CfDS Ungkap Dinamika Misinformasi Isu Krisis Iklim di Indonesia Serta Penanganannya

Dinamika Misinformasi Isu Krisis Iklim
Diseminasi hasil riset secara luring di BRIWork FISIPOL UGM, Selasa (30/1).

Upaya pencegahan dan penanganan Misinformasi Krisis Iklim di media Indonesia

Sebagai upaya pencegahan dan penanganan misinformasi krisis iklim, aspek literasi digital dan kemampuan berpikir kritis dinilai penting dalam upaya pencegahan misinformasi iklim di Indonesia.

Temuan menarik lainnya, bagaimana tema politik dalam konten misinformasi krisis iklim menjadi tema dengan jumlah konten terbanyak, selain tema agama dan climate-alarmism (alarmisme iklim). Terdapat tingginya jumlah konten yang masuk dalam kategori koneksi yang salah (71%) di mana adanya tendensi menggunakan judul dan caption bersifat clickbait.

Baca Juga : CfDS UGM Gelar Dialog Multisektor, Diskusikan Potensi dan Implementasi ESG

Informasi keliru dan salah yang beredar di media sosial Indonesia lebih banyak menarik perhatian masyarakat, dibuktikan dengan peta penyebaran hoaks yang dilakukan di media sosial paling banyak diakses seperti, YouTube, Facebook, Twitter, Instagram, dan WhatsApp.

“Menyikapi hoaks krisis iklim seharusnya sama sigapnya dengan hoaks Pandemi Covid-19. Di era post truth pencegahan atau prebunking selalu lebih baik daripada hanya penanganan seperti fact checking dan content moderation,” terang Septiaji.

Perlu tindakan proaktif

Diperlukan tindakan proaktif (prebunking) dengan pencegahan atau antisipasi sebelum mis dan disinformasi menyebar. Kemudian tindakan reaktif cepat (debunking), untuk pengecekan fakta dan pengungkapan hasil cek fakta terhadap mis dan disinformasi yang menyebar.

Zenzi pun menegaskan perlunya menyebarkan lebih masif isu krisis iklim untuk internalisasi terkait istilah-istilah tentang perubahan iklim dan dampaknya supaya isu bisa menjadi familiar bagi masyarakat luas. “Salah satu cara menangani misinformasi, validasi dan otorisasi informasi terkait krisis iklim. Kalau kita mendapatkan informasi yang salah berkaitan dengan cuaca katakanlah, maka kita akan menyiapkan mitigasi yang salah juga,” tegas Zenzi.

Rekomendasi secara akademis yang perlu ditindaklanjuti dapat berupa mengamati dan meneliti terkait pemetaan kebijakan pencegahan dan penanganan misinformasi lingkungan yang tidak hanya meliputi misinformasi dan disinformasi krisis iklim, namun juga mengenai informasi iklim secara umum, kebencanaan, maupun pemanasan global.

Baca Juga : CfDS UGM Hadirkan Kelas Kecerdasan Digital untuk Dukung Akselerasi Talenta Digital Indonesia

“Secara praktis, pelibatan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, institusi pendidikan, beragam komunitas terkait (Lingkungan Hidup, Cek Fakta, dan Literasi Digital, dan komunitas lain yang relevan), tokoh agama dan masyarakat, social influencer, serta pengguna internet juga patut diinisiasi untuk membantu memfasilitasi ruang pertukaran informasi yang akurat dan mendukung program menangkal krisis iklim. Perlu diketahui bahwa isu krisis iklim bukan persoalan negara maju saja, tapi kita semua,” tutup Novi.

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube Milenianews.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *