Milenianews.com, Mata Akademisi — Dalam perjalanan intelektual manusia yang panjang, filsafat selalu hadir sebagai upaya memahami realitas secara mendasar. Meski kerap dipandang abstrak dan jauh dari kehidupan sehari-hari, filsafat sejatinya menjadi fondasi utama cara manusia berpikir dan bertindak. Kesadaran ini muncul ketika saya membaca makalah Sejarah Perkembangan Filsafat Ilmu, yang menunjukkan bahwa filsafat bukan sekadar deretan tokoh besar, melainkan cermin pencarian manusia atas kebenaran, makna, dan arah hidup.
Bagi mahasiswa, pemahaman terhadap filsafat tidak hanya memperluas wawasan akademik, tetapi juga menumbuhkan kemampuan reflektif yang sangat dibutuhkan dalam menghadapi kompleksitas dunia modern.
Perkembangan Filsafat: Dari Mitos Menuju Rasio
Sejarah filsafat memperlihatkan perubahan cara manusia memahami dunia. Pada masa Yunani Kuno, fenomena alam dijelaskan melalui mitos dan kepercayaan. Namun, kehadiran pemikir seperti Thales, Anaximander, dan Heraclitus menandai pergeseran penting dari pola pikir mitologis menuju rasionalitas.
Pertanyaan tidak lagi berkisar pada siapa penyebab suatu peristiwa, melainkan apa penyebab alaminya. Peralihan dari cara berpikir mitosentris ke logosentris inilah yang kemudian menjadi dasar berkembangnya tradisi ilmiah hingga saat ini.
Epistemologi dan Tantangan Informasi di Era Digital
Dalam konteks kehidupan modern, warisan pemikiran filsafat tetap relevan. Arus informasi yang sangat cepat, terutama melalui media sosial, sering kali menghadirkan berita dan opini yang belum tentu dapat dipercaya. Di sinilah epistemologi—cabang filsafat yang membahas sumber dan validitas pengetahuan—memegang peran penting.
Mahasiswa dituntut untuk bersikap kritis, memeriksa sumber informasi, serta mempertimbangkan logika dan bukti. Prinsip-prinsip yang dahulu ditekankan oleh Plato dan Aristoteles kini menjadi kebutuhan mendasar agar manusia tidak terjebak dalam disinformasi dan kesesatan berpikir.
Aksiologi: Nilai Moral dalam Penggunaan Ilmu
Selain epistemologi, filsafat ilmu juga menegaskan pentingnya aksiologi, yaitu nilai dan tujuan penggunaan ilmu. Perkembangan teknologi seperti kecerdasan buatan dan media digital membawa kemudahan besar, tetapi tanpa landasan etis, ilmu dapat berubah menjadi ancaman.
Kasus penyalahgunaan data pribadi, manipulasi opini publik, hingga eksploitasi teknologi menunjukkan bahwa ilmu tidak boleh dilepaskan dari tanggung jawab moral. Filsafat ilmu mengingatkan bahwa ilmu bukan hanya untuk menjelaskan realitas, tetapi juga harus membawa kemaslahatan bagi manusia.
Baca juga: Qirā’at QS. Al-Ahzab: 33 dan Ruang Karir Perempuan dalam Perspektif Matan Syatibi
Filsafat Islam dan Harmoni Akal serta Wahyu
Sejarah filsafat Islam menjadi bagian penting dalam memahami hubungan antara rasionalitas dan spiritualitas. Tokoh-tokoh seperti Al-Farabi, Ibnu Sina, dan Ibnu Rusyd menunjukkan bahwa filsafat tidak bertentangan dengan keimanan, melainkan dapat berjalan berdampingan.
Bagi mahasiswa masa kini, pendekatan ini relevan dalam menyeimbangkan tuntutan rasionalitas modern dengan nilai-nilai spiritual. Filsafat Islam memberikan teladan bahwa pencarian kebenaran ilmiah perlu berpijak pada nilai moral demi menjaga kesehatan sosial dan spiritual manusia.
Refleksi Diri dan Kegelisahan Mahasiswa Modern
Salah satu pelajaran paling personal dari filsafat ilmu adalah pentingnya mengenali diri sendiri. Pesan Socrates, know yourself, tetap hidup hingga hari ini. Mahasiswa kerap dihadapkan pada tekanan akademik, pencarian jati diri, serta ketidakpastian masa depan.
Penguasaan ilmu pengetahuan saja tidak cukup meredakan kegelisahan tersebut. Filsafat mengajak manusia berdialog dengan dirinya sendiri, memahami tujuan hidup, dan menata langkah dengan lebih sadar di tengah dunia yang serba cepat.
Kesadaran Kritis terhadap Realitas Sosial
Dalam kehidupan sehari-hari, filsafat juga membantu membangun kesadaran kritis terhadap lingkungan sosial. Standar yang dibentuk media sosial sering kali melahirkan tekanan psikologis melalui perbandingan sosial yang tidak sehat.
Filsafat moral mengingatkan bahwa nilai manusia tidak terletak pada tampilan luar atau pencitraan, melainkan pada kemampuan berpikir, bertindak, dan memberi makna pada kehidupan. Kesadaran ini menjadi benteng agar mahasiswa tidak terjebak dalam ilusi visual dan standar semu.
Kebebasan Berpikir sebagai Pilar Ilmu
Sejarah filsafat juga menunjukkan bahwa perkembangan ilmu tidak selalu berjalan mulus. Pada masa tertentu, pemikiran kritis terhambat oleh dominasi dogma. Namun, kebangkitan Renaissance mengingatkan bahwa kebebasan berpikir adalah syarat utama kemajuan ilmu.
Bagi mahasiswa, hal ini menjadi panggilan untuk terus bertanya, menelaah, dan membuka diri terhadap pemahaman baru. Tanpa keberanian berpikir kritis, ilmu akan kehilangan daya hidupnya.
Filsafat sebagai Panduan Hidup
Pada akhirnya, filsafat tidak berhenti pada konsep abstrak. Ia hadir dalam keputusan sehari-hari: bagaimana menentukan sikap, menilai benar dan salah, serta memaknai pengalaman hidup. Filsafat ilmu membantu menyadarkan bahwa ilmu selalu berdiri di atas nilai-nilai yang memberi arah pada penggunaannya.
Perjalanan filsafat dari Yunani hingga era modern menunjukkan bahwa manusia selalu mencari makna. Bagi mahasiswa, filsafat menjadi ruang refleksi untuk menjalani proses belajar dengan lebih sadar, kritis, dan bijaksana. Selama manusia masih bertanya tentang makna hidup, filsafat akan tetap menjadi teman setia dalam perjalanan menuju kedewasaan intelektual dan kematangan moral.
Penulis: Fibry Kurnia Dwi, Mahasiswa Semester 1 (IAT) Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.













