Milenianews.com, Tegal – Dunia pendidikan lagi-lagi diguncang inovasi seru lewat Workshop Pahlawan Digital 2025 yang diselenggarakan Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) Tegal. Salah satu sesi paling interaktif datang dari Ricky Sastra, M.Kom, seorang dosen sekaligus praktisi teknologi yang dikenal santai tapi penuh insight tajam tentang dunia Artificial Intelligence (AI).
Dalam sesi yang penuh tawa dan tepuk tangan itu, Ricky membuka dengan candaan khasnya. Ia bilang, banyak yang takut kalau AI bakal menggantikan peran guru di masa depan. Padahal menurutnya, justru AI adalah partner strategis buat para pendidik dan siswa. “AI itu bukan buat gantiin guru. Justru bisa bantu bikin proses belajar lebih kreatif, efisien, dan menyenangkan,” ujarnya di tengah sesi yang disambut antusias peserta.
Baca juga: Pahlawan Era Modern Tak Bersenjata, Tapi Berinovasi dengan Ide Kreatif
Ia mencontohkan berbagai teknologi yang kini bisa digunakan untuk memperkaya proses pembelajaran, seperti ChatGPT, Gemini AI, hingga Notebook LM platform buatan Google yang bisa mengubah teks jadi audio atau bahkan video pembelajaran.
Dalam demo interaktifnya, Ricky sempat bercanda soal “jas berkantong ajaib” yang ia bawa ke panggung. Bukan sulap, bukan sihir tapi simbol bahwa AI punya banyak “alat ajaib” yang bisa dimanfaatkan guru maupun siswa.
“Notebook LM ini bisa ubah teks jadi podcast atau video pembelajaran. Jadi, kalau males baca buku, tinggal dengerin aja! Materinya tetap nyantol, tapi cara belajarnya lebih fun,” jelasnya sambil menunjukkan tampilan langsung dari aplikasi tersebut.
Ia juga menambahkan bahwa AI bisa membantu guru membuat RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) dalam hitungan menit, bukan lagi berhari-hari seperti dulu. Semua bisa dilakukan secara otomatis selama guru sudah punya materi dasarnya.

Siswa jadi lebih efektif, guru jadi lebih kreatif
Ricky menekankan bahwa AI bukan cuma alat bantu, tapi akselerator kreativitas. Dalam diskusi bersama para siswa, salah satunya dari SMA Negeri 1 Bojong, muncul kesimpulan menarik: keunggulan utama AI adalah efisiensi waktu. “AI bikin proses belajar lebih cepat, tapi bukan berarti instan. Justru dengan bantuan AI, siswa bisa lebih fokus pada pemahaman dan eksplorasi ide,” katanya.
Guru pun tak kalah diuntungkan. Dengan AI, guru bisa mempersonalisasi pembelajaran, menyesuaikan materi sesuai kecepatan belajar tiap siswa, dan punya waktu lebih banyak untuk fokus pada pembentukan karakter hal yang tak akan bisa dilakukan mesin.
Meski penuh pujian untuk kecanggihan teknologi, Ricky tetap mengingatkan satu hal penting: AI harus digunakan dengan bijak. Ia menegaskan, ketergantungan berlebihan justru bisa menumpulkan kreativitas dan daya kritis siswa. “AI itu cerdas, tapi bukan segalanya. Siswa harus punya batasan, dan guru perlu jadi pengawas etika digital di kelas. Gunakan AI untuk belajar, bukan untuk menyalin,” tegasnya.
Ricky juga menyebut, saat ini sudah ada aplikasi seperti GLGPT Detector yang bisa mengecek seberapa banyak konten tugas siswa yang dibuat dengan bantuan AI. Hal ini bisa membantu guru memantau sekaligus mendidik siswa agar jujur dan bertanggung jawab secara digital.
Baca juga: Mantapkan Transformasi Digital dengan Pemanfaatan AI di Seluruh Lini Pendidikan
Menutup sesinya, Ricky mengingatkan bahwa menjadi “pahlawan digital” bukan berarti jadi ahli teknologi semata, tapi mampu menciptakan karya dan solusi dari teknologi itu sendiri. “AI gak bisa gantiin karakter manusia. Justru lewat teknologi ini, guru dan siswa bisa bareng-bareng menciptakan masa depan yang lebih cerdas, kreatif, dan bermakna,” tutupnya dengan semangat.
Workshop tersebut pun berlangsung seru hingga akhir, dengan berbagai tawa, pertanyaan kritis, dan semangat baru dari para peserta untuk menjadikan AI bukan ancaman, tapi peluang emas dalam dunia pendidikan masa kini.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.











