News  

Kajian Ramadhan Hidayatullah Depok: KH Hamim Thohari Jelaskan Empat Indikator Orang Bertakwa

Pesantren Hidayatullah Depok menggelar Kajian Ramadhan dengan narasumber Ketua Pembina Pesantren Hidayatullah Depok, KH. Hamim Thohari dan moderator  Mas Imam Nawawi, di Masjid Ummul Qura, Ahad, 15 Maret 2026. (Foto: Dok Hidayatullah)

Milenianews.com, Depok– Ramadhan selalu menghadirkan ruang perenungan bagi setiap Muslim untuk menilai kembali kualitas dirinya. Dalam suasana itulah, kajian-kajian keislaman menjadi penting, bukan sekadar menambah pengetahuan, tetapi juga menguatkan kesadaran tentang bagaimana seharusnya hidup dijalani dengan nilai takwa.

Setiap Sabtu dan Ahad,  Pesantren Hidayatullah Depok menggelar Kajian Ramadhan. Kali ini, Ahad, 15 Maret 2026, kegiatan menghadirkan Ketua Pembina Pesantren Hidayatullah Depok, KH. Hamim Thohari sebagai narasumber yang dimoderatori oleh tokoh literasi Hidayatullah, Mas Imam Nawawi, di Masjid Ummul Qura.

Dalam paparannya, pria murah senyum itu menegaskan pentingnya empat indikator utama orang yang bertakwa, yang mengacu pada kandungan ayat ke-133 sampai ayat ke-136 Surah Ali Imran.

“Pertama, orang yang bertakwa itu punya kecerdasan finansial. Ia pandai mencari rezeki juga pandai membelanjakannya di jalan Allah,” tegasnya.

Lebih lanjut, Ketua Pimpinan Majelis Syura Hidayatullah itu menguatkan bahwa jangan sampai ada kader atau umat Islam yang tidak pandai mencari rezeki.

“Tidak boleh ada kader dan umat Islam yang tidak punya skill, sehingga tidak pandai mencari rezeki, termasuk tidak pandai membagikannya di jalan kemaslahatan,” imbuhnya.

Sikap orang bertakwa, katanya lagi, selalu pandai mencari dan pandai membaginya di jalan Allah.

“Jangan sampai pandai mencari rezeki, tapi kemudian tidak membelanjakannya di jalan Allah. Hidup menjadi bermegah-megahan, itu tidak cerdas finansial namanya,” ulasnya.

Baca Juga : Panitia Bersama Syiar Ramadhan Pesantren Hidayatullah Surabaya Gelar Silaturahim dan Buka Puasa Bersama Tokoh Masyarakat

Selanjutnya, kolumnis Majalah Hidayatullah itu menerangkan bahwa kader harus punya kecerdasan emosional.

“Kedua, kecerdasan emosional. Ramadhan mesti mengasah kemampuan kita dalam hal pandai mengendalikan emosi. Tidak mudah marah. Namun perlu kita tekankan, emosi itu bukan sebatas marah. Tetapi apapun yang berlebih-lebihan dalam diri. Sedih berlebih-lebihan, berani berlebih-lebihan, bahkan senang berlebih-lebihan, itu adalah emosi yang harus kita kendalikan,” paparnya.

“Orang boleh berpikir keras, sampai botak, tapi jangan emosi. Orang boleh main hobinya, seperti badminton dengan sebaik-baiknya, tapi jangan ambisi menghitung-hitung untuk selalu tampil menang. Karena semua emosi yang tidak kita kendalikan itu mengarah pada stroke,” jelasnya.

Selanjutnya, KH Hamim menegaskan tentang kecerdasan sosial. “Ini orang yang selalu bisa dan sadar, mau memberi maaf atas kesalahan-kesalahan orang lain. Para ibu, para istri, akan sehat dan baik rumah tangganya kalau bisa memberi maaf kepada suaminya,” ucapnya yang disambut tawa hadirin.

Terakhir, ia menegaskan pentingnya kecerdasan spiritual. “Tidak ada orang hidup tanpa dosa. Tapi orang yang takwa, kalau ia melakukan dosa atau kezaliman, ia segera sadar dengan mengingat Allah SWT,” ucapnya.

Kajian Ramadhan ini mengingatkan bahwa takwa bukan sekadar konsep spiritual yang abstrak. Ia hadir dalam bentuk kemampuan mengelola rezeki, mengendalikan emosi, memaafkan sesama, dan segera kembali kepada Allah ketika tergelincir dalam kesalahan.

Dari Masjid Ummul Qura pagi itu, satu pesan penting kembali menguat: Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi tentang membentuk manusia yang utuh—cerdas dalam hidup, lembut dalam hati, dan selalu dekat dengan Allah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *