Milenianews, Jakarta – Organisasi Pendidikan, Keilmuan dan Kebudayaan PBB (UNESCO) menerbitkan laporan yang menyoroti tekanan yang dihadapi jurnalis dalam melaporkan krisis lingkungan global. Hal tersebut, menurut keterangan tertulis Pusat Informasi PBB (UNIC) yang dikutip Milenianews, Selasa (7/5) di Jakarta.
Selain itu, laporan yang diterbitkan tersebut bertepatan dengan Hari Kebebasan Pers Sedunia yang mengungkapkan bahwa lebih dari 70 persen jurnalis telah mengalami serangan, ancaman, atau tekanan dalam meliput topik tersebut.
Data UNESCO itu juga menggarisbawahi pentingnya peran jurnalistik dalam menginformasikan publik mengenai dampak nyata dari krisis lingkungan, termasuk perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati dan polusi.
Baca juga: Media Sosial Merajalela, Peran Pers Terganti?
Tekanan jurnalis yang meliput krisis lingkungan
Menurut UNESCO, sebanyak 44 jurnalis yang melaporkan isu lingkungan hidup telah dibunuh dalam 15 tahun terakhir. Dengan hanya lima kasus yang berujung pada hukuman, serta setidaknya 24 jurnalis selamat dari percobaan pembunuhan.
Di samping itu, survei pun telah dilakukan oleh UNESCO dan Federasi Jurnalis Internasional (IFJ) dengan menerima tanggapan lebih dari 900 jurnalis, 41 persen diantaranya perempuan, dari 129 negara. Pembagian kawasan tersebut meliputi Afrika 43 persen, Asia-Pasifik 19 persen, Amerika Latin-Karibia 16 persen, Eropa-Amerika Utara 14 persen, serta negara-negara Arab 8 persen.
Dari survei tersebut, UNESCO menemukan bahwa lebih dari 70 persen jurnalis yang mengikuti survei, melaporkan dirinya telah mengalami serangan, ancaman atau tekanan saat meliput isu lingkungan.
Kasus kekerasan yang menimpa jurnalis dalam laporan UNESCO
Disebutkan pula bahwa 60 persen jurnalis terindikasi menjadi korban pelecehan secara daring, 41 persen mengalami serangan fisik, Sedangkan seperempatnya mengatakan bahwa mereka dituntut secara hukum. Di samping itu, 75 persen lainnya mengatakan hal-hal tersebut berdampak pada kesehatan mental mereka.
Hampir separuh jurnalis melaporkan telah melakukan praktik sensor mandiri. Dengan mengatakan bahwa hal tersebut didorong oleh ketakutan akan potensi serangan, narasumber terkena bahaya, ataupun kesadaran bahwa liputan isu lingkungan hidup mungkin bertentangan dengan kepentingan pemberi kerja atau pemasang iklan.
Baca juga: Mimpi Jadi Jurnalis? Ini Dia 5 Cara untuk Wujudkannya!
UNESCO juga melaporkan bahwa lebih dari 80 persen jurnalis perempuan telah melaporkan menjadi korban. Laporan tersebut meliputi serangan saat meliput isu lingkungan, hingga menerima ancaman psikologis atau tekanan.
Dari seluruh jurnalis yang melaporkan menjadi korban setidaknya satu serangan, jurnalis perempuan mengatakan bahwa mereka lebih sering mengalami serangan digital. Hal tersebut lebih banyak dibandingkan laki-laki yang berjumlah 62 persen.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube Milenianews.