News  

Ramadhan Penuh Makna: BMH Kuatkan 216 Dai dan Guru Ngaji Hingga Pulau Terluar

BMH menyalurkan Program Bingkisan untuk 216 dai, santri tahfidz, dan guru ngaji rumah Qur’an di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. (Foto: Dok BMH)

Milenianews.com, Redeb– Ada jalan-jalan sunyi yang jarang kita pikirkan saat Ramadhan tiba. Jalan itu dilalui para dai, guru ngaji, dan santri tahfidz yang setiap hari menjaga ayat-ayat Allah tetap hidup di tengah masyarakat. Mereka tidak sekadar mengajar. Mereka menanam nilai, membangun akhlak, dan menguatkan arah hidup umat.

Ramadhan tahun ini, amanah donatur BMH bergerak menyusuri daratan dan membelah lautan di Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur. Program Bingkisan untuk 216 dai, santri tahfidz, dan guru ngaji rumah Qur’an menjadi bukti bahwa kepedulian tidak berhenti di kota. Dari Tanjung Redeb hingga Pulau Maratua, dari Pulau Derawan hingga Biduk-Biduk, tim BMH menempuh perjalanan pada 20–25 Februari 2026 agar amanah benar-benar sampai kepada para penjaga Al-Qur’an di pelosok.

Perjalanan itu bukan sekadar distribusi logistik. Ia adalah pesan kuat bahwa dakwah di daerah terpencil tidak boleh berjalan sendiri.

Baca  Juga : Komitmen Nyata BMH, Sumur Bor Ke-253 Perkuat Fasilitas Pesantren Almasyitoh

Baju kurta dan jubah yang dikemas rapi lalu diberangkatkan ke berbagai titik seperti Kampung Pegat Batumbuk, Talisayan, dan Kampung Bumi Jaya bukan hanya pakaian baru. Ia adalah simbol dukungan. Simbol bahwa para dai dan santri dihargai, diperhatikan, dan dikuatkan.

Ustadz Faiz, pengurus Ponpes Daarul Huffadz Tanjung Batu, menyampaikan rasa syukur atas perhatian tersebut. “Alhamdulillah para santri sangat gembira dapat jubah baru bingkisan dari BMH. Kami mengucapkan terima kasih kepada BMH dan para donatur. Semoga berkah untuk kita semua,” ujarnya.

Kebahagiaan itu sederhana, tetapi maknanya dalam. Santri yang tersenyum bukan hanya karena menerima pakaian baru, melainkan karena merasa perjuangan mereka menghafal dan mengajarkan Al-Qur’an mendapat dukungan.

Kepala Unit Layanan BMH Berau, Sabliansyah, menegaskan bahwa program ini adalah jembatan antara kepedulian donatur dan keberlangsungan dakwah. “Kami berterima kasih kepada para donatur yang terlibat dalam program bingkisan ini. Semoga zakat dan infak yang ditunaikan Allah bersihkan hartanya dan menghadirkan ketenteraman bagi para muzakki,” ungkapnya.

Dai dan guru ngaji memegang peran strategis dalam membentuk generasi. Mereka hadir di masjid-masjid kecil, di rumah-rumah Quran sederhana, di pulau-pulau yang jauh dari hiruk pikuk kota. Mereka mendidik anak-anak membaca Al-Qur’an, membimbing masyarakat memahami agama, dan menjaga moralitas sosial tetap tegak.

Baca Juga : BMH Resmikan Sumur Bor Ke-252 untuk 300 Santri Pesantren di Kediri

Namun, dakwah membutuhkan keberlangsungan. Para pengembannya memerlukan dukungan agar bisa fokus menjalankan amanah. Di sinilah zakat, infak, dan sedekah menemukan maknanya yang nyata. Setiap kontribusi bukan hanya membantu kebutuhan personal para dai dan santri, tetapi juga menjaga kesinambungan kebaikan di tengah umat.

Ramadhan adalah momentum terbaik untuk memperluas dampak itu. Ketika donatur berbagi, mereka tidak sekadar menyalurkan harta. Mereka ikut menggerakkan dakwah, menguatkan guru ngaji, dan menopang para penghafal Al-Qur’an di pelosok negeri.

Bingkisan itu mungkin sederhana secara bentuk. Namun secara makna, ia adalah energi. Energi untuk terus mengajar, terus membina, dan terus menyalakan cahaya Al-Qur’an hingga ke tepian negeri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *