Vientiane, Ibu Kota Tenang di Jantung ASEAN

vientiane laos

Monumen Mirip Arc de Triomphe Paris

stupa

Saya mengunjungi Victory Gate Patuxai, monumen yang berlokasi di pusat kota, tepat di ujung utara Lane Xang Avenue, koridor jalan utama yang menjadi lokasi pusat perdagangan, perkantoran, pemerintahan, dan perhotelan. Patuxai berarti gerbang kemenangan, monumen yang dibangun pada 1960-an untuk menghormati para pahlawan yang gugur. Monumen ini menjadi simbol kedaulatan bangsa Laos dalam memperjuangkan kemerdekaan dari kolonialisme Prancis, sejalan dengan semangat Asia-Afrika pada era kemerdekaan bangsa-bangsa Asia dan Afrika di pertengahan abad ke-20.

Monumen ini terbuat dari beton dengan bentuk dasar menyerupai Arc de Triomphe di Paris. Terlihat pengaruh gaya Prancis yang dipadukan dengan unsur-unsur khas Laos. Ornamen dan ukiran bangunan ini menampilkan relief makhluk mitologis lokal seperti naga, kinnari (makhluk separuh burung), dan bunga teratai. Struktur utama memiliki lima menara yang melambangkan lima prinsip Buddhisme serta harmoni lima etnis Laos, dengan empat gerbang menghadap empat mata angin dan lengkungan tinggi besar. Tinggi monumen sekitar 49 meter, dilengkapi museum mini dan area istirahat. Pengunjung dapat naik ke bagian atas untuk melihat panorama kota.

Tidak jauh dari pusat kota terdapat kompleks stupa agung yang menjadi simbol kejayaan budaya Laos sekaligus kebanggaan nasional. Stupa ini berdiri megah dengan warna emas yang memantulkan cahaya matahari. Dari kejauhan, bentuknya yang besar tampak menjulang, terdiri atas beberapa tingkatan yang melambangkan tahapan jalan menuju pencerahan dalam ajaran Buddha. Saat mendekat, pengunjung disambut gerbang utama yang besar dengan halaman luas dan tertata rapi. Stupa dikelilingi bangunan-bangunan pendukung.

Semakin masuk ke kawasan inti, pengunjung dapat mengamati detail arsitektur stupa. Pondasi dan dasarnya tampak kokoh, dengan garis-garis lengkung yang mengarahkan pandangan ke puncak berlapis emas yang anggun dan menjadi titik fokus. Di sekelilingnya terdapat deretan puluhan patung Buddha yang tersusun rapi, menambah kesakralan dan suasana religius. Pengunjung lokal banyak datang untuk berdoa dan menyalakan dupa sebagai bentuk penghormatan, menciptakan nuansa spiritual yang kuat.

Jejak sejarah Pha That Luang telah ada sejak abad ke-3, meski bentuknya mungkin berbeda. Dalam perjalanannya, bangunan ini berkembang menjadi tempat berkumpul, berdoa, dan merayakan hari besar keagamaan. Sejak abad tersebut, bangunan dan luas lahan terus bertambah. Pada masa Kerajaan Lan Xang, stupa ini dibangun secara besar-besaran hingga mencapai bentuk seperti sekarang dan akhirnya menjadi monumen serta kebanggaan masyarakat Laos. Informasi mengenai fungsi dan perannya dalam mewariskan serta mempertahankan tradisi dan identitas bangsa dapat dibaca pada keterangan yang tersedia di lokasi.

Masjid Bergaya Neo-Mughal

Republik Demokratik Rakyat Laos berpenduduk sekitar 7,9 juta jiwa, lebih banyak dari penduduk Jakarta. Penduduk yang beragama Buddha sebagai agama nasional berjumlah sekitar 65%, penganut kepercayaan tradisional 31%, Katolik dan Kristen Protestan sekitar 2%, serta Muslim sekitar 1%. Informasinya, hanya ada satu masjid di kota ini. Saya pun berkunjung ke Vientiane Jamia Mosque, masjid di negara dengan penduduk Muslim minoritas. Masjid ini terletak dekat pusat kota, di sebuah jalan kecil yang jauh dari keramaian lalu lintas. Bangunannya sederhana, tetapi memiliki makna mendalam, mencerminkan kehidupan Muslim minoritas yang hidup damai berdampingan dengan masyarakat sekitar. Masjid ini menjadi pusat ibadah sekaligus pusat kegiatan keagamaan dan tempat berkumpul umat Muslim pada momen tertentu, khususnya hari besar keagamaan.

Baca juga: Yangon, Kota yang Hidup di Antara Masa Lalu dan Doa yang Menggema

Masjid ini selesai dibangun pada 1970-an dan menjadi masjid terbesar serta tertua di Republik Laos. Pembangunannya diinisiasi oleh para perantau Muslim dari Tamil Nadu, India Selatan, serta komunitas Muslim dari India, Pakistan, dan Bangladesh yang datang untuk berdagang dan bekerja, termasuk sisa migrasi pada masa kolonial. Karena itu, arsitektur masjid dipengaruhi gaya Neo-Mughal khas India Selatan, yang diadaptasi dengan konteks Laos melalui penggunaan kubah tunggal, menara kecil, dan fasad sederhana.

Secara kelembagaan, masjid ini menganut tradisi Islam Sunni mazhab Hanafi, sesuai latar belakang mayoritas jamaah pendirinya. Masjid di negara dengan Muslim sebagai minoritas ini menarik untuk dikunjungi sebagai sarana mengenal budaya setempat, khususnya kehidupan masyarakat Muslimnya. Saya berkunjung juga dengan tujuan tersebut.

Kontributor: Dr. Ir. Wahyu Saidi, MSc, seorang Entrepreneur, Peminat dan Penikmat Kuliner

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *