Kosakata Sains dalam Bingkai Bahasa Arab klasik: Strategi Tantawi Jawhari dalam Memperkenalkan Istilah Modern

Kosakata Sains

Milenianews.com, Mata Akademisi – Kemajuan sains barat yang pesat pada abad ke-19 dan ke-20, ditandai dengan revolusi industry penemuan empiris, dan dominan epistimologi sekuler, menciptakan tantangan intelektual yang mendalam bagi dunia Arab-Islam. Gelombang modernitas ini tidak hanya mengungkap ketertinggalan teknologi tetapi juga memicu krisis kepercayaan terhadap khazanah keilmuan tradisional islam. Dalam situasi ini, Al-Qur’an sebagai kitab suci diuji relevansinya , bagaimana merespon narasi sains modern tanpa mengorbankan otentisitas wahyu. Saalah satu respons penting datang dari ulama seperti Tantawi Jauhari (1870-1940), yang melalui tafsir ilmi berusaha menunjukan keselarasan antara ayat-ayat kauniyah dan temuan sains modern. Pendekatan ini sekaligus menjadi medan reonsiliasi antara iman dan ilmu serta upaya strategis untuk mengintegrasikan kosakata sains modern kedalam bingkai Bahasa arab klasik tanpa kehilangan identitas kebahasaanya.

Baca juga: Revolusi Kecerdasan Buatan dan Batasan Pengetahuan Manusia

Tantawi Jauhari dengan latar Pendidikan yang menggabungkan tradisi keislaman di Al-Azhar dan wawasan ilmu umum di Dar al-‘Ulum muncul sebagai sosok visioner. Dalam mahakaryanya Al-Jawahir Fii Tafsir Al-Qur’an Al-Karim, ia tidak hanyan menafsirkan teks suci tetapi juga secara sistematis merancang strategi memperkenalkan istilah modern melalui pendekatan linguistic yang inovatif. Tantawi tidak serta merta menciptakan neologisme radikal atau mengandalkan transliterasi istilah asing. Sebaliknya, ia mengoptimalkan pemaknaan kembali (semantic extension) terhdap kosakata klasik. Misalnya, istilah “alam”(semesta) diperluas maknanya menjadi “alam atas” (langit bintang planet) dan “alam bawah”( bumi lautan makhluk hidup), sehingga menghubungkan konsep astronomi dan geosains dengan leksikon yang telah dikenal dalam bidang biologi, ia mendeskripsikan proses fisiologis sepert pertumbuhan kurma atau perkembangan janin dengan bahasa deskriptif yang kaya, memanfaatkan analogi dan penggandaan makna (masdararah ) untuk menerangkan fenomena alam tanpa meninggalkan kerangka Bahasa arab.

Pendekatan tantawi jauhari menawarkan jalan tengah  antara menjaga identitas Bahasa dan menjawab tuntutan modernisasi. Ditengah dunia islam yang menghadapi pengaruh kuat budaya dan sains barat, cara tantawi memperluas makna kata bukan sekedar alat Bahasa, melainkan juga pernyataan sikap, ia menunjukan bahwa cara berpikir dan kosakata tradisi islam masih relevan, dapat diperbarui dan diesuaikan dengan realitas baru.

Warisan pemikiran tantawi menjadi dasar penting bagi upaya mengislamkan ilmu pengetahuan modern. Upaya ini tidak hanya menyentuh etika dan metafisika, tetapi juga menciptakan Bahasa ilmiah yang otentik dan bersumber dari tradisi islam sendiri. Meski mungkin kurang memadai untuk kebutuhan spesialisasi teknis yang sangat mendalam, fondasi yang ia bangunmenginspirasi lahirnya sains yang tetap terhubung dengan budaya dan spiritualitas islam. Dengan begitu, ilmu pengetahuan tidak hanya menjadi produk impor, tetapi bagian dari perjaanan peradaban islam yang berkelanjutan.

Strategi ini berbeda dengan kecenderungan Bahasa arab modren yang lebih mengandalkan transliterasi terkontrol (seperti “tilifin” untuk telpon ) atau penciptaan istilah baru (“Kawkab” untuk pelanet). Kelebihan pendekatan Tantawi terletak pada kemampuannya menjaga kohesi linguistic dan memudahkan penerimaan oleh masyarakat yang akrab dengan kosakata agama. Namun, dari perspektf linguistic kontemporer, pendekatan ini memiliki keterbatasan dalam hal presis terminologis yang diperlukan untuk komunikasi ilmiah yang teknis. Meski demikian upaya tantawi  membuktikan fleksibilitas  Bahasa arab klasik dalam merespons perubahan ilmu pengetahuan ssekaligus menawarkan fondasi bagi wacana islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer

Dalam konteks kekinian diera digital dan disrupsi teknologi warisan strategi jawhari tetep relevan, ia mengingatkan bahwa integrase ilmu dapat dilakukan tanpa mengorbankan akar leksikal melalui pendalaman makna dan kontekstualisasi kosakata yang telah ada, pendekatan dialogisnya antara teks suci dan realitas sains menjadi inspirasi untuk membangun epistimologi keilmuan isla yang tetap berakar pada identitas Bahasa, sekaligus responsive terhadap kompleksitas zaman. Dengan demikian tantawi jauhari tidak hanya merekonsiliasi tradisi dan modernitas, tetapi juga menunjukkan jalan bagi Bahasa arab untuk tetep menjadi medium ilmu pengetahuan yang hidup dinamis, dan penuh makna.

Upaya intelektual tantawi jawhari membuktikan bahwa Bahasa arab bukanlah entitas yang statis melainkan seuah system yang dinamis dan lentur mampu beradaptasi dengan tuntunan zaman tanpa tercerabut dari akar tradisinya. Melalui strategi pemaknaan kembali analogi, dan deskripsi yang kontekstual, ia menunjukan bahw khazanah leksikal klasik dapat diperluas untuk menjangkau konsep-konsep modern, seperti kosakata sains dalam astronomi, biologi, dan fisika. Pendekatan ini tidak hanya sekedar rekonsiliasi antara teks suci dan ilmu pengetahuan, tetapi lebih jauh merupakan sebuah model strategi linguistic yang berakar dan kontekstual, dimana inovasi berjalan beriringan dengan pelestarian identitas kebahsaan.

Baca juga: Pendidikan Agama di Era Modern: Menelaah Dampak Digitalisasi Terhadap Pemahaman Alquran di Kalangan Remaja Muslim

Implikassi dari warisan pemikiran jauhari sangat relevan bagi pengembangan Bahasa ilmiah di dunia islam masa kini. Di tengaj derasnya arus digitalisasi dan disrupsi teknologi, dunia islam  dihadapkan pada kebutuhan mendesak untuk memiliki kosakata ilmiah yang presisi namun tetap autentik dan mudah diakses oleh masyarakat. Jawhari mengajarkan bahwa pengayaan bahs arab kontenporer tidak harus selalu melalui jalan transliterasi atau neologisme impor, melainkan dapat dimulai dari pendalaman dan kontekstualisasi khazanahnya sendiri. Dengan demikian Bahasa arab dapat terus menjadi medium ilmu pengtahuan yang hidup sebuah jembatan yang kokoh antara warisan tradisi yang kaya dan inovasi peradaban yang terus berubah.

Tantawi Jauhari tidak hanya sekedar menjadi respon historis  terhadap gempuran modernitas barat, melainkan telah mewariskan sebuat paradigma abadi tentang bagaimana bahasa  dan tradisi keilmuan islam dapat berdialog secara kreatif dan bermartabat dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Melalui strategi sematic extension dan kontekstualisasi kosakata klasik, ia membuktikan bahwa Bahasa arab sebagai jiwa peradaban islam memiliki kelenturan  intrinsic untuk mengakomodasi realitas baru tanpa tercerabut dari akar makna dan identitasnya. Warisannya menjadi fondasi bagi epistimologi keilmuan islam yang integratif, yang menolak dikotomi antara iman dan ilmu, serta menawarkan jalan bagi terciptanya lingua franca ilmiah yang otentik, dinamis dan penuh makna.

Penulis: Sovia Nur Hidayah, Mahasiswa Institut Ilmu Al-Qur’an Jakarta.

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube Milenianews.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *