Milenianews.com, Jakarta – Curah hujan tinggi yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia dalam beberapa waktu terakhir menyebabkan banjir di berbagai daerah. Kondisi ini memaksa banyak pengendara tetap melintas di jalanan tergenang air, sekaligus memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat: apakah mobil listrik aman saat melewati banjir?
Kekhawatiran tersebut umumnya berkaitan dengan risiko tersengat listrik hingga kerusakan baterai. Secara teknis, mobil listrik dirancang aman saat terkena air, khususnya hujan dan genangan ringan. Sistem baterai, motor listrik, serta kabel bertegangan tinggi telah dilengkapi pelindung kedap air dan mekanisme pengaman otomatis yang mampu memutus aliran listrik ketika terdeteksi kondisi berbahaya. Dengan desain tersebut, mobil listrik tidak serta-merta menimbulkan sengatan listrik saat melewati genangan.
Baca juga: Ingin Beralih ke Mobil Listrik? Ini Panduan Membeli Mobil Listrik untuk Pertama Kali
Meski demikian, mobil listrik tetap tidak disarankan melintasi banjir dengan ketinggian air melebihi setengah tinggi ban. Hal ini juga ditegaskan dalam unggahan akun Instagram @wandi_byd.
“Sangat tidak disarankan melewati genangan air melebihi setengah tinggi ban mobil karena dikhawatirkan air bisa masuk ke celah atau lubang pada kendaraan, baik mobil listrik maupun konvensional. Pada mobil konvensional, air juga berpotensi masuk dari knalpot atau mengenai ECU,” seperti dikutip dari akun Instagram @wandi_byd, Senin (26/1).
Alasan mobil listrik relatif aman di air
Tidak seperti mobil konvensional, mobil listrik tidak menggunakan mesin pembakaran internal. Artinya, tidak ada risiko air masuk ke ruang bakar melalui knalpot yang dapat menyebabkan mesin mati mendadak. Selain itu, pabrikan mobil listrik menerapkan standar keselamatan tinggi pada sistem kelistrikan untuk memastikan kendaraan tetap aman dalam kondisi basah.
Beberapa produsen, termasuk BYD, menyatakan bahwa sistem kelistrikan kendaraan listrik telah melalui pengujian keselamatan terhadap paparan air. Namun, perlindungan tersebut bukan berarti kendaraan listrik kebal terhadap banjir.
Perbandingan dengan mobil konvensional berbahan bakar bensin
Pada mobil berbahan bakar bensin, banjir berisiko menyebabkan air masuk melalui knalpot atau saluran udara mesin. Jika air mencapai ruang mesin atau komponen elektronik seperti engine control unit (ECU), kendaraan dapat mengalami mogok hingga kerusakan serius.
Sementara itu, mobil listrik tidak menghadapi risiko kerusakan akibat proses pembakaran mesin, tetapi tetap berpotensi mengalami kerusakan besar apabila air mencapai komponen kelistrikan atau baterai. Biaya perbaikan pada kendaraan listrik juga cenderung tinggi jika kerusakan menyentuh sistem utama.
Selain itu, mengutip akun Instagram @wandi_byd, pengendara juga diimbau untuk tetap tenang apabila kendaraan terendam banjir, tidak menyalakan kendaraan, dan segera menghubungi layanan resmi atau dealer untuk penanganan lebih lanjut.
Baca juga: Harga Mobil Listrik: Apa yang Perlu Anda Tahu Sebelum Memilih?
Tetap tidak disarankan menerobos banjir
Baik mobil listrik maupun mobil konvensional sama-sama tidak aman digunakan untuk menerobos banjir dalam. Selain risiko kerusakan kendaraan, banjir juga menyimpan bahaya lain seperti jalan yang tidak terlihat, lubang tertutup air, hingga arus yang dapat menyeret kendaraan.
Di tengah kondisi banjir yang melanda sejumlah daerah, penting bagi masyarakat untuk memahami bahwa mobil listrik aman dari risiko tersengat listrik saat terkena air atau genangan ringan. Namun, mobil listrik bukan kendaraan anti-banjir. Dalam kondisi banjir tinggi, mobil listrik dan mobil berbahan bakar bensin sama-sama berisiko dan sebaiknya tidak dipaksakan untuk melintas.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.













