalam, bermakna dan berdiferensiasi. “Kurikulum harus lebih disederhanakan sehingga beban administrasi bisa dikurangi dan fokus guru lebih banyak pada kualitas proses pembelajaran,” kata Mas Menteri Nadiem.
Kedua, fleksibilitas dan kontekstual. “Yaitu pembelajaran bisa disesuaikan dengan konteks karakteristik sekolah serta murid sesuai dengan konteks sosial dan budaya setempat,” ujarnya.
Ketiga, pengembangan karakter. “Yaitu pengembangan kompetensi spiritual, moral, sosial dan emosional dengan tidak hanya berpedoman pada materi pembelajaran tapi juga melalui Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5),” kata Nadiem.
Salah satu hal menarik dalam rilis Kurikulum Merdeka adalah ditampilkannya beberapa sekolah menyajikan praktik baik yang telah dilakukan. Yakni, perwakilan sekolah SDLB Cicendo Bandung , TK Jogya, Sulawesi, Batam, dan SMA Meranti 1 Riau.