Mata Akademisi, Milenianews.com – Manajemen risiko adalah pengelolaan risiko yang terjadi dengan fokus khusus pada hasil yang dicapai suatu organisasi. Selalu ada risiko dalam organisasi, dan hal ini juga berlaku dalam dunia pendidikan. Oleh karena itu, manajemen risiko diperlukan untuk mencapai standar yang harus dipraktikkan di pendidikan tinggi.
Manajemen risiko memungkinkan Anda mengidentifikasi masalah yang muncul dan mengelola risiko dengan tepat. Risiko sendiri mempunyai sifat negatif, sehingga perlu adanya upaya untuk mengurangi risiko yang terjadi.
Dalam setiap individu tentunya harus mempersiapkan segala sesuatunya dengan matang, karena risiko bisa terjadi kapanpun dan dimanapun. Risiko terjadinya hal tersebut menjadi salah satu penyebab minimnya data pendidikan tinggi. Oleh karena itu, merupakan tanggung jawab kita untuk menyadari risiko dan siap menghadapinya. Risiko dapat menggagalkan upaya kita.
Risiko ini adalah kemungkinan menimbulkan atau menimbulkan kerugian atau bahaya (Regan: 2003).
Risiko juga dapat dikelompokkan menjadi risiko subjektif, yaitu risiko yang berkaitan dengan persepsi risiko seseorang, dan risiko objektif, yaitu risiko berdasarkan pengamatan terhadap parameter objektif.
Baca juga: Meminimalkan Risiko Polusi dengan Mengampanyekan Transportasi Umum
Di era perkembangan zaman yang semakin meningkat, anak muda saat ini seringkali dihadapkan dengan suatu pilihan salah satunya yaitu pendidikan. Meski pendidikan itu penting dalam kehidupan, sekarang ini banyak anak muda yang belum bisa memilih pilihan untuk melanjutkan jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Melanjutkan ke perguruan tinggi bisa memberikan macam manfaat untuk generasi muda, salah satu contohnya pembentukan karakter. Dengan pendidikan, anak muda di didik untuk memiliki jiwa intelektual supaya bisa meningkatkan kualitas SDM di Indonesia.
Pada jenjang pendidikan tinggi, terdapat perguruan tinggi negeri dan swasta yang menawarkan berbagai program studi di berbagai bidang. Universitas ternama biasanya memiliki reputasi yang baik dan mampu menarik calon mahasiswa dari seluruh Indonesia.
Pendidikan tinggi di Indonesia diatur oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, yang bertanggung jawab atas kebijakan, standar, dan pengawasan pendidikan di semua tingkatan. Selain itu, lembaga seperti Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) dan Badan Standar Pendidikan Nasional (BSNP) juga terlibat dalam mengatur dan menjamin mutu pendidikan di Indonesia.
Pendidikan tinggi di Indonesia terdiri dari universitas, institut, dan sekolah kejuruan. Universitas ini menawarkan program sarjana (S1), magister (S2) dan doktoral (S3) dalam berbagai bidang. Meskipun pendidikan di Indonesia terus berkembang dan membaik, terdapat berbagai tantangan seperti kurangnya akses pendidikan antara perkotaan dan pedesaan, ketidakseimbangan kualitas pendidikan, dan dependensi sumber daya.
Untuk mengatasi tantangan ini, pemerintah perlu melakukan reformasi pendidikan untuk meningkatkan kualitas guru, meningkatkan akses terhadap pendidikan di daerah terpencil, dan mengoptimalkan program pelatihan kejuruan untuk mempersiapkan lulusannya memasuki dunia kerja. Sebagai generasi muda, kita perlu menyadari pentingnya pendidikan. Dengan pendidikan, generasi muda dapat membawa peradaban dan perubahan positif bagi Indonesia.
Mengelola risiko adalah salah satu pilar good university governance (GUG), karena pengenalan manajemen risiko di perguruan tinggi bertujuan untuk menciptakan pola organisasi baru yang menjadikan risiko sebagai sistem peringatan dini dalam pelaksanaan prosedur organisasi. Oleh karena itu, proses mitigasi risiko yang berfokus pada risiko memerlukan langkah-langkah yang tepat.
Risiko yang diukur dibagi menjadi dua kategori, yaitu risiko berdasarkan jenis dan risiko berdasarkan aspek. Tergantung pada jenis risikonya, ada risiko strategis, risiko manajemen, risiko operasional, dll. Risiko berdasarkan aspek, mencakup namun tidak terbatas pada aspek anggaran, aspek pengelolaan sumber daya manusia, aspek infrastruktur, aspek teknologi informasi, dan aspek akademik. Selain kita mengetahui manajemen risiko yang ada di perguruan tinggi, kita juga perlu untuk mengetahui manajemen risiko sebagai mahasiswa.
Manajemen risiko di perguruan tinggi merupakan tahapan penting dalam memastikan pengalaman akademis yang sukses dan produktif. Sebagai Mahasiswa harus mempersiapkan semuanya, diantaranya:
Pertama, rencana studi yang disusun dengan baik: Membuat sistem belajar yang terstruktur dan konsisten dengan kurikulum program. Memilih mata kuliah yang dibutuhkan dengan mempertimbangkan jumlah pelajaran yang dapat kamu tangani.
Kedua, mengatur waktu: Membuat rencana untuk membangun kebiasaan manajemen waktu yang baik. Gunakan alat seperti kalender dan aplikasi manajemen waktu untuk mengatur jadwal.
Ketiga, atur keuangan dan anggaran: Pastikan kita memiliki rencana keuangan yang baik untuk hal-hal seperti uang kuliah, buku, dan kebutuhan pokok lainnya. Mencari sumber pendanaan seperti beasiswa, freelance, dan magang.
Keempat, asuransi kesehatan: Pastikan kita memiliki asuransi kesehatan yang menanggung kebutuhan pengobatan di daerah tempat tinggal atau belajar di luar negeri.
Kelima, jaringan dukungan: Membangun jaringan dukungan yang mencakup teman sekelas, penasihat akademik, dan supervisor. Jika kita menghadapi masalah akademis atau pribadi, jangan ragu untuk meminta tolong.
Keenam, Kesehatan Mental: Utamakan kesehatan mental dengan mengenali tanda-tanda stres dan mencari bantuan saat membutuhkannya. carilah sumber daya kesehatan mental yang tersedia di kampus.
Ketujuh, pengembangan keterampilan: Selain bidang akademis, melatih diri untuk mengembangkan keterampilan tambahan yang akan memberi kita keunggulan kompetitif di tempat kerja.
Kedelapan, patuhilah terhadap kebijakan kampus: Memahami dan mematuhi kebijakan dan peraturan kampus, termasuk kode etik dan standar perilaku.
Kesembilan, pencadangan data: Selalu membuat cadangan data penting seperti tugas, dokumen, dan proyek akademik untuk menghindari hilangnya data.
Kesepuluh, memahami risiko keamanan: Memahami risiko keamanan di lingkungan kampus dan menerapkan langkah-langkah keselamatan pribadi, termasuk melindungi barang-barang berharga dan memahami prosedur evakuasi darurat.
Kesebelas, keterampilan komunikasi: Mempelajari keterampilan komunikasi, baik lisan maupun tulisan. Ini berguna untuk presentasi, berinteraksi dengan instruktur, dan berkolaborasi dengan teman.
Keduabelas, evaluasi dan penyesuaian: Secara berkala mengevaluasi rencana dan strategi yang dikembangkan dan melakukan penyesuaian sebagai respons terhadap perubahan kebutuhan dan tantangan baru.
Oleh demikian itu, mahasiswa/i harus mempersiapkan segala aspek yang ada, mereka dapat mengurangi risiko dan meningkatkan peluang keberhasilan akademik dan pengembangan pribadi yang lebih baik.
Baca juga: Manajemen Risiko Teknologi Informasi untuk Pengembangan Bisnis
Manajemen risiko merupakan suatu cara dalam mengelola suatu risiko yang akan terjadi baik yang sudah teridentifikasi ataupun yang belum. Risiko bisa dipindahkan kepada orang lain, bisa dihindari risikonya, dan menerima seluruh konsekuensi risiko.
Manajemen risiko bisa dikatakan sebagai suatu pendekatan terorganisir dalam mengelola kerugian yang bertentangan dengan ancaman.
Manajemen risiko sangat dibutuhkan dalam proses pembelajaran dibangku perkuliahan secara efektif. Dengan ini seorang mahasiswa/i bertindak segala sesuatunya dengan baik dan benar. Risiko yang terjadi tidak bisa 100% dihilangkan, ia hanya bisa dikecilkan risikonya.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.
Penulis: Zahra Maghfirani, Mahasiswi Program Studi Manajemen Bisnis Syariah STEI SEBI