Milenianews.com, Bali – Arah pariwisata Bali terus bergerak. Kalau dulu soal ramai-ramai dan destinasi hits, kini fokusnya bergeser ke wellness, retret, dan pengalaman yang lebih tenang serta bermakna. Di tengah perubahan itu, Sanggraloka Ubud mencatat tren menarik di akhir 2025, ketika wisatawan Korea Selatan muncul sebagai pasar utama tamu asing. Pada masa soft-opening, tingkat hunian Sanggraloka Ubud sudah berada di kisaran 65–70 persen, menandakan konsep eco-luxury wellness retreat yang mengedepankan privasi, alam, dan budaya Bali mendapat respons positif dari pasar.
Baca juga: Pulau Jawa Jadi Destinasi Favorit Para Wisatawan di Libur Nataru
Momentum ini sejalan dengan ramainya arus wisata Bali saat Natal dan Tahun Baru 2025/2026. Gubernur Bali I Wayan Koster menyebut jumlah kunjungan wisatawan mancanegara sudah menembus lebih dari 20.000 orang per hari, naik dari sekitar 17.000 kunjungan harian sebelum periode libur akhir tahun. Secara total, Bali mencatat sekitar 6,7 juta kunjungan wisman dari Januari hingga pertengahan Desember 2025, meningkat sekitar 400 ribu dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Menginap di Sanggraloka Ubud dibuat seperti perjalanan healing yang utuh

Berbeda dari konsep menginap biasa, Sanggraloka Ubud merancang alur pengalaman tamu sebagai perjalanan yang berurutan dan saling terhubung. Tamu diajak memulai proses healing lewat Forest Path dan area sungai, dilanjutkan dengan ritual melukat dan sound bath by the river untuk membantu tubuh dan pikiran kembali seimbang. Dari sana, perjalanan berlanjut ke kebun organik, tempat tamu terkoneksi langsung dengan alam melalui proses tanam hingga panen.
Rangkaian pengalaman ini ditutup lewat farm-to-table dining dan cooking class. Di tahap ini, makanan tidak hanya hadir sebagai menu, tapi sebagai cerita dari proses panjang yang sudah dijalani tamu sejak awal. Pendekatan seperti ini terbukti mendorong tamu untuk tinggal lebih lama, datang kembali, sekaligus memperkuat citra Sanggraloka Ubud sebagai destinasi retret yang menawarkan pengalaman, bukan sekadar kamar.
Di akhir 2025, kontribusi wisatawan Korea Selatan di Sanggraloka Ubud tercatat sekitar 28–32 persen dari total tamu asing. Angka ini menunjukkan kuatnya minat pasar Asia terhadap destinasi wellness berbasis alam dan budaya. Karakter wisatawan Korea yang menghargai privasi, suasana tenang, estetika alam, serta pengalaman healing yang emosional dinilai sangat klop dengan lanskap Ubud, vila privat, dan ritual wellness khas Bali yang ditawarkan Sanggraloka Ubud.
Pengelola memilih fokus ke kualitas, bukan sekadar mengejar ramai

General Manager Sanggraloka Ubud, Komang Kariyana, menilai tren ini sebagai sinyal perubahan selera wisatawan. “Tamu sekarang datang dengan ekspektasi yang lebih dalam. Mereka ingin pengalaman yang menenangkan, autentik, dan bermakna. Capaian akhir 2025 jadi validasi arah yang kami pilih. Masuk 2026, fokus kami adalah memperdalam kualitas, bukan mengejar volume,” ujarnya.
Selain wellness, Sanggraloka Ubud juga memperluas segmen lewat fasilitas family-friendly dan celebration-ready, mulai dari kids playground, wedding chapel, hingga ruang budaya. Meski begitu, pengembangan ini tetap dijaga agar tidak menghilangkan karakter utama Sanggraloka Ubud sebagai retret yang tenang dan privat.
Prospek pariwisata 2026 dinilai masih cerah untuk destinasi berbasis kualitas
Memasuki 2026, industri pariwisata diproyeksikan tetap bertumbuh. Pemerintah menargetkan 16–17,6 juta kunjungan wisatawan mancanegara dan 1,18 miliar perjalanan wisatawan nusantara, sejalan dengan arah quality tourism dan minat khusus. Pemulihan perjalanan lintas negara di kawasan Asia Pasifik juga memperkuat posisi destinasi yang menggabungkan alam, budaya, dan wellness.
Pengembangan 2026 diarahkan ke pengalaman dan keberlanjutan

Untuk menyambut 2026, Sanggraloka Ubud menyiapkan sejumlah pengembangan fasilitas dan pengalaman baru, mulai dari rencana pembangunan Wellness Pavilion untuk yoga dan breathwork, pengembangan Forest Path sebagai ruang kontemplatif, hingga Art & Craft Studio untuk kolaborasi dengan perajin dan seniman lokal. Seluruh pengembangan dirancang bertahap dengan prinsip keberlanjutan dan kepedulian terhadap lingkungan.
Baca juga: Yogyakarta Bersiap Sambut Lonjakan Wisatawan Nataru 2025/2026
Dengan fondasi okupansi akhir 2025 yang solid, tren wisata Bali yang menguat, serta strategi pengembangan yang terukur, Sanggraloka Ubud memasuki 2026 sebagai luxury wellness retreat yang siap memperkuat posisinya di peta pariwisata berkelanjutan Bali.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.







