UT, Inklusivitas, dan Keberanian Membangun Masa Depan

universitas terbuka

Milenianews.com, Mata Akademisi – Waktu terus berjalan; ia tidak pernah berhenti, apalagi menunggu. Karena itu, setiap detik perjalanan hidup adalah kesempatan. Allah telah menghitung segalanya dengan seteliti-telitinya—tidak ada yang terlewat, dan bagi-Nya tidak ada kekeliruan sedikit pun. Termasuk detik ini: titik pertemuan antara tahun 2025 dan 2026, yang menghadirkan sebuah catatan kecil—semoga bermanfaat.

Masa depan bukanlah sesuatu yang ditunggu, melainkan dibangun dari detik ke detik. Pesan inilah yang antara lain disampaikan Rektor, Prof. Dr. Ali Muktiyanto, S.E., M.Si., dalam apel Senin pagi lalu. Waktu tak pernah berhenti. Di situlah Allah menghargai setiap manusia: dengan menyediakan waktu yang sempit tanpa jeda, justru membangkitkan kesadaran agar kita tidak terlena. Momentum dan kesempatan datang satu kali; jika terlewat, ia tidak kembali.

Baca juga: Urgensi Pendidikan Karakter di Era Digital

Tidak keliru ketika kita kagum, takjub, dan bangga atas capaian yang diraih—itu wujud syukur. Tidak salah pula menikmati rasa nyaman dari capaian tersebut. Namun ketika kenyamanan berubah menjadi kelengahan, kita seolah memaksa waktu melawan kodratnya. Pada saat itulah, kesia-siaan mulai mendekat.

Ketika pendidikan menjadi arena penyaringan

Sejarah pendidikan tinggi adalah cerita panjang tentang siapa yang boleh belajar dan siapa yang disisihkan. Dunia pendidikan kerap menjadi arena kompetisi dan saling menyingkirkan. Semangat kolaborasi sering kalah oleh dorongan untuk menang sendiri. Fenomena ini tidak hanya terjadi di perguruan tinggi, tetapi sejak jenjang pendidikan awal: jika ingin sekolah bagus—apalagi unggulan—singkirkan yang lain.

Di negeri ini, lazim dianggap bahwa hanya mereka yang pintar dan kuat yang berhak atas sekolah terbaik. Mereka yang dianggap tidak mampu tersisih; sekolah berubah wajah menjadi lembaga penyaring. Padahal, sekolah justru semakin bermakna ketika ikhlas menerima murid apa adanya.

Pertanyaannya: apakah keunggulan manusia hanya lahir dari sekolah unggulan yang mewah sistemnya? Ataukah justru lahir dari ketangguhan jiwa yang ditempa keterbatasan? Anak unggul tidak harus—dan sering kali justru tidak—lahir dari sekolah elit. Sejarah peradaban berulang kali menunjukkan ironi: banyak manusia besar lahir dari keterbatasan, bukan kemewahan. Kemewahan memang mempermudah proses, tetapi tidak selalu memperkuat karakter. Bahkan, ia kerap melunakkan daya juang.

Analogi hukum Archimedes relevan di sini. Tekanan tidak selalu menenggelamkan; ia justru dapat membangkitkan daya apung. Dalam psikologi dan pendidikan, ini sejalan dengan konsep desirable difficulties: kesulitan memperkuat pembelajaran dan ketahanan. Keterbatasan memaksa manusia berpikir kreatif, berani mengambil keputusan, dan menumbuhkan sense of agency—kesadaran bahwa hidup adalah tanggung jawab pribadi. Manusia diciptakan sebagai khalifah fil ardh: pengelola kompleksitas, pemecah masalah, bukan penikmat kenyamanan semata.

Pada masa tertentu, pendidikan—terutama pendidikan tinggi—hanya milik segelintir orang: mereka yang lahir di pusat kota, memiliki modal ekonomi, akses teknologi, dan waktu luang. Pendidikan menjadi simbol status, bukan hak; alat seleksi sosial, bukan wahana pembebasan. Ironisnya, tidak sedikit yang justru mengalami penurunan sisi humanis seiring naiknya jenjang pendidikan.

Di titik inilah Universitas Terbuka (UT) hadir sebagai anomali yang bermakna. Sejak berdiri pada 1984, UT membawa misi yang melampaui inovasi teknologis: menjangkau yang tidak terjangkau—secara geografis, sosial, ekonomi, budaya, dan psikologis. UT berdiri di atas keyakinan bahwa setiap manusia memiliki potensi untuk belajar, selama akses dan kesempatan dibuka. Allah tidak mengenal produk gagal.

Di era digital dan VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity), misi ini kian relevan. Dunia berubah cepat; pekerjaan bergeser; teknologi mendisrupsi. Di tengah ketidakpastian, satu hal tetap konstan: belajar adalah cara manusia bertahan dan berkembang. UT, sebagai perguruan tinggi jarak jauh, tidak sekadar mengikuti perubahan, tetapi berpeluang menjadi arsitek masa depan pembelajaran. Ruh utamanya adalah kemandirian belajar.

Kemandirian belajar lahir dari kesadaran bahwa tidak ada orang lain yang dapat mengubah diri kita selain diri kita sendiri. Belajar menjadi kebutuhan—seperti makan—bukan beban, melainkan ketagihan yang menantang adrenalin untuk terus tumbuh. Inilah pesan inti Ki Hadjar Dewantara: olah pikir, olah hati, olah rasa, olah karsa, dan olah ragawi. Belajar yang memerdekakan, bukan membelenggu.

Pendidikan tinggi, kapitalisme, dan hilangnya kebermaknaan

Paulo Freire lama mengingatkan bahaya “sekolah kapitalisme yang licik” (Freire, 1994). Dalam pendidikan tinggi modern, logika ini tampak melalui akreditasi, peringkat, sitasi, indeks Scopus, dan indikator kinerja administratif. Standar global memang penting. Namun ketika standar menjadi tujuan akhir—bukan alat—pendidikan kehilangan ruhnya. Penelitian berubah menjadi produksi artikel; dosen terjebak pada compliance, bukan curiosity. Keterukuran menggeser kebermaknaan.

Bagi UT, tantangan ini adalah ujian moral sekaligus strategis. Menjadi world class open university bukan berarti meniru universitas elit yang eksklusif, melainkan membuktikan bahwa keunggulan global dapat lahir dari inklusivitas, relevansi, dan keberpihakan pada kemanusiaan.

Goa Kahfi dan bahaya terlena

Kisah Goa Kahfi yang disampaikan Rektor UT menjadi peringatan mendalam: mereka yang tertidur terlalu lama, meski pernah di depan, dapat terbangun dalam keadaan tertinggal. Keunggulan historis tidak memberi garansi masa depan. Di tengah platform global, AI, micro-credential, dan corporate university, UT perlu keberanian memperbarui diri.

Baca juga: Kurikulum Pendidikan Butuh Konsistensi, Bukan Ganti-Ganti

Empat daya menjadi fondasi transformasi: daya ungkit (mengubah cara pikir lama), daya bangkit (optimisme dewasa), daya dorong (menggerakkan bersama), dan daya gerak (bertindak nyata). Visi tanpa aksi hanyalah retorika.

Pendidikan sebagai amanah kemanusiaan

Refleksi ini bermuara pada keyakinan mendasar: pendidikan adalah amanah ilahiah. Setiap manusia memiliki potensi untuk tumbuh. UT bukan sekadar institusi, melainkan ikhtiar peradaban—membuka akses bagi mereka yang terhalang jarak, waktu, ekonomi, usia, dan stigma. Menuju world class open university, UT tidak perlu meninggalkan jati diri. Justru dengan setia pada inklusivitas, kebermaknaan, dan keberanian berpikir hingga ke akar, UT dapat menunjukkan bahwa pendidikan unggul tidak harus eksklusif.

Penulis: Drs. Zulfikri Anas M.Ed, Dosen Prodi PGSD Universitas Terbuka.

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube Milenianews.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *