News  

Kitab “Tanbīhul Ghāfilīn”:  Ini Lima Penyebab Ilmu tidak Bermanfaat

Ustadz H. Syahruddin El-Fikri S.Ag. (Foto: Istimewa)

Milenianews.com, Jakarta– Ilmu merupakan salah satu nikmat terbesar yang Allah SWT berikan kepada manusia. “Ilmu yang bermanfaat semestinya melahirkan rasa syukur, memperbaiki akhlak, mendorong seseorang meninggalkan dosa, dan membuatnya semakin dekat kepada Allah SWT. Namun, tidak semua ilmu yang dipelajari mampu memberikan manfaat bagi pemiliknya,” kata Ustadz H. Syahruddin El-Fikri S.Ag, Senin (10/8/2026).

Ia lalu  mengutip   kitab Tanbīhul Ghāfilīn, karya Imam Abu Laits as-Samarqandi, yang  mengupas lima perkara yang menyebabkan seseorang tidak mendapatkan manfaat dari ilmu yang telah dipelajarinya.

Pertama,  tidak bersyukur atas nikmat Allah.

أَوَّلُهَا: قَدْ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ فَلَمْ تَشْكُرُوهُ

“Pertama, Allah telah memberikan nikmat kepada kalian, tetapi kalian tidak mensyukurinya.”

“Ilmu pada hakikatnya adalah nikmat Allah SWT. Seseorang yang memperoleh kesempatan belajar semestinya semakin menyadari kebesaran dan kemurahan Allah. Karena itu, ilmu seharusnya melahirkan rasa syukur, bukan kesombongan. Semakin banyak ilmu yang dimiliki, semakin besar pula kesadaran bahwa manusia tetap memiliki keterbatasan. Ilmu yang membuat seseorang semakin rendah hati dan pandai bersyukur adalah tanda ilmu tersebut memberikan manfaat,” kaat Ustadz Syahruddin.

Kedua, tidak beristighfar ketika berbuat dosa.وَالثَّانِي: إِذَا أَذْنَبْتُمْ فَلَمْ تَسْتَغْفِرُوهُ

“Kedua, ketika kalian berbuat dosa, kalian tidak memohon ampun kepada-Nya.”

“Manusia tidak pernah luput dari kesalahan. Namun, orang yang berilmu seharusnya lebih cepat menyadari kesalahannya dan segera kembali kepada Allah SWT. Istighfar bukan sekadar ucapan di lisan. Istighfar semestinya disertai penyesalan, meninggalkan dosa, dan tekad untuk tidak mengulanginya. Ilmu yang benar akan membuat seseorang semakin peka terhadap dosa dan semakin membutuhkan ampunan Allah,” ujarnya.

  1. Tidak mengamalkan ilmu.

وَالثَّالِثُ: لَمْ تَعْمَلُوا بِمَا عَلِمْتُمْ مِنَ الْعِلْمِ

“Ketiga, kalian tidak mengamalkan ilmu yang telah kalian ketahui.”

“Inilah salah satu persoalan terbesar dalam perjalanan mencari ilmu. Seseorang bisa mengetahui banyak hal, tetapi pengetahuannya tidak mengubah perilakunya. Ia mengetahui keutamaan sedekah, tetapi tidak bersedekah. Selain itu, ia mengetahui pentingnya menjaga lisan, tetapi masih suka mencela. Kemudian lainnya, ia mengetahui kewajiban salat, tetapi masih meremehkannya. Ilmu semestinya bergerak dari pikiran menuju hati, kemudian diwujudkan melalui perbuatan,” kata Ustadz Syahruddin.

  1. Berteman dengan orang saleh, tetapi tidak meneladaninya.

وَالرَّابِعُ: صَاحَبْتُمُ الْأَخْيَارَ وَلَمْ تَقْتَدُوا بِهِمْ

“Keempat, kalian berteman dengan orang-orang baik, tetapi tidak mengikuti keteladanan mereka.”

“Bergaul dengan orang saleh merupakan kesempatan untuk belajar bukan hanya melalui ucapan, tetapi juga melalui perilaku. Kita dapat melihat bagaimana mereka menjaga salat, menghormati orang tua, menjaga lisan, bersabar menghadapi ujian, dan tetap rendah hati ketika mendapatkan keberhasilan. Namun, kedekatan dengan orang-orang baik tidak otomatis membuat seseorang menjadi baik. Yang terpenting adalah mengambil keteladanan dari mereka,” ujarnya.

  1. Menguburkan orang yang meninggal, tetapi tidak mengambil Pelajaran.

وَالْخَامِسُ: دَفَنْتُمُ الْأَمْوَاتَ فَلَمْ تَعْتَبِرُوا بِهِمْ

“Kelima, kalian menguburkan orang-orang yang meninggal, tetapi tidak mengambil pelajaran dari mereka.”

“Kematian adalah guru yang selalu hadir di tengah kehidupan manusia. Setiap kali mengantar jenazah ke pemakaman, sesungguhnya kita sedang menyaksikan perjalanan yang suatu saat juga akan kita jalani. Karena itu, menghadiri pemakaman seharusnya tidak berhenti pada prosesi menguburkan jenazah. Kita perlu bertanya kepada diri sendiri, sudahkah kita mempersiapkan bekal untuk kehidupan setelah kematian?,” kata Ustadz H.  Syahruddin El-Fikri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *