Milenianews.com, Jakarta – Keberhasilan Dosen UGM ciptakan aplikasi penanganan henti jantung sangat membantu penderita penyakit jantung. Menurut laporan dari Global Burden of Disease dan Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) 2014-2019, penyakit jantung merupakan penyebab kematian tertinggi di Indonesia.
Di samping itu, biaya yang harus keluar untuk mengobati penyakit ini merupakan yang tertinggi daripada penyakit lainnya. Tak tanggung-tanggung, biaya pengobatannya bisa mencapai Rp7,7 triliun.
Pemicu penyakit jantung sendiri dapat dari berbagai faktor, salah satunya yakni karena gaya hidup yang tidak sehat. Penyakit pemicu tersebut di antaranya, diabetes mellitus, hipertensi, obesitas, dislipidemia (gangguan lemak), serta stres fisik dan psikis.
Baca juga : Rutin Makan Sayuran Hijau bisa Bantu Jaga Kesehatan Jantung
Aplikasi Penanganan Henti Jantung
Mengingat tingginya angka kematian akibat penyakit jantung, Tim Pengabdian Masyarakat dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) telah meluncurkan aplikasi bernama “Satu Jantung” yang bertujuan untuk membantu penanganan kasus henti jantung dan serangan jantung.
Berawal dari pengalaman
Berdirinya aplikasi SatuJantung ini oleh Nurkholis, seorang dosen FKKMK UGM dan seorang dokter. Tidak hanya seorang diri, namun juga bersama istrinya, Beta Ahlam Gizela. Mereka terinspirasi untuk membuat aplikasi tersebut setelah mengalami pengalaman ketika putra mereka mengalami serangan jantung mendadak.
“Petugas yang menangani anak saya waktu itu berkata bahwa kalau bukan karena orang tuanya dokter, mungkin putra saya tidak akan selamat,” terang Nurkholis pada laman UGM, dikutip Jumat (9/6).
Kejadian tersebut mendorong Nurkholis dan istri untuk menciptakan sebuah platform yang dapat membantu banyak orang saat terjadi serangan jantung di tempat-tempat di mana tidak ada petugas kesehatan yang tersedia.
Fitur aplikasi SatuJantung
Aplikasi SatuJantung memiliki fitur utama berupa alarm yang dapat aktif hanya dengan satu kali klik. Alarm ini khusus untuk pasien yang mengalami serangan jantung atau henti jantung. Selain itu, aplikasi ini juga memiliki fitur yang menggabungkan panduan untuk melakukan pijat jantung oleh para penyelamat.
Nurkholis sebelumnya telah melakukan penelitian mengenai pasien yang mengalami henti jantung. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa hanya sekitar 10 dari 100 pasien yang berhasil selamat setelah mendapatkan pijat jantung sebagai pertolongan pertama.
Baca juga : Ternyata, Makan Tahu Bisa Kurangi Risiko Penyakit Jantung Lho!
Meskipun demikian, hal tersebut tidak menghentikan Nurkholis untuk tetap mengembangkan aplikasi ini. Menurutnya, melakukan pijat jantung dapat meningkatkan peluang keselamatan pasien hingga tiga kali lipat daripada tidak mendapatkan pertolongan sama sekali.
Sosialisasikan Penanganan Kasus Henti Jantung
Saat ini, Nurkholis sedang aktif dalam melakukan sosialisasi tentang aplikasi SatuJantung dan teknik pijat jantung kepada masyarakat umum. Bersama tim yang terlibat dalam pengembangan aplikasi SatuJantung, Nurkholis bekerja sama dengan Perkumpulan Sinergi Sehat Indonesia dan Relawan Driver Gojek untuk menyelenggarakan talkshow dan pelatihan mengenai penanganan kasus henti jantung.
Menurut Rusyad Adi Suriyanto, seorang dosen di Departemen Ilmu Forensik dan Medikolegal FK-KMK UGM, penting bagi sekitar untuk peduli ketika seseorang mengalami serangan jantung. Pernyataan ini berdasarkan pada pengalaman pribadi Rusyad yang pernah mengalami kasus serupa.
“Kepedulian ini yang akan menjadi dasar diciptakannya Aplikasi SatuJantung,” ucapnya.
Baca juga : Satu Sehat Mobile, Terintegrasi dengan Data Rekam Medis, RS, Hinggga BPJS Kesehatan
Melalui pelatihan ini, tim yang terlibat dalam pengembangan aplikasi SatuJantung berharap dapat memberikan pengalaman dan keterampilan baru kepada masyarakat dalam memberikan pertolongan kepada penderita serangan jantung.
Jangan sampai ketinggalan info terkini bagi generasi milenial, segera subscribe channel telegram milenianews di t.me/milenianewscom.