Akhlak

Milenianews.com, Mata Akademisi– Istilah akhlak sudah tidak jarang lagi terdengar di tengah kehidupan masyarakat. Mungkin sudah hampir semua orang mengetahui arti kata akhlak tersebut, karena perkataan akhlak selalu dikatikan dengan tingkah laku manusia. Secara bahasa,  kata akhlak berasal dari bahsa Arab yang sudah di-Indonesiakan. Ia merupakan akhlaaq jama’dari khuluqun yang berarti  “perangai”, tabiat, adat, dan sebagainya.

Kata akhlak ini mempunyai akar kata yang sama dengan kata khaliq yang bermakna pencipta makhluq yang artinya ciptaan, yang diciptakan, dari kata khalaqa, menciptakan. Dengan demikian kata khulq dan akhlak yang mengacu pada makna “penciptaan” segala yang ada selain Tuhan yang termasuk di dalamnya kejadian manusia.

Sedangkan pengertian akhlak,  menurut istilah,  adalah kehendak jiwa manusia yang menimbulkan suatu perbuatan dengan mudah karena kebiasaan tanpa memerlukan pertimbangan pemikiran terlebih dahulu. Sedangkan Abu Ahmad Salimi berasumsi bahwa “secara sosiologis di Indonesia kata akhlak sudah mengandung konotasi baik, jadi orang yang berakhlak berarti  orang yang berakhlak baik.”

Dalam kepustakaan, kata akhlak diartikan juga sebagai sikap yang melahirkan perbuatan (perilaku, tingkah laku) mungkin baik mungkin buruk, seperti yang telah dijelaskan di atas. Dengan demikian, kata akhlak berarti  sikap yang timbul dari alam diri manusia.yang terjadi tanpa pemikiran terlebih dahulu sehingga terjadi secara spontan dan tidak di buat-buat.

Menurut pendapat Imam al-Ghazali,  selaku pakar di bidang akhlak yang dikutip oleh Yunahar Ilyas yaitu: Akhlak adalah sifat yang tertanam dalam iwa yang menimbulkan perbuatan-perbuatan dengan gampang dan mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan. Jika sifat itu melahirkan perbuatan yang baik menurut akal dan syariat, maka disebut akhlak yang baik, dan bila lahir darinya perbuatan yang buruk, maka disebut akhlak yang buruk.

Pendapat lain dari Dzakiah Drazat mengartikan akhlak sedikit lebih luas yaitu,  “Kelakuan yang timbul dari hasil perpaduan antara nurani, pikiran, dan kebiasaan yang menyatu, membentuk suatu kesatuan tindakan akhlak yang dihayati dalam kenyataan hidup keseharian.”

Dari beberapa pengertian tersebut di atas, dapat dimengerti bahwa akhlak adalah tabiat atau sifat seseorang, yakni keadaan jiwa yang terlatih, sehingga dalam jiwa tersebut benar-benar telah melekat sifat-sifat yang melahirkan perbuatan-perbuatan dengan mudah dan spontan tanpa dipikirkan dan diangan-angankan terlebih dahulu. Dapat dipahami juga bahwa akhlak itu harus tertanam kuat atau tetap dalam jiwa dan melahirkan perbuatan yang selain benar secara akal, juga harus benar secara syariat islam yaitu Al-Qur’an dan al-Hadist.

Penulis: Apla Rahma Alya, Mahasiswa  Fakultas Sekolah Tinggi Ekonomi Islam SEBI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *