Milenianews.com, Mata Akademisi – Dalam pendidikan modern, klasifikasi ilmu sekuler dan gagasan Islamisasi ilmu menjadi isu yang semakin sering diperbincangkan, khususnya di negara mayoritas Muslim seperti Indonesia. Ilmu pengetahuan kerap dipandang sebagai sesuatu yang netral dan universal, sehingga dianggap tidak perlu dikaitkan dengan agama. Sains, teknologi, dan ilmu sosial ditempatkan sebagai hasil rasionalitas manusia yang berdiri sendiri, terlepas dari nilai-nilai spiritual.
Pandangan tersebut mendorong pemisahan antara ilmu agama dan ilmu umum dalam sistem pendidikan. Ilmu agama diposisikan sebagai urusan ibadah dan moral pribadi, sementara ilmu umum difokuskan pada pengembangan rasionalitas dan keterampilan praktis. Akibatnya, keduanya seolah memiliki sumber dan tujuan yang berbeda, meskipun sama-sama berperan dalam membentuk cara pandang manusia terhadap kehidupan.
Akar Historis Klasifikasi Ilmu Sekuler
Klasifikasi ilmu sekuler mulai menguat sejak masa kolonial, ketika sistem pendidikan Barat diperkenalkan dan diterapkan secara luas. Pendidikan modern kemudian memprioritaskan rasionalitas, observasi, dan eksperimen, sementara agama ditempatkan sebagai aspek spiritual yang tidak berkaitan langsung dengan pengembangan ilmu pengetahuan.
Pola ini terus berlanjut hingga masa kini, sehingga dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum dianggap sebagai sesuatu yang wajar. Dalam pandangan sekuler, agama tidak lagi dijadikan sebagai sumber epistemologi, melainkan hanya berfungsi mengatur wilayah ibadah dan etika personal. Padahal, banyak konsep ilmu modern mengandung nilai dan ideologi Barat yang tidak selalu selaras dengan ajaran Islam.
Dikotomi Ilmu dan Krisis Pendidikan di Indonesia
Di Indonesia, pengaruh pemikiran sekuler dalam pendidikan terlihat jelas melalui pemisahan lembaga dan kurikulum. Pendidikan agama umumnya diajarkan di pesantren, madrasah, atau fakultas keagamaan, sementara ilmu umum diajarkan di sekolah negeri dan universitas tanpa integrasi nilai Islam secara mendalam.
Kondisi ini melahirkan dua persoalan utama. Pertama, muncul dikotomi kuat antara ilmu agama yang dianggap spiritual dan ilmu umum yang dianggap duniawi. Kedua, terjadi krisis identitas di kalangan pelajar Muslim yang kesulitan menghubungkan keyakinan agama dengan ilmu yang mereka pelajari di bangku pendidikan formal.
Sebagai contoh, mahasiswa biologi dapat mempelajari teori evolusi sebagai penjelasan utama asal-usul makhluk hidup, namun tidak diberi ruang untuk meninjaunya dari perspektif Islam. Sebaliknya, pelajaran agama jarang mengaitkan sains sebagai bagian dari ayat-ayat kauniyah yang menunjukkan kebesaran Allah. Akibatnya, ilmu tidak lagi dipahami sebagai sarana mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
Baca juga: Qirā’at QS. Al-Ahzab: 33 dan Ruang Karir Perempuan dalam Perspektif Matan Syatibi
Dampak Sosial dari Pemisahan Ilmu
Sejak awal kemerdekaan, pendidikan Indonesia banyak mengikuti model Barat. Pelajaran agama hanya memperoleh porsi kecil dalam kurikulum, sementara ilmu umum lebih dominan. Akibatnya, pendidikan agama sering dianggap sebagai pelengkap, bukan fondasi pembentukan karakter.
Ilmu umum yang dipelajari tanpa nilai moral dan spiritual yang kuat berpotensi menimbulkan kerusakan sosial. Fenomena seperti korupsi, penyalahgunaan teknologi, dan penyebaran hoaks menunjukkan bahwa kecerdasan intelektual tanpa landasan etika dapat berdampak negatif. Teknologi informasi, misalnya, sering digunakan untuk cyberbullying dan plagiarisme karena lemahnya kesadaran moral.
Islamisasi Ilmu sebagai Alternatif Epistemologis
Islamisasi ilmu hadir sebagai upaya mengembalikan kesatuan antara ilmu dan nilai tauhid. Gagasan ini menegaskan bahwa seluruh pengetahuan bersumber dari Allah dan harus diarahkan untuk kemaslahatan umat manusia. Tokoh seperti Syed Muhammad Naquib al-Attas dan Ismail al-Faruqi menekankan bahwa ilmu tidak cukup hanya benar secara logis, tetapi juga harus selaras dengan tujuan spiritual Islam.
Islamisasi ilmu tidak bertujuan menolak sains modern, apalagi mengganti seluruh teori Barat. Gagasan ini juga tidak bermaksud mengubah pelajaran sains menjadi pelajaran agama. Sebaliknya, Islamisasi ilmu berupaya membersihkan pengetahuan dari cara pandang sekuler dan materialistik yang menafikan peran Tuhan.
Sebagai contoh, dalam ilmu ekonomi, pembahasan tidak hanya difokuskan pada keuntungan dan pertumbuhan, tetapi juga mencakup zakat, larangan riba, dan keadilan sosial. Dengan demikian, ilmu diarahkan untuk membawa keseimbangan antara kemajuan material dan tanggung jawab moral.
Tantangan Penerapan Islamisasi Ilmu
Meskipun memiliki tujuan ideal, penerapan Islamisasi ilmu masih menghadapi berbagai kendala. Di antaranya adalah keterbatasan pendidik yang mampu mengintegrasikan ilmu agama dan ilmu umum, serta belum adanya kurikulum baku yang mendukung penerapan konsep ini secara menyeluruh.
Selain itu, arus globalisasi dan dominasi pemikiran Barat melalui media dan teknologi turut membawa nilai-nilai yang tidak selalu selaras dengan ajaran Islam. Oleh karena itu, diperlukan riset berkelanjutan, pelatihan tenaga pendidik, dan kebijakan pendidikan yang lebih serius agar integrasi ilmu dalam perspektif Islam dapat diwujudkan secara nyata.
Pemisahan ilmu agama dan ilmu umum dalam pendidikan Indonesia telah melahirkan ketimpangan antara kecerdasan intelektual dan pembentukan akhlak. Islamisasi ilmu menawarkan solusi dengan mengintegrasikan nilai tauhid ke dalam seluruh disiplin pengetahuan, sehingga ilmu tidak hanya bermanfaat bagi kemajuan duniawi, tetapi juga memperkuat spiritualitas.
Meskipun penerapannya masih menghadapi berbagai tantangan, Islamisasi ilmu tetap relevan sebagai upaya membentuk generasi yang cerdas, berkarakter, dan memiliki kesadaran keislaman yang utuh. Oleh karena itu, diperlukan langkah konkret dan kebijakan pendidikan yang lebih kuat agar tujuan tersebut dapat tercapai.
Penulis: Sonia Bunga Pratiwi, Mahasiswa Semester 1 Ilmu Al-Quran dan Tafsir, Institut Ilmu Al-Qur’an Jakarta (IIQ)
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.













