Milenianews.com, Jakarta – NUDC (National University Debating Championship) merupakan kegiatan debat terbesar antar Perguruan Tinggi di Indonesia. Kegiatan ini telah berlangsung sejak tahun 2008 dan setiap tahunnya menghasilkan delegasi Indonesia untuk menuju World Universities Debating Championship (WUDC) untuk mewakili Indonesia.
Baca juga : Keseruan Awarding Ceremony, Acara Puncak Rangkaian HUT BSI ke-34
NUDC menjadi gelaran kompetisi di bawah naungan Dikti (Direktorat Perguruan Tinggi). Tahun ini, telah berlangsung pada 6-7 Mei 2023. Terdapat dua mahasiswa terpilih dari Universitas BSI (Bina Sarana Informatika) yakni M. Taufan Dwi Utomo L & Nanang Adi Pratama. Mereka berasal dari prodi yang berbeda, Taufan dari Prodi Ilmu Komunikasi. Sedangkan rekannya Nanang dari Prodi Sastra Inggris.
Untuk menjalani kompetisi debat ini, keduanya selalu melakukan persiapan demi persiapan yang sangat matang.
Dalam pelaksanaannya, NUDC berlangsung selama dua hari dengan menghadirkan tiga ronde setiap harinya. Total ada 6 ronde yang harus Taufan dan Nanang ikuti dalam NUDC ini.
Tim dari Universitas BSI berhadapan dengan Universitas Pakuan, Universitas Nusa Putra, Universitas Budhi Darma, Universiats Budi Luhur, STT NIIT dan Universitas Pelita Harapan, di setiap rondenya. Akan tetapi, kali ini tim debat Universitas BSI masih belum bisa meraih hasil maksimal.
Meski demikian, Taufan mengaku sudah melakukan yang terbaik dan berusaha semaksimal mungkin dalam gelaran NUDC tahun ini.
“Kami telah melakukannya dengan sangat baik, optimis, dan benar-benar melakukan apa yang kami bisa. Namun, kami akan mencoba di lain kesempatan kembali. Kami yakin, bukan berarti kami kalah dalam sebuah kompetisi karena kami jelek. Tapi Tuhan ingin kami berlatih, bereksplorasi, dan lebih aktif lagi,” kata Taufan.
Baca juga : Universitas Nusa Mandiri Gelar Lomba Debat Mahasiswa
Sementara itu, Yanti Rosalinah, sebagai adjudicator pada kompetisi NUDC mendukung perjuangan Taufan dan Nanang, dalam kompetisi kali ini.
“Tidak apa mereka (Taufan dan Nanang) belum bisa membuahkan hasil yang gemilang, namun ini hanyalah sebuah permainan akademik, menang atau kalah merupakan hal biasa. At least, keduanya telah berani dan terpanggil jiwanya dalam mencoba kemampuan lingua-nya untuk mempertahankan argumen, menangkis, menginterupsi, dan sebagainya,” papar Yanti.
Jangan sampai ketinggalan info terkini bagi generasi milenial, segera subscribe channel telegram milenianews di t.me/milenianewscom.













