Mata Akademisi, Milenianews.com – Agama merupakan aspek yang sangat signifikan dalam kehidupan manusia sejak zaman dahulu hingga masa kini. Hampir seluruh peradaban besar di dunia tumbuh dan berkembang dengan nilai-nilai religius sebagai fondasi utamanya. Namun, dalam konteks kehidupan modern—khususnya di lingkungan perguruan tinggi—agama kerap dipandang sebagai urusan pribadi yang terpisah dari ranah ilmu pengetahuan. Padahal, jika ditelaah lebih mendalam, agama memiliki peran penting dalam membentuk karakter, pola pikir, serta sikap mahasiswa dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Mahasiswa berada pada fase pencarian jati diri. Pada tahap ini, individu mulai mempertanyakan dan meninjau kembali nilai-nilai yang telah diyakini sejak kecil, termasuk nilai-nilai keagamaan. Oleh karena itu, pembahasan mengenai peran agama dalam kehidupan mahasiswa menjadi sangat relevan agar agama tidak sekadar dipahami sebagai ritual formal, melainkan sebagai pedoman hidup yang kontekstual dengan realitas sosial dan akademik.
Baca juga: Mahasiswa dan Krisis Seperempat Abad: Saat Masa Depan Terasa Terlalu Dekat
Salah satu peran utama agama dalam kehidupan mahasiswa adalah sebagai pedoman etika. Di lingkungan kampus, mahasiswa dihadapkan pada berbagai dilema dan tantangan, seperti pergaulan bebas, praktik plagiarisme, penyalahgunaan narkoba, serta sikap individualistis. Tanpa landasan moral yang kuat, mahasiswa berisiko terjerumus ke dalam perilaku yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Agama mengajarkan nilai-nilai universal, seperti kejujuran, tanggung jawab, disiplin, dan kepedulian terhadap sesama. Nilai-nilai tersebut sangat relevan dalam kehidupan akademik. Misalnya, ajaran tentang kejujuran mendorong mahasiswa untuk menjauhi kecurangan saat ujian maupun plagiarisme dalam penyusunan tugas. Dengan demikian, agama berfungsi sebagai kompas moral yang membantu mahasiswa membedakan antara benar dan salah.
Agama sebagai landasan etika dan moral mahasiswa
Selain sebagai panduan moral, agama juga berperan penting dalam pembentukan karakter mahasiswa. Karakter tidak hanya berkaitan dengan kecerdasan intelektual, tetapi juga mencakup kecerdasan emosional dan spiritual. Mahasiswa yang memiliki pemahaman agama yang baik cenderung menunjukkan sikap sabar, rendah hati, serta mampu mengendalikan diri dalam menghadapi tekanan dan konflik.
Perbedaan pendapat di lingkungan kampus merupakan hal yang wajar, baik dalam diskusi akademik maupun kegiatan organisasi kemahasiswaan. Dalam hal ini, agama mengajarkan pentingnya toleransi dan sikap saling menghormati. Dengan karakter yang matang, mahasiswa tidak hanya mampu berprestasi secara akademik, tetapi juga menjunjung tinggi nilai integritas dalam kehidupan bermasyarakat.
Sering kali muncul anggapan bahwa agama dan ilmu pengetahuan merupakan dua hal yang saling bertentangan. Padahal, dengan pemahaman yang tepat, keduanya justru saling melengkapi. Ilmu pengetahuan berperan dalam membantu manusia memahami fenomena alam dan realitas kehidupan, sementara agama memberikan arah etis dalam pemanfaatan ilmu tersebut.
Bagi mahasiswa, agama dapat menjadi dasar moral dalam pengembangan ilmu pengetahuan.
Relasi agama dan ilmu pengetahuan di lingkungan akademik
Dalam bidang sains dan teknologi, misalnya, agama berfungsi sebagai pengingat agar inovasi dan hasil penelitian tidak disalahgunakan untuk kepentingan yang merugikan umat manusia. Dengan demikian, agama bukanlah penghambat kemajuan ilmu, melainkan penuntun agar kemajuan tersebut membawa manfaat yang lebih luas.
Tekanan akademik, tuntutan prestasi, serta persoalan pribadi sering kali memicu stres dan kecemasan pada mahasiswa. Dalam kondisi tersebut, agama dapat menjadi sumber ketenangan batin. Melalui ibadah, doa, dan refleksi spiritual, mahasiswa dapat memperoleh ketenteraman serta kekuatan mental untuk menghadapi berbagai tantangan.
Agama juga mengajarkan bahwa setiap kesulitan mengandung hikmah dan peluang untuk belajar. Keyakinan ini membantu mahasiswa agar tidak mudah menyerah ketika mengalami kegagalan, seperti hasil akademik yang kurang memuaskan atau rencana yang tidak berjalan sesuai harapan. Dengan ketahanan mental yang baik, mahasiswa mampu bangkit dan terus berproses.
Agama sebagai sumber ketahanan mental mahasiswa
Mahasiswa merupakan bagian dari komunitas kampus dan masyarakat yang lebih luas. Agama menanamkan nilai kepedulian sosial, keadilan, dan semangat saling membantu. Nilai-nilai ini dapat diwujudkan melalui berbagai kegiatan sosial, seperti pengabdian kepada masyarakat, bakti sosial, maupun aktivitas organisasi keagamaan.
Melalui keterlibatan dalam kegiatan tersebut, mahasiswa dapat mengembangkan kepekaan terhadap persoalan sosial di sekitarnya. Agama mendorong mahasiswa untuk tidak hanya berorientasi pada kepentingan pribadi, tetapi juga berkontribusi bagi kesejahteraan bersama. Hal ini sejalan dengan peran mahasiswa sebagai agen perubahan dalam masyarakat.
Meskipun memiliki peran yang sangat penting, penerapan nilai-nilai keagamaan di kalangan mahasiswa tidak terlepas dari berbagai tantangan. Globalisasi dan kemajuan teknologi informasi membawa pengaruh budaya yang tidak selalu sejalan dengan ajaran agama. Media sosial, misalnya, kerap mempromosikan gaya hidup hedonis dan orientasi pada popularitas semata.
Selain itu, pemahaman agama yang dangkal dapat memicu sikap intoleran dan ekstrem. Oleh karena itu, mahasiswa perlu mengembangkan pemahaman keagamaan yang moderat, kritis, dan terbuka agar mampu mengamalkan ajaran agama secara bijaksana dan sesuai dengan konteks perkembangan zaman.
Baca juga: Peran Aksiologi dalam Pembentukan Karakter Mahasiswa di Era Modern
Agama memiliki peran yang sangat signifikan dalam kehidupan mahasiswa, baik sebagai pedoman etika, pembentuk karakter, sumber ketenangan batin, maupun dasar moral dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Di tengah dinamika dan tantangan era modern, agama tetap relevan untuk menjaga keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan spiritual.
Dengan memahami dan mengamalkan nilai-nilai agama secara tepat, mahasiswa dapat tumbuh menjadi individu yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga berakhlak mulia dan memiliki kepedulian sosial. Oleh karena itu, agama bukanlah penghambat kemajuan, melainkan sumber inspirasi dalam membangun masa depan yang lebih baik.
Penulis: Imratuss Shalihah, Mahasiswa Hukum Ekonomi Syariah IAI SEBI
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube Milenianews.







