Milenianews.com, Jakarta – Implementasi teknologi nyamuk dengan Bakteri Wolbachia berhasil menurunkan insiden demam berdarah di Yogyakarta. Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin, menyatakan bahwa Wolbachia adalah bakteri alami yang ada di dalam tubuh beberapa serangga seperti lalat buah, kupu-kupu atau ngengat.
Menurut Menkes Budi, Bakteri Wolbachia bukan suatu hal yang direkayasa. Namun, itu sudah ada secara alami.
“Ketika implementasi Wolbachia terjadi di Yogya dan kenapa kita senang karena pendekatannya ilmiah, sistematis, dan terstruktur. Bakteri Wolbachia ini di nyamuk pun ada, jadi bukan sesuatu yang dibikin-bikin,” kata Menkes Budi pada Rapat Dengar Pendapat Komisi IX DPR RI terkait Implementasi Wolbachia di Gedung DPR, Jakarta, pada Selasa (28/11).
Baca juga : Cegah DBD, Sekolah Bosowa Bina Insani Laksanakan Fogging dan Screening
Melihat dari data pada Juli 2023, Bakteri Wolbachia tersebut berhasil menurunkan incidence rate demam berdarah di bawah standar WHO, yaitu 1,94 per 100 ribu penduduk.
Secara umum, frekuensi penyakit demam berdarah tercatat 28,45 per 100 ribu penduduk. Kemudian, frekuensi kematian 0,73 per 100 ribu penduduk. Kasus tersebut didominasi oleh usia 5-14 tahun.
Bagaimana cara kerja Bakteri Wolbachia?
Menghambat perkembangan virus dengue di tubuh nyamuk, Bakteri wolbachia mengurangi kemampuan nyamuk dalam menularkan virus ke manusia. Ketika nyamuk aedes aegypti dengan wolbachia berkembang biak di populasi nyamuk, maka kasus dengue akan menurun.
Cara berkembang biak nyamuk aedes aegypti ber-wolbachia antara lain:
Jika nyamuk jantan ber-wolbachia kawin dengan nyamuk betina ber-wolbachia, telurnya akan menetas dan menghasilkan nyamuk ber-wolbachia.
Baca juga : Faktor Geografi Jadi Faktor Maraknya Penyebaran DBD di Indonesia
Kemudian juga, jika nyamuk jantan tidak ber-wolbachia kawin dengan betina ber-wolbachia, telurnya akan menetas dan menghasilkan nyamuk ber-wolbachia.
Namun, jika nyamuk jantan ber-wolbachia kawin dengan betina tidak ber-wolbachia, maka telurnya tidak akan menetas.
Mengenai proses penyebarannya, sebuah ember memuat 250 – 300 telur nyamuk, dengan angka penetasan kurang lebih 90 persen. Jumlah nyamuk yang tersebar sebesar 10 persen dari populasi nyamuk di daerah tersebut.
Penyebarannya nyamuk tersebut sebanyak 12 kali. Artinya, ada pelepasan kurang lebih 2-3 nyamuk/meter setiap 2 minggu dan terjadi sebanyak 12 kali. Sudah berlangsung lama, dalam penelitiannya, peneliti menjalankan semua tahapan dan tidak memangkas (bypass) prosesnya.
Hasil studi Aplikasi Wolbachia untuk Eliminasi Dengue (AWED) tahun 2017-2020 menunjukkan setelah nyamuk ber-wolbachia lepas, kasus dengue menurun hingga 77%.
Baca juga : Soroti 3M Plus dan Vaksin DBD, Kemenkes dan Takeda Gelar Langkah Bersama Cegah DBD
“Jadi secara data, secara sains, secara fakta, sudah jelas. Itu sebabnya kemudian Kemenkes yakin kita terapkan ini (wolbachia),” ungkap Menkes Budi.
Memasuki tahap awal, Kemenkes melakukan program wolbachia di 5 kota, yakni Semarang, Bandung, Jakarta Barat, Bontang, Kupang, dan Denpasar. Berdasarkan beberapa analisis, wilayah-wilayah tersebut akhirnya terpilih.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.