Milenianews.com, Bondowoso– Baitul Maal Hidayatullah (BMH) kembali memperkuat komitmennya dalam pengelolaan dana umat melalui peresmian sumur bor titik ke-250 di Jawa Timur. Program ini direalisasikan di Pondok Pesantren Ra’iyatul Husnan, Dusun Wringin Pasar, Kecamatan Wringin, Kabupaten Bondowoso.
Sebanyak kurang lebih 1.200 penerima manfaat, yang terdiri dari santri dan tamu umum pesantren, kini memperoleh akses air bersih yang lebih stabil dan memadai. Sebelumnya, pesantren mengandalkan sumur dengan debit terbatas, sehingga kebutuhan air kerap tidak terpenuhi, terutama saat jumlah santri meningkat atau aktivitas padat.
Hadirnya sumur bor baru ini secara langsung meningkatkan ketersediaan air untuk kebutuhan harian, mulai dari mandi, wudhu, memasak, hingga sanitasi lingkungan. Aktivitas belajar dan ibadah kini berjalan lebih optimal tanpa kekhawatiran kekurangan air.

Pengasuh pesantren, Khoirur Rofiqi, menyampaikan apresiasi atas terealisasinya program tersebut.
“Alhamdulillah, ini adalah nikmat besar bagi kami. Kebutuhan air santri kini lebih tercukupi. Semoga menjadi amal jariyah bagi para donatur,” ujarnya.
Salah satu santri, Fahmi Hasanul Farid, turut merasakan perubahan signifikan. “Sekarang airnya lebih lancar dan bersih. Kami tidak lagi kesulitan saat mandi dan berwudhu,” katanya.

Kepala Divisi Program dan Pendayagunaan BMH Jawa Timur, Imam Muslim, menegaskan bahwa capaian titik ke-250 bukan sekadar angka statistik, melainkan indikator konsistensi lembaga dalam menghadirkan solusi nyata.
“Sumur bor ke-250 ini adalah bukti komitmen kami. Air bersih merupakan kebutuhan dasar yang berpengaruh langsung terhadap kesehatan, kenyamanan, dan kualitas pendidikan,” jelasnya pada Kamis (19/2/2026).
Baca Juga : Sumur Bor Ke-247 BMH Mengalir di Gresik, Air Bersih Perkuat Kesehatan 250 Jiwa Pesantren Tholaburridho
Program ini menjadi wujud konkret transformasi dana umat menjadi manfaat berkelanjutan. Dengan terpenuhinya kebutuhan air bersih bagi sekitar 1.200 penerima manfaat, standar kebersihan dan kesehatan lingkungan pesantren meningkat, sekaligus memperkuat ekosistem pendidikan yang lebih layak dan produktif.
Di banyak tempat, air adalah kebutuhan dasar. Di pesantren ini, ia juga menjadi fondasi keberlangsungan pendidikan 1.200 generasi penerus.











