Oleh: Dr. Ir. Wahyu Saidi, MSc, seorang Entrepreneur, Peminat dan Penikmat Kuliner
Milenianews.com – Saya berada di Ternate, Maluku Utara—wilayah yang belakangan makin sering muncul di media sosial dan perlahan semakin populer.
Sore ini saya duduk di sebuah kedai kecil di Pantai Falajawa, Kota Ternate. Matahari baru saja bersembunyi menuju ufuk, sementara aroma laut yang khas menyentuh hidung. Ternate adalah kota besar di Maluku Utara, tetapi banyak orang belum sadar bahwa ibu kota provinsi ini sebenarnya adalah Sofifi yang berada di Pulau Halmahera.
Ternate bukan hanya kota atau pulau. Pulau ini seperti sebongkah gunung api yang muncul dari laut. Jika melihat dari pantai, siluet Gunung Gamalama tampak berdiri kokoh di belakang kota. Ternate memang berada di kaki gunung tersebut.
Di kejauhan terlihat Pulau Tidore, dan di antara Ternate dan Tidore berdiri Pulau Maitara yang berbentuk gunung kecil. Pulau ini pernah terkenal karena menjadi gambar pada uang kertas Rp1.000. Berbeda dengan banyak kota pesisir yang biasanya terasa gerah, udara sore di Ternate justru sejuk. Angin laut yang berhembus bertemu dengan udara dingin dari pegunungan.
Baca juga: Melaka, Kota Persilangan Sejarah dan Budaya Peranakan
Kolonial Belanda berpusat di Ternate sebelum pindah ke Batavia

Di pesisir Ternate berdiri benteng peninggalan kolonial Belanda yang sangat penting: Fort Oranje. Benteng ini dibangun pada tahun 1607 oleh VOC dan namanya diambil dari tokoh Belanda William of Orange. Penamaan itu menjadi simbol kebanggaan Belanda karena pada masa itu Ternate dan Tidore merupakan pusat perdagangan rempah paling penting di dunia.
Dari benteng ini, Dutch East India Company mengawasi jalur laut yang menjadi urat nadi perdagangan rempah. Dari sini pula aktivitas perdagangan cengkih di Maluku dikendalikan untuk pasar Eropa. Benteng ini juga sempat menjadi pusat administrasi Belanda di Nusantara sebelum akhirnya dipindahkan ke Batavia pada tahun 1619 oleh Jan Pieterszoon Coen. Saat itu Jayakarta diubah namanya menjadi Batavia.
Arsitektur Fort Oranje dibangun dengan dinding batu tebal berbentuk persegi dan memiliki bastion di keempat sudutnya. Benteng ini dirancang sebagai pusat pertahanan, kantor pemerintahan, gudang rempah, gudang senjata, sekaligus asrama prajurit.
Kini benteng tersebut telah dipugar. Beberapa bagian mengalami perubahan, tetapi bentuk aslinya masih tetap terlihat.
Gohu, menu ikan mentah Khas Maluku

Di hadapan saya tersaji sepiring gohu ikan, salah satu menu khas Ternate yang sering disebut sebagai sashimi ala Maluku. Gohu adalah refleksi dari budaya masyarakat pesisir yang memanfaatkan bahan makanan paling dekat dengan kehidupan mereka: ikan laut segar. Biasanya digunakan ikan tuna atau cakalang.
Kesegaran ikan menjadi syarat utama karena hidangan ini tidak dimasak dengan api. Daging ikan dipotong berbentuk dadu lalu dicampur dengan perasan jeruk lokal yang memberi rasa segar dan sedikit asam. Minyak kelapa yang dipanaskan kemudian disiramkan ke atas potongan ikan. Proses ini membuat daging ikan sedikit matang secara alami sekaligus mempertahankan teksturnya yang lembut.
Setelah itu ditambahkan taburan kacang goreng yang digerus, irisan bawang merah, daun kemangi, dan jika suka potongan cabai rawit untuk memberi sensasi pedas. Bumbunya sederhana, tetapi seluruh rasa berpadu dalam harmoni yang menyegarkan.
Gohu ikan sebenarnya layak dikenal lebih luas sebagai bagian dari kekayaan kuliner Indonesia. Di wilayah barat Indonesia, hidangan ikan biasanya dimasak dengan bumbu pekat dan santan seperti gulai kepala ikan atau gangan Belitung. Sebaliknya di Indonesia timur, pendekatannya berbeda. Kesegaran bahan menjadi inti rasa.
Menyeberang ke Masjid Sultan di Tidore

Pulau Tidore lebih besar dibanding Ternate. Kedua pulau ini berhadapan langsung dan hanya dipisahkan oleh selat sempit. Secara geografis Tidore berada di selatan Ternate dan di barat Pulau Halmahera. Sejak abad ke-15 wilayah ini sudah dikenal sebagai pusat perdagangan rempah dunia, terutama cengkih dan pala.
Jika Ternate memiliki Gunung Gamalama, maka Tidore didominasi oleh Gunung Kie Matubu. Gunung ini sejak lama menjadi penanda alami bagi para pelaut yang melintas di wilayah Pasifik. Karena berada di jalur perdagangan maritim, Tidore sudah bersentuhan dengan dunia luar sejak abad ke-13. Pengaruh Islam masuk melalui para saudagar dari Gujarat dan Arab yang berdagang di wilayah ini.
Catatan sejarah menyebut pada akhir abad ke-15 Sultan Tidore ke-9, Kolano Ciriati, memeluk Islam dan kemudian bergelar Sultan Jamaluddin. Sejak saat itu Islam menjadi agama resmi kerajaan.
Saya memulai perjalanan menuju Tidore dari Pelabuhan Ternate. Dengan kapal cepat, perjalanan hanya sekitar 15 menit. Cuaca kebetulan sangat baik. Dari atas kapal terlihat Gunung Gamalama perlahan menjauh sementara Pulau Tidore semakin mendekat.
Saya mendarat di Pelabuhan Rum lalu melanjutkan perjalanan dengan mobil menuju pusat Kesultanan Tidore. Tujuan saya adalah Masjid Sultan. Perjalanan menyusuri jalan pesisir yang bersih dan sepi. Di sisi kiri laut terbentang luas, sementara di kanan tampak perbukitan hijau yang masih alami.
Baca juga: Kupang, Wajah Indonesia Timur yang Tenang
Mobil berbelok dari jalan utama dan tiba-tiba muncul bangunan masjid yang megah namun tenang. Kubah Masjid Sultan Tidore berkilau diterpa cahaya matahari. Di belakangnya berdiri Gunung Marijang yang hijau pekat. Bangunan masjid ini memadukan gaya arsitektur lokal Maluku dengan tradisi Islam Nusantara. Atapnya bertingkat berbentuk tajug, sementara ruang salatnya luas dengan tiang-tiang kayu sebagai penyangga.
Masjid ini dibangun pada awal 1700-an pada masa pemerintahan Sultan Djamaluddin. Masjid tersebut menjadi pusat ibadah bagi keluarga kesultanan dan masyarakat. Pagar masjid rendah, seolah menandakan bahwa tempat ini terbuka bagi siapa saja yang datang dengan niat damai.
Beberapa warga berjalan santai dengan sarung dan baju koko, menebar senyum ramah. Angin laut berhembus melewati pilar-pilar masjid, membuat udara terasa sejuk. Masjid ini berdiri di pusat Kota Soasio, menjadi simbol kedaulatan sekaligus saksi sejarah panjang Kesultanan Tidore.
Saya merasa bahagia pernah menginjakkan kaki di dua pulau bersejarah ini—Ternate dan Tidore.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.













