Jadi Muslim Modern Boleh, Tapi Jangan Kehilangan Jati Diri

muslim modern

Milenianews.com, Mata Akademisi – Perkembangan zaman yang kian cepat telah mengubah banyak aspek kehidupan manusia. Modernisasi, globalisasi, dan kemajuan teknologi mendorong cara berpikir, berkomunikasi, serta berperilaku masyarakat menjadi semakin terbuka dan dinamis.

Di satu sisi, perubahan ini menghadirkan kemudahan dan efisiensi. Namun, di sisi lain, ia juga memunculkan kegelisahan: memudarnya nilai-nilai Islam dalam kehidupan umat Muslim. Tidak sedikit yang mulai mengesampingkan ajaran agama demi menyesuaikan diri dengan tuntutan zaman. Padahal, tantangan modernitas semestinya tidak menjadi alasan bagi seorang Muslim untuk kehilangan arah hidupnya.

Baca juga: Etika Kepemimpinan Islami sebagai Fondasi Organisasi Modern

Dalam konteks ini, mengikuti perkembangan zaman bukan berarti melepas identitas keislaman. Justru, seorang Muslim dituntut untuk bersikap bijak: mampu beradaptasi dengan perubahan, tetapi tetap menjadikan ajaran Islam sebagai pedoman utama dalam berpikir dan bertindak.

Jati diri pada dasarnya adalah ciri khas yang membentuk kepribadian seseorang dan menjadi pegangan dalam menjalani kehidupan. Dalam perspektif Islam, jati diri seorang Muslim tercermin dari keimanan yang kokoh, akhlak yang baik, dan konsistensi dalam menjalankan ibadah.

Akidah menjadi fondasi keyakinan, akhlak tampak dalam perilaku sehari-hari, dan ibadah menunjukkan relasi seorang hamba dengan Allah SWT. Ketiganya saling berkaitan dan membentuk kepribadian Muslim yang utuh. Tanpa jati diri yang kuat, seorang Muslim akan mudah terombang-ambing oleh arus perubahan, bahkan cenderung menyesuaikan diri secara membabi buta dengan nilai-nilai yang bertentangan dengan ajaran Islam.

Islam sebagai ajaran yang adaptif dan relevan

Menerapkan ajaran Islam di tengah kehidupan modern memang bukan perkara mudah. Pengaruh budaya luar dan gaya hidup modern kerap kali tidak sejalan dengan nilai-nilai Islam, seperti pola hidup bebas, konsumtif, dan berlebihan. Di sisi lain, perkembangan teknologi dan media sosial menghadirkan arus informasi yang deras, tidak semuanya membawa dampak positif.

Jika tidak disikapi secara kritis, konten-konten tersebut dapat memengaruhi cara berpikir dan perilaku, terutama generasi muda. Tekanan sosial—keinginan untuk diterima, mengikuti tren, dan tidak dianggap berbeda—sering kali membuat seseorang ragu untuk menjalankan ajaran agama secara konsisten.

Meski demikian, Islam bukan agama yang kaku dan tertutup terhadap perubahan. Islam bersifat fleksibel dan membawa rahmat bagi seluruh alam. Nilai-nilai dasar seperti kejujuran, keadilan, tanggung jawab, dan toleransi justru sangat relevan dengan kehidupan modern.

Islam juga mengajarkan keseimbangan antara urusan dunia dan akhirat, sehingga seorang Muslim tidak terjebak pada orientasi material semata, tetapi tetap memiliki tujuan spiritual yang jelas. Dalam konteks ini, akhlak menjadi kunci utama. Melalui akhlak yang baik, ajaran Islam tidak hanya dipahami, tetapi juga dihadirkan secara nyata dalam kehidupan sosial.

Penerapan ajaran Islam dalam kehidupan modern dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana. Menjaga akidah agar tetap kuat di tengah derasnya perubahan zaman menjadi fondasi utama. Akhlak Islami perlu tercermin dalam pergaulan sehari-hari, di lingkungan kerja, maupun di ruang digital, seperti bersikap jujur, santun, dan saling menghormati.

Teknologi seharusnya dimanfaatkan sebagai sarana kebaikan dan kemaslahatan, bukan sebaliknya. Di tengah kesibukan dan tuntutan produktivitas, ibadah juga harus tetap dijaga secara konsisten. Dengan sikap terbuka, moderat, dan berpegang pada prinsip Islam, seorang Muslim dapat tetap relevan dengan zamannya tanpa kehilangan jati dirinya.

Baca juga: Islamisasi Ilmu Pengetahuan di Era Modern: Integrasi Spiritual dan Sains

Penerapan ajaran Islam yang konsisten membawa dampak positif yang nyata. Secara personal, seorang Muslim akan memiliki ketenangan batin, arah hidup yang jelas, serta keteguhan dalam menghadapi pengaruh negatif. Dalam lingkungan sosial, perilaku yang berlandaskan nilai Islam berpotensi menjadikan seseorang teladan, sekaligus menciptakan hubungan yang harmonis dan penuh toleransi. Lebih luas lagi, nilai-nilai Islam seperti kejujuran, keadilan, dan akhlak mulia dapat berkontribusi dalam membangun masyarakat yang lebih beradab, damai, dan manusiawi.

Ajaran Islam tetap relevan dan aplikatif di tengah kehidupan modern. Perkembangan zaman tidak seharusnya menjauhkan seorang Muslim dari nilai-nilai agamanya. Justru, modernitas menjadi ruang ujian sekaligus peluang untuk membuktikan bahwa Islam mampu menjadi pedoman hidup yang adaptif, seimbang, dan bermakna. Dengan pemahaman yang tepat dan sikap yang bijak, generasi Muslim dapat menghadapi modernitas tanpa kehilangan jati diri, serta menjalani kehidupan yang bermanfaat bagi diri sendiri dan masyarakat.

Penulis: Hanafi Daffa Firdausiy, Mahasiswa Manajemen Bisnis Syariah IAI SEBI

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube Milenianews.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *