Oleh: Insan Faisal Ibrahim, S.Pd
Mata Akademisi, Milenianews.com – Pendidikan sejak lama dipercaya sebagai jalan keluar dari kemiskinan. Ia dipuja sebagai cahaya yang mampu menuntun manusia keluar dari gelapnya keterbatasan hidup. Namun realitas di lapangan sering kali berkata sebaliknya. Bagi sebagian rakyat kecil, pendidikan justru menjelma menjadi sesuatu yang menakutkan. Bukan karena ilmu itu sulit, melainkan karena sistem yang mengiringinya terasa dingin dan tidak berbelas kasih.
Kemiskinan tidak hanya merampas kenyamanan hidup, tetapi juga mencabut rasa aman. Di tengah tekanan ekonomi yang menghimpit, pendidikan hadir dengan tuntutan yang kerap kali tidak ramah. Seragam, buku, biaya kegiatan, hingga kebutuhan administrasi lainnya menjadi beban yang terus menghantui. Sekolah yang seharusnya menjadi ruang tumbuh harapan justru berubah menjadi sumber kecemasan yang berkepanjangan.
Banyak kisah pilu muncul dari ruang-ruang pendidikan bangsa ini. Anak-anak kehilangan masa depan, bahkan nyawa, bukan karena ketidakmampuan belajar atau kurangnya kemauan, melainkan akibat himpitan hidup yang tidak memberi ruang untuk memilih. Pendidikan datang bersamaan dengan lapar, cemas, dan tekanan ekonomi keluarga.
Baca juga: Anak Bukan Sekadar Harapan, Tapi Investasi Terbesar Bangsa
Seorang anak harus duduk di bangku sekolah dengan perut kosong, sementara pikirannya dipenuhi kegelisahan tentang kondisi rumah. Di sisi lain, orang tua dipaksa memilih antara mencari nafkah demi bertahan hidup atau mendampingi anak belajar agar tidak tertinggal. Pada titik inilah pendidikan mulai kehilangan hakikatnya sebagai sarana memanusiakan manusia. Ia berubah menjadi beban psikologis yang berat, jauh dari semangat pembebasan dan pencerahan.
Ketidakadilan yang terus berulang
Rasa perih semakin terasa ketika kenyataan menunjukkan bahwa tragedi pendidikan hampir selalu berulang pada kelompok yang sama. Korbannya berasal dari keluarga kecil yang hidup di pinggiran, mereka yang suaranya jarang sampai ke meja pengambil kebijakan. Keberadaan mereka kerap baru disadari saat musibah terjadi, ketika duka telah lebih dulu menyelimuti.
Pendidikan yang diklaim sebagai hak setiap warga negara ternyata belum sepenuhnya menghadirkan keadilan. Sistem masih terasa lebih ramah bagi anak-anak yang lahir dalam kecukupan, yang memiliki penopang ekonomi dan lingkungan yang mendukung.
Anak-anak dari keluarga miskin harus berjuang lebih keras hanya untuk bertahan, bukan untuk mengejar prestasi. Ketimpangan ini menjadikan pendidikan tidak lagi berfungsi sebagai jembatan kesetaraan, melainkan cermin nyata dari ketidakadilan sosial yang terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Upaya belajar kerap tersendat oleh beban hidup yang datang terlalu dini, membuat ruang tumbuh mereka menjadi sempit dan penuh tekanan. Pendidikan yang seharusnya menguatkan justru sering kali melemahkan.
Sekolah yang ramah hanya bagi yang mampu
Di sisi lain, kelompok elit menjalani proses pendidikan dalam suasana yang jauh berbeda. Sekolah hadir sebagai ruang yang nyaman, aman, dan dilengkapi berbagai fasilitas penunjang. Kegagalan dipahami sebagai bagian wajar dari proses pembelajaran, bukan ancaman terhadap masa depan.
Anak-anak dari keluarga berada tidak dibayangi ketakutan akan putus sekolah. Mereka tidak diliputi rasa malu akibat tunggakan biaya dan tidak dipaksa memikul tanggung jawab ekonomi keluarga sejak usia dini.
Perbedaan inilah yang memperjelas bahwa pendidikan belum sepenuhnya menjadi milik semua. Ia masih mengikuti garis kelas sosial, memberi keuntungan lebih besar bagi mereka yang sudah berada di posisi aman.
Ketimpangan ini menciptakan jurang yang semakin dalam. Pendidikan tidak lagi menjadi tangga sosial yang mengangkat derajat, tetapi tembok tinggi yang sulit ditembus oleh kaum miskin.
Sistem tanpa empati
Masalah utama bukan terletak pada kurangnya regulasi atau anggaran, melainkan pada hilangnya empati dalam penyusunan kebijakan. Sistem pendidikan sering dibangun berdasarkan asumsi bahwa semua anak memiliki kondisi yang sama. Padahal kenyataan sosial sangat beragam.
Ketika perbedaan itu diabaikan, ketidakadilan justru dilegalkan. Sekolah menuntut prestasi tanpa memahami latar belakang siswa. Nilai akademik dijadikan tolok ukur tunggal keberhasilan, sementara kondisi mental, sosial, dan ekonomi nyaris tak diperhitungkan.
Akibatnya, anak-anak miskin tidak hanya tertinggal secara akademik, tetapi juga mengalami tekanan psikologis yang berat. Pendidikan yang seharusnya membangun kepercayaan diri justru menumbuhkan rasa rendah diri.
Lebih tragis lagi, ketika nyawa melayang akibat tekanan hidup yang berkaitan dengan pendidikan, respons yang muncul sering kali bersifat sementara. Masyarakat bersedih, media ramai memberitakan, lalu semuanya berlalu tanpa perubahan berarti.
Ketika pendidikan melanggengkan kemiskinan
Pendidikan yang menakutkan adalah pendidikan yang kehilangan nurani. Ia gagal melihat manusia di balik angka dan laporan. Ia lupa bahwa setiap anak memiliki cerita hidup yang berbeda.
Jika sistem terus dibiarkan seperti ini, pendidikan justru akan melanggengkan kemiskinan, bukan memutus rantainya. Negara seharusnya hadir lebih dari sekadar slogan. Pendidikan harus benar-benar menjadi hak, bukan hadiah bagi mereka yang mampu bertahan.
Baca juga: Kebenaran yang Menindas: Wajah Kuasa di Atas Pundak Rakyat Kecil
Sekolah perlu menjadi ruang aman yang menguatkan, bukan menekan. Kebijakan harus lahir dari keberanian untuk berpihak kepada yang paling lemah, bukan dari kepentingan segelintir golongan.
Bangsa yang besar bukan diukur dari megahnya gedung sekolah atau tingginya angka kelulusan, melainkan dari kemampuannya melindungi anak-anaknya yang paling rentan. Selama pendidikan masih membuat kaum miskin merasa takut, selama masih ada anak yang kehilangan harapan karena ingin belajar, maka selama itu pula kita belum sepenuhnya merdeka dalam pendidikan.
Sudah waktunya pendidikan dikembalikan pada hakikatnya sebagai jalan kehidupan. Ia harus menjadi cahaya yang menenangkan, bukan bayang-bayang yang menakutkan. Karena ketika pendidikan merenggut harapan, sesungguhnya yang sedang sekarat bukan hanya anak-anak miskin, tetapi nurani bangsa itu sendiri.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.













