Oleh: Dr. Ir. Wahyu Saidi, MSc, seorang Entrepreneur, Peminat dan Penikmat Kuliner
Milenianews.com – Kita, sebagai muslim, hidup sebagai mayoritas di negeri ini. Posisi yang nyaman dan sering kali membuat kita lupa bahwa begitu keluar negeri, kita menjadi minoritas. Di Jakarta, mencari makanan halal nyaris tanpa hambatan. Masjid pun mudah dijumpai di hampir setiap RW. Namun, pengalaman berubah ketika saya berada di Hanoi atau di pedalaman Provinsi Guangzhou, Tiongkok. Mencari makanan halal tidak selalu mudah. Demikian pula ketika menjadi wisatawan di Antwerpen, Belgia, atau di Budapest, Hungaria. Untuk menunaikan salat Jumat, bisa jadi tidak bertemu masjid.
Karena itu, saya selalu tertarik mencari masjid di luar negeri. Bukan hanya untuk beribadah, tetapi juga sebagai bagian dari perjalanan memahami budaya setempat. Mengunjungi masjid dapat menjadi pelajaran tentang sejarah global Islam. Ada masjid yang pernah berubah fungsi menjadi gereja di satu negara, sementara di negara lain ada gereja yang kemudian menjadi masjid. Arsitektur masjid pun mencerminkan lintas peradaban, karena dipengaruhi latar budaya jamaah yang membangunnya. Tidak selalu bercorak Arab; ada pengaruh India, Turki, bahkan Eropa. Wisata masjid memperluas wawasan toleransi dan menjadi ruang refleksi spiritual.
Di negara maju dengan mayoritas penduduk nonmuslim, masjid umumnya hadir di ibu kota atau kota-kota dengan populasi imigran muslim yang cukup besar. Dari banyak masjid yang saya kunjungi, masjid sering kali berdiri tenang: tidak menonjol, tetapi juga tidak menghilang. Ia hadir sebagai jejak peradaban dan adaptasi budaya, tempat tradisi menyesuaikan diri dengan lingkungan tanpa kehilangan identitas. Dari sana, kita bisa memahami bagaimana Islam hidup sebagai minoritas, berdialog dengan hukum sekuler dan modernitas setempat.
Baca juga: Antwerpen, Kota yang Membiarkan Sejarah dan Modernitas Berdampingan
Masjid Westermoskee, ruang jeda di tengah keriuhan Amsterdam

Saya menuju Westermoskee, masjid di kawasan barat Amsterdam. Dari Stasiun Sentral, saya naik trem nomor 13, melewati deretan toko rapat, rumah-rumah tua, dan sesekali kanal. Perjalanan singkat, sekitar 15 menit. Trem berhenti di Bos en Lommerplein. Dari sana, saya berjalan kaki sebentar. Kubah masjid berwarna abu-abu kebiruan dan dua menaranya sudah terlihat.
Bangunan masjid ini berbeda, tetapi menyatu dengan lingkungan sekitar. Rumah-rumah masyarakat Belanda yang datar, modern, dan berwarna krem menjadi latar yang harmonis. Amsterdam dikenal sebagai kota dengan toleransi tinggi, multikultural, dan terbuka. Masjid hadir sebagai bagian dari sejarah migrasi dan tradisi budaya kota.
Bergaya Ottoman Turki, Westermoskee merupakan masjid terbesar di Belanda. Ia mewakili komunitas muslim yang telah lama menjadi bagian dari sejarah negeri ini. Dari dekat, masjid tampak monumental dan tegas. Bagian dalamnya bersih, hening, dan tertata rapi, memadukan ruang khas Eropa dengan sentuhan aristokrasi Turki.
Masjid ini terbuka bagi siapa pun, baik muslim maupun nonmuslim. Ia sering menerima kunjungan peneliti, mahasiswa, dan pelajar yang ingin memahami Islam di Belanda, dialog lintas budaya, maupun lintas agama. Dalam budaya Belanda yang rasional dan praktis, Westermoskee menawarkan ruang jeda: tempat berhenti, berdialog, atau sekadar beristirahat. Ruang salatnya memberi ketenangan, ruang untuk merenung dan berkontemplasi. Kunjungan ke Westermoskee bukan semata wisata religi, tetapi juga pengalaman memahami bagaimana iman dan modernitas dapat hidup berdampingan.
Masjid Tokyo Camii, jejak Islam di negeri minoritas

Jepang mulai bersentuhan dengan Islam pada awal abad ke-20, terutama setelah Perang Rusia–Jepang berakhir pada 1905. Saat itu, Jepang mulai membuka diri terhadap pendatang dari luar, khususnya dari Asia Tengah. Muslim Tatar, yang ketika itu berada dalam wilayah Rusia, membentuk komunitas muslim awal di Tokyo, Yokohama, dan Kobe.
Saat ini, jumlah muslim di Jepang sekitar 300 ribu orang. Mereka memang minoritas, tetapi hadir secara nyata, terorganisasi, dan disiplin beragama. Jumlah ini terus berkembang pascaperang dunia, seiring masuknya pendatang untuk belajar dan bekerja dari Timur Tengah, Turki, Iran, Bangladesh, serta Indonesia. Ditambah pula para mualaf dari kalangan akademisi dan mereka yang menikah lintas bangsa.
Keluar dari Stasiun Yoyogi-Uehara, bangunan masjid mulai terlihat dari kejauhan. Mula-mula tampak menara tunggal yang tinggi, lalu kubah besar yang mengingatkan pada masjid-masjid di Indonesia. Di tengah keriuhan Tokyo yang modern, masjid ini berdiri anggun dan damai, menandai kehadiran Islam dalam masyarakat multikultural.
Memasuki masjid, interior yang bersih dan rapi langsung menyambut. Ruang salat utama diterangi cahaya alami dari kaca patri di bagian atas dinding, menciptakan suasana teduh dan khusyuk. Masjid ini bergaya Ottoman, lengkap dengan ruang salat khusus perempuan. Pengelola tampak sadar akan keberagaman budaya jamaah muslim. Keramahan petugas—baik yang berwajah Timur Tengah maupun lokal Jepang—membuat saya merasa diterima tanpa jarak.
Masjid Tokyo Camii menjadi contoh keteguhan identitas Islam di negara tempat muslim menjadi minoritas. Di lantai bawah, masih dalam satu bangunan, terdapat toko halal. Di sana tersedia berbagai kebutuhan sehari-hari: makanan, camilan, dan produk impor dari negara-negara muslim seperti Turki, India, dan Malaysia. Saya tersenyum ketika menemukan beberapa merek terkenal dari Indonesia. Rak-rak berisi mi instan, susu, minuman, dan camilan ringan terasa akrab, seolah masuk ke toko kecil modern di Cibinong.
Baca juga: Kyoto, Ibu Kota Lama Jepang yang Tetap Dijaga
Usai salat Zuhur berjemaah, saya melanjutkan dengan salat Asar takdim. Kemudian saya duduk di selasar masjid. Seorang lelaki paruh baya duduk di sebelah saya, memegang gelas kertas berisi teh panas.
“Tidak minum kopi?” tanya saya basa-basi dalam bahasa Inggris.
“Sejak muda saya lebih suka teh di sore hari,” jawabnya.
Ia seorang chef restoran shawarma kecil di Tokyo, usaha miliknya bersama teman Jepang. Dua puluh tahun lalu, ia datang ke Tokyo bekerja sebagai asisten chef di sebuah hotel. Di sini ia menemukan jodoh dan menetap.
“Saya merasa pulang kalau berada di sini,” katanya, tanpa saya bertanya lebih jauh.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.











