Mata Akademisi, Milenianews.com – Secara syariat, puasa wajib hanya diperintahkan selama sebulan dalam setahun. Caranya pun jelas: menahan diri dari makan, minum, dan pemenuhan syahwat sejak fajar hingga magrib. Namun, dalam dimensi tarekat, puasa tidak cukup dilakukan hanya dalam satu bulan—ia seharusnya menjadi perjalanan spiritual yang berlangsung sepanjang hayat. Bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan menjaga perut dan apa yang masuk ke dalamnya dari segala yang haram, tanpa batas waktu.
Gagasan tentang puasa yang bersifat kontinu ini bukanlah hal baru. Dalam Ihya Ulumuddin karya Imam al-Ghazali (wafat 1111 M) dan Sirrul Asrar karya Syaikh Abdul Qadir al-Jilani (wafat 1166 M), terdapat dua kalimat reflektif yang layak direnungkan.
Baca juga: Berpuasa Adalah Berbekal
Pertama, “Betapa banyak orang yang berpuasa sejatinya dia berbuka.” Ini terjadi ketika seseorang hanya berpuasa secara fisik, sekadar menahan makan dan minum, tetapi gagal menjaga mata, telinga, mulut, tangan, dan kaki dari perbuatan dosa. Dalam pandangan al-Ghazali dan Abdul Qadir al-Jilani, puasa semacam ini hanya tampak sebagai ibadah lahiriah tanpa makna yang lebih dalam. Secara teknis, dia memang berpuasa, tetapi pada hakikatnya, ia telah ‘berbuka’ sejak awal karena tidak mampu menahan hawa nafsu yang lain.
Kedua, “Betapa banyak orang yang berbuka, namun sejatinya dia berpuasa.” Maksudnya, meski seseorang tidak lagi berpuasa dalam sebelas bulan setelah Ramadhan, ia tetap menjaga diri dari makanan haram dan segala bentuk dosa. Ia telah menjadikan Ramadhan sebagai ajang latihan spiritual, sehingga setelahnya, ia mampu menerapkan esensi puasa dalam kehidupan sehari-hari. Inilah kemenangan sejati: bukan sekadar sukses menahan lapar dalam sebulan, melainkan mampu menahan diri dari keburukan sepanjang tahun.
Maka, Ramadhan bukanlah sekadar ritual tahunan yang berlalu begitu saja. Ia adalah titik awal perjalanan menuju the ultimate goal—yakni ketakwaan yang berkelanjutan. Jika kita hanya berpuasa dalam arti yang paling dasar, apakah kita benar-benar telah mencapai tujuan itu?
Baca juga: Membangun Pribadi Unggul dengan Berpuasa
Oleh karena itu, setelah Ramadhan berlalu, mari kita lanjutkan puasa dalam makna yang lebih luas. Biarkan ruh Ramadhan tetap hidup dalam sebelas bulan berikutnya, agar kasih sayang dan ampunan Allah senantiasa menaungi kita. Sampai pada akhirnya, kita pun berharap mendapatkan seruan-Nya:
“Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai. Lalu masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS. Al-Fajr: 27-30)
Penulis: Syamsul Yakin, Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube Milenianews.