Milenianews.com – Krisis Populasi di Jepang menyebabkan salah satu Sekolah Menengah di Jepang akan tutup karena terakhir hanya meluluskan dua murid terakhirnya. Sekolah tersebut adalah SMP Yumoto yang terletak di bagian pegunungan Jepang Utara. Sekolah tersebut dipastikan akan tutup permanen usai meluluskan 2 murid terakhirnya.
Melansir dari JapanToday (3/4), Eita Sato dan Aoi Hoshi menjadi spesial karena acara kali ini menjadi acara terakhir setelah 76 tahun sekolah itu berdiri.
“Kami mendengar desas-desus tentang penutupan sekolah di tahun kedua kami, tetapi saya tidak membayangkan itu akan benar-benar terjadi. Saya terkejut,” kata Eita.
Baca Juga : Budaya Jepang Yang Jarang Orang Ketahui
Krisis populasi di Jepang
Tingkat kelahiran di Jepang anjlok lebih cepat dari yang diperkirakan, hal ini menjadi salah satu alasan mengapa sekolah mulai tutup. Di pedesaan Ten-ei, daerah yang terletak di area ski pegunungan di prefektur Fukushima sangat merasakan bagaimana krisis depopulasi.
Masalah angka kelahiran yang terus jatuh ini memang adalah salah satu masalah regional Asia. Karena biaya membesarkan anak yang tinggi, menjadi penyebab pengurangan angka kelahiran termasuk di negara tetangga. China dan Korea Selatan juga mengalami hal yang sama, namun Jepang sudah sangat krisis.
Langkah Jepang melawan depopulasi
Perdana Menteri Jepang, Fumio Kishida telah menjanjikan suatu langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya. Untuk meningkatkan angka kelahiran, jepang menggandakan anggaran untuk kebijakan terkait anak dan meningkatkan standar keamanan lingkungan pendidikan.
Namun, dari langkah itu hanya sedikit yang membantu. Kelahiran masih anjlok di bawah 800.000 pada tahun 2022. Hal ini menjadi rekor baru, karena delapan tahun lebih cepat dari perkiraan pemerintah. Sehingga, hal tersebut menjadi masalah yang serius, terutama untuk sekolah kecil yang berada di jantung kota desa.
Baca Juga: Okazaki Momoko Jadi Member Baru Babymetal
Sekitar 450 sekolah tutup tiap tahunnya
Sekitar 450 tutup setiap tahun, menurut data pemerintah. Antara tahun 2002 dan 2020, hampir 9.000 menutup pintu mereka selamanya, sehingga sulit bagi daerah terpencil untuk memikat penduduk baru dan lebih muda.
“Saya khawatir orang-orang tidak akan menganggap daerah ini sebagai tempat pindah untuk memulai sebuah keluarga jika tidak ada sekolah menengah pertama,” kata Masumi, ibu Eita, juga lulusan Yumoto.
Jangan sampai ketinggalan info terkini bagi generasi milenial, segera subscribe channel telegram milenianews di t.me/milenianewscom.