Mitigasi Korban Bencana Alam di Indonesia

Milenianews.com, Mata Akademisi– Menurut Coburn A W,  pengertian bencana alam adalah suatu kejadian atau serangkaian kejadian yang mengakibatkan adanya korban dan atau kerusakan, kerugian harta benda, infrastruktur, pelayanan-pelayanan penting atau sarana kehidupan pada satu skala yang berada di luar kapasitas normal.

Beberapa faktor yang dapat menyebabkan bencana antara lain: bahaya alam (natural hazards) dan bahaya karena perbuatan manusia (man-made hazards) yang  menurut United Nations International Strategy for Disaster Reduction (UN-ISDR) dapat dikelompokkan menjadi bahaya geologi (geological hazards), bahaya hidrometeorologi (hydrometeorological hazards), bahaya biologi (biological hazards), bahaya teknologi (technological hazards) dan penurunan kualitas lingkungan (environmental degradation). Selain itu, kerentanan (vulnerability) yang tinggi dari masyarakat, infrastruktur serta elemen-elemen di dalam kota/ kawasan yang berisiko bencana kapasitas yang rendah dari berbagai komponen di dalam masyarakat.

Bencana alam telah menyebabkan kerugian yang sangat besar di banyak negara dan telah memperlambat kemajuan ekonomi di negara-negara berkembang selama bertahun-tahun. Masa depan terlihat lebih buruk lagi, karena populasi di banyak bagian dunia bermigrasi ke daerah rawan bahaya dan ke pusat kota besar, yang sangat rentan karena ketergantungan mereka pada infrastruktur yang kompleks.

Indonesia memiliki salah satu tingkat bencana alam tertinggi di dunia. Negara kepulauan ini terdiri dari 17.000 pulau dan terletak di Cincin Api Pasifik (daerah dengan aktivitas tektonik tingkat tinggi), Indonesia harus menghadapi risiko letusan gunung berapi, gempa bumi, banjir, dan tsunami yang terus-menerus. Dalam beberapa kesempatan selama 20 tahun terakhir, Indonesia telah menjadi berita utama global karena bencana alam dahsyat yang mengakibatkan kematian ratusan ribu nyawa manusia dan hewan, ditambah dampak destruktif pada wilayah daratan (termasuk infrastruktur, dan dengan demikian mengakibatkan dalam biaya ekonomi).

Indeks risiko bencana alam di Indonesia untuk tsunami, banjir, tanah longsor, kekeringan, dan kebakaran hutan juga relatif tinggi dibandingkan negara lain. Dengan lebih dari 260 juta orang yang tinggal di daerah berisiko bencana alam di Indonesia, pengurangan dan pengelolaan risiko bencana memainkan peran penting dalam memperkuat ketahanan negara.

Melalui penerapan teknologi dan praktik mitigasi, menjadi korban bencana alam. Misalnya, tindakan mitigasi dapat diterapkan untuk memperkuat rumah, sehingga keluarga dan harta benda lebih terlindungi dari banjir, gempa bumi, angin topan, dan bencana alam lainnya. Praktik mitigasi dapat dimanfaatkan untuk membantu bisnis dan industri untuk menghindari kerusakan-kerusakan fasilitas  dan tetap beroperasi dalam menghadapi bencana. Teknologi mitigasi dapat digunakan untuk memperkuat rumah sakit, stasiun pemadam kebakaran, dan fasilitas layanan penting lainnya sehingga dapat tetap beroperasi atau dibuka kembali lebih cepat setelah suatu peristiwa. Selain itu, langkah-langkah mitigasi dapat membantu mengurangi kerugian dan penderitaan akibat bencana sehingga permintaan uang dan sumber daya berkurang setelahnya.

Usaha yang Bisa Dilakukan

Upaya yang  bisa dilakukan untuk mitigasi korban bencana, antara lain:

Pertama, awareness atau kesadaran. Pentingnya menanamkan kesadaran pada masyarakat terhadap bencana sangat penting, terlebih lagi pada masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana, karena kesadaran akan menjadikan masyarakat lebih siap dan tidak khawatir akan adanya ancaman bencana yang bisa datang kapan saja. Kesadaran dan kesiagapan akan bencana yang akan terjadi dengan memberikan sosialisasi dan pelatihan-pelatihan khusus untuk masyarakat dalam menghadapi bencana. upaya ini merupakan hal preventif yang dilakukan oleh Badan Penangulangan Bencana Daerah untuk mengurangi ancaman yang terjadi.

Kedua, perlindungan sekolah dan rumah sakit. Semua sekolah dan rumah sakit harus ditempatkan dan dibangun untuk memastikan bahwa daerah dengan bahaya tinggi dihindari dan ketentuan khusus dibuat untuk mengurangi potensi kerusakan akibat bahaya alam.  Sekolah dan rumah sakit menjadi penting Komite percaya bahwa penekanan khusus harus diberikan pada penerapan langkah-langkah mitigasi di sekolah dan rumah sakit karena peran penting mereka dalam kehidupan masyarakat dan semakin pentingnya selama bencana. Salah satu sumber daya terbesar bangsa ini adalah anak-anak yang mana menghabiskan sebagian besar waktunya di gedung sekolah. Sekolah juga berfungsi sebagai tempat penampungan utama bagi pengungsi selama bencana. Akan tetapi, terlalu sering bangunan sekolah tidak dibangun atau dipelihara untuk menahan dampak fisik dari bahaya alam. Akibatnya, mereka berpotensi menjadi jebakan maut bagi siswa atau pengungsi di dalamnya. Rumah sakit dan fasilitas perawatan kesehatan lainnya melayani yang sakit dan terluka dan merupakan pusat teknologi medis dan keahlian yang penting dalam bencana. Ketika fasilitas rumah sakit gagal selama bencana, seperti yang terjadi pada banyak gempa bumi dan angin topan baru-baru ini, tidak hanya pasien dan tenaga medis yang terbunuh atau terperangkap di dalamnya, tetapi masyarakat yang terkena dampak juga kehilangan sumber daya, peralatan, dan perlengkapan medis yang dibutuhkan.

Ketiga, perlindungan sumber daya alam. Tindakan yang meminimalkan kerugian bahaya dan melestarikan atau mengembalikan fungsi sistem alam. Meliputi pengendalian sedimen dan erosi, restorasi koridor sungai, pengelolaan daerah aliran sungai, pengelolaan hutan dan vegetasi, serta restorasi dan pelestarian lahan basah.

Keempat, layanan darurat. Tindakan yang melindungi orang dan properti selama dan segera setelah peristiwa bahaya. Termasuk sistem peringatan, layanan tanggap darurat, dan perlindungan fasilitas penting.

Kelima, proyek struktural. Tindakan yang melibatkan pembangunan struktur untuk mengurangi dampak bahaya. Termasuk bendungan, tanggul kemunduran, dinding banjir, dinding penahan, dan ruang aman.​

Semoga dengan penerapan manajemen risiko ini, korban bencana alam di Indonesia berkurang.

Penulis: Shafanisa Zahidah, Mahasiswa   STEI SEBI, Prodi Manajemen Bisnis Syariah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *