Milenianews.com, Jakarta – Seorang anak di Rafah menjadi korban luka bakar akibat serangan Israel baru-baru ini. Anak tersebut hanya bisa membungkuk, tubuhnya penuh dengan perban. Dia sempat dirawat di Rumah Sakit Nasser di Khan Younis, namun pasokan medis yang terbatas menyebabkan banyak luka belum dapat ditangani dengan baik.
Melansir dari Reuters, serangan ini menghantam kamp pengungsian di Rafah, yang sebelumnya dianggap sebagai satu-satunya tempat aman. Kini, tidak ada lagi perlindungan di sana. Bantuan internasional yang biasanya melewati perbatasan Rafah dari Mesir juga terhambat oleh Israel. Mereka membatasi bantuan dan menghentikan banyak kebutuhan medis yang sangat diperlukan.
Keputusasaan menggambarkan situasi para korban. Satu-satunya harapan mereka sekarang adalah keluar dari Gaza sepenuhnya. Bibi dari anak yang terluka, Jamila Ahmed Abu Athab, menangis dan memohon kepada dunia untuk membuka perbatasan dan membiarkan mereka mencari perawatan medis yang lebih memadai di luar Gaza.
Baca juga: Militer Israel Ambil Alih Perbatasan Rafah-Mesir, Genosida Kemungkinan akan Terus Berlanjut
“Kemana aku harus membawanya? Katakan padaku. Kemana aku harus pergi?,” kata Jamila, yang dikutip dari Channel News Asia, Kamis (30/5).
Dia meminta para pemimpin dunia untuk membuka perbatasan dan membiarkan anak-anak tersebut pergi. “Apa yang telah mereka lakukan untuk mendapatkan ini?,” tambahnya.
Ribuan warga terjebak di Rafah dan tidak tahu harus pergi kemana
Seperti kebanyakan warga Palestina di Gaza, Jamila telah kehilangan rumah dan ibunya. Di Rumah Sakit Al-Aqsa Martyrs di Deir al-Balah, juru bicara dokter Khalil al-Dakran mengatakan bahwa kampanye militer Israel telah menciptakan bencana medis.
Semua rumah sakit berjuang dengan kekurangan obat, perlengkapan medis, dan bahan bakar. Ribuan pasien memerlukan perawatan di luar negeri tetapi tidak bisa keluar karena penutupan perbatasan Rafah.
Israel menyalahkan Mesir atas penutupan itu, mengklaim ingin membuka kembali Rafah bagi warga sipil Gaza yang ingin melarikan diri. Namun, pejabat Mesir mengatakan bahwa operasi kemanusiaan berisiko terkena dampak dari kegiatan militer. Sehingga, Israel perlu membuka penyeberangan kembali ke Palestina sebelum dapat beroperasi lagi. Pasalnya, Mesir pun khawatir tentang risiko perpindahan besar-besaran warga Palestina dari Gaza.
Baca juga: Kolombia Putus Hubungan Bilateral dengan Israel Buntut Genosida yang Terjadi di Palestina
Menteri Kesehatan Palestina, Majed Abu Ramadan, menyatakan bahwa belum ada indikasi kapan penyeberangan Rafah akan dibuka kembali. Menurut otoritas kesehatan di Gaza yang dikelola oleh Hamas, serangan darat dan udara Israel di Gaza telah menewaskan lebih dari 36.000 orang dan melukai lebih dari 81.000,
Di Rumah Sakit Al-Aqsa, Nashat Abed Bari mengatakan dia telah berusaha meninggalkan Gaza untuk mendapatkan bantuan medis sejak terluka lima bulan lalu.
“Tidak ada kemampuan di sini (di Gaza) sama sekali. Saya mencoba mencari dokter atau berkeliling rumah sakit tetapi tidak ada yang bisa membantu saya,” katanya dalam video yang diperoleh oleh Reuters.
Penutupan perbatasan selama lebih dari 20 hari telah menghalangi masuk dan keluarnya orang. “Aku perlu operasi dengan sangat mendesak karena situasiku semakin buruk setiap hari,” tambahnya.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube Milenianews.