Milenianews.com, Jakarta – Ada-ada saja gebrakan dari pemerintah pusat yang bikin rakyat, pengamat, hingga tukang bangunan di pelosok desa mendadak garuk-garuk kepala. Belum kelar urusan perut dengan harga beras yang naik-turun bak roller coaster, atau urusan kesehatan dengan BPJS yang kadang bikin senam jantung, kini muncul wacana baru yang cukup “out of the box”, yaitu Gentengisasi.
Ya, kamu tidak salah baca. Presiden Prabowo Subianto, dalam Rapat Koordinasi Nasional Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah di Sentul, Bogor, pada Senin (2/2), melontarkan ide untuk mengganti atap seng rumah-rumah warga dengan genteng. Alasannya terdengar sangat pragmatis dan estetis, “Atap seng itu panas, mudah berkarat, dan bikin pemandangan jadi kurang sedap.”
Bagi sang Presiden, rumah yang layak huni dan indah adalah bagian dari “Gerakan Indonesia ASRI” (Aman, Sehat, Resik, Indah). Namun, bagi rakyat jelata dan para pakar, ide ini memancing perdebatan seru. Apakah ini solusi cerdas untuk memanusiakan hunian warga, atau sekadar proyek “kosmetik” untuk mempercantik tampilan luar di saat pondasi ekonomi rakyat sedang keropos?
Obsesi Estetika dan Kenyamanan ala Jenderal
Dalam pidatonya yang dikutip dari laman DetikNews, Minggu (8/2), Prabowo menyoroti betapa banyaknya rumah di pedesaan hingga pinggiran kota yang masih setia beratapkan seng. “Maaf ya, banyak genteng dari seng. Ini panas untuk penghuni, juga berkarat,” ujarnya. Logika beliau sederhana, ganti seng dengan genteng, maka rumah jadi adem, warga jadi nyaman, dan desa jadi cantik untuk pariwisata.
Lebih jauh, program ini digadang-gadang bakal mendongkrak industri dalam negeri. Genteng bisa dibuat dari tanah liat lokal, atau bahkan inovasi campuran limbah batu bara yang katanya kuat dan murah. Prabowo ingin ada standar estetika baru. Tidak ada lagi hamparan atap seng yang silau memantulkan matahari. Yang ada adalah deretan genteng rapi yang mencerminkan identitas nasional yang berbudaya.
Niatnya jelas mulia. Siapa sih yang tidak mau rumahnya adem dan cantik? Tapi masalahnya, mengubah atap rumah tidak semudah mengganti casing handphone. Ada realita teknis dan sosial yang tampaknya luput dari pandangan “helikopter view” pemerintah pusat.
Realita Teknis yang Bikin Insinyur Pijat Kening
Menanggapi wacana ini, mengutip dari laman Kompas, Minggu (8/2), pakar dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Ashar Saputra, memberikan “kuliah singkat” yang menampar realita. Menurutnya, mengganti seng ke genteng itu urusannya panjang dan ribet.
Pertama, soal berat beban. Seng itu ringan. Genteng (baik tanah liat apalagi beton) itu berat. Rumah-rumah rakyat yang memakai seng biasanya memiliki struktur atap dan pondasi yang disesuaikan dengan beban ringan tersebut. Jika tiba-tiba atapnya diganti genteng tanpa memperkuat struktur bangunan dan kuda-kuda atap, yang terjadi bukan rumah jadi adem, tapi rumah jadi rubuh. Apalagi Indonesia ini supermarket-nya bencana gempa. Menambah beban berat di bagian atas bangunan tanpa perhitungan matang sama saja mengundang maut saat lindu mengguncang.
Kedua, soal kemiringan. Seng bisa dipasang landai, bahkan dengan kemiringan 5 persen saja air hujan bisa mengalir lancar. Tapi genteng? Genteng butuh kemiringan minimal 30 derajat agar tidak bocor dan melorot. Artinya, kalau mau ganti genteng, warga harus membongkar total rangka atapnya untuk ditinggikan. Biayanya? Tentu tidak sedikit.
Menabrak Tembok Budaya dan Kearifan Lokal
Selain masalah teknis, ada aspek sosial budaya yang tak kalah pelik. Indonesia itu bukan cuma Jawa yang identik dengan genteng tanah liat. “Gentengisasi” yang dipaksakan secara nasional berpotensi memberangus keberagaman arsitektur vernakular kita.
Lihatlah Rumah Gadang di Sumatera Barat, Tongkonan di Toraja, atau rumah adat di Papua. Atap mereka punya material khas seperti ijuk, sirap, atau rumbia yang justru lebih cocok dengan iklim dan filosofi setempat. Memaksa mereka pakai genteng demi “estetika nasional” adalah bentuk penyeragaman yang kaku.
Belum lagi soal kepercayaan. Di beberapa daerah, ada mitos atau keyakinan bahwa orang hidup tabu tinggal di bawah tanah (genteng tanah liat), karena tanah adalah tempat bagi mereka yang sudah meninggal. Hal-hal “klenik” tapi nyata ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan instruksi presiden.
Suara Netizen: Salah Diagnosis, Salah Obat
Reaksi paling jujur dan menohok tentu datang dari warga internet alias netizen. Akun instagram Story Rakyat, Sabtu (7/2) merangkum sentimen publik yang merasa prioritas pemerintah sedang error. Slide postingan yang viral bertuliskan, “Yang bermasalah Ekonominya, Pendidikannya, Kesehatannya, MBGnya, Pejabatnya. Yang diganti malah Gentengnya!”
Komentar ini mewakili jeritan hati banyak orang. Di saat rakyat pusing memikirkan biaya sekolah anak, antre berobat di RSUD, atau mencari kerja yang makin susah, pemerintah justru sibuk mengurus atap rumah. Rasanya seperti orang yang sakit dalam (organ tubuh rusak), tapi dokter malah menyarankan untuk operasi plastik supaya wajahnya glowing.
Rakyat mungkin tidak butuh genteng baru. Rakyat butuh jaminan bahwa besok mereka masih bisa makan, anak-anak mereka bisa sekolah tanpa takut ijazah ditahan, dan pejabatnya tidak korupsi.
Baca juga: Nyawa di Ujung Data: Ratusan Pasien Cuci Darah ‘Dipaksa’ Pulang karena BPJS PBI Tiba-tiba Mati Suri
Program Gentengisasi Prabowo berpotensi Blunder
Program Gentengisasi Prabowo mungkin terdengar manis di telinga para perencana kota dan pecinta estetika. Namun, di lapangan, ini adalah kebijakan yang berpotensi menjadi blunder jika dipaksakan tanpa melihat konteks ekonomi dan teknis.
Rumah dengan atap seng memang panas, Pak Presiden. Tapi jauh lebih panas hati rakyat jika melihat anggaran negara habis untuk proyek fisik yang kosmetik, sementara urusan perut dan masa depan mereka masih terabaikan. Lebih baik tinggal di bawah atap seng tapi dapur ngebul dan dompet aman, daripada tinggal di bawah genteng cantik tapi makan pun susah.
Jadi, sebelum sibuk memanjat atap warga, ada baiknya pemerintah turun dulu membenahi pondasi kesejahteraan rakyat yang mulai retak di sana-sini.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.













