Milenianews.com – Saya naik eskalator menuju aula utama. Begitu sampai di aula, tercium aroma vanila dan gula yang terbakar—aroma magis khas Brussel: aroma wafel yang baru dipanggang. Saya berada di aula Stasiun Sentral Brussel. Di beberapa sudut terdapat gerai wafel, dan saya mampir ke gerai berwarna kuning. Di balik kaca etalase terlihat tumpukan adonan wafel berwarna krem, adonan yang siap dipanggang dan dipres.
Penjual mengambil satu adonan yang sudah penuh gula putih, meletakkannya ke dalam cetakan wafel segi empat, lalu menekannya. Cusss. Suara dan uap panas keluar saat panggangan yang sudah panas itu ditekan. Hanya dalam hitungan menit, cetakan dibuka, wafel diangkat, lalu dimasukkan ke wadah karton dengan selembar tisu. Wafel yang mengilap karena gula yang berubah menjadi karamel tampak menggiurkan. Saya menikmatinya sambil berjalan menuju peron kereta arah Luxemburg.
Baca juga: Oslo: Potret Ibu Kota yang Tidak Perlu Berisik untuk Mengesankan
Berdiri di sebelah pilar besar marmer, saya meniup wafel yang masih hangat. Gigitan pertama langsung memberi sensasi lezat wafel Belgia: bagian luar renyah karena lapisan gula karamel tipis yang mengeras, sementara bagian dalam terasa manis, kenyal, lembut, dan padat. Ketika gigitan mencapai bagian tengah, rasa manis meningkat karena ada isi gula yang belum sepenuhnya meleleh—tekstur manis yang berpadu dengan kelembutan roti. Ada kepuasan menikmati wafel Brussel ini. Konsepnya street food yang dijual di kios kecil, tetapi terasa mewah karena stasiun dengan arsitekturnya yang artistik. Kereta tujuan Luxemburg tiba ketika gigitan terakhir sudah melewati kerongkongan. Sedap.
Luxemburg, negara yang kaya

Saya naik kereta ke Luxemburg, kereta intercity, berangkat pukul 07.00 pagi. Tidak perlu membeli tiket untuk memilih tempat duduk; tiket sudah dibeli di loket mesin otomatis. Ada petugas di kereta, tetapi tidak ada pemeriksaan tiket. Kereta pagi ini tampaknya diisi oleh para pekerja profesional—mungkin ada yang lintas negara—serta beberapa wisatawan.
Gerbong bersih, seperti kereta ke Semarang, dengan jarak kaki yang lega. Suasana kereta tidak berisik, seperti kereta Eropa pada umumnya. Sesekali ada pengumuman dalam bahasa Prancis dan Belanda, kadang juga dalam bahasa Inggris. Beberapa penumpang sudah membuka laptop atau asyik dengan ponselnya. Tidak ada yang makan seperti di Jepang, tetapi ada yang membawa gelas kopi.
Kereta meluncur mulus tanpa guncangan. Saya memanfaatkan waktu dengan melihat ke luar jendela. Lepas dari Brussel, pandangan perkotaan mulai berganti menjadi pemandangan pedesaan. Ladang hijau dengan tanaman yang rapi dan teratur mulai terlihat, diselingi rumah batu beratap miring. Terlihat gereja di kejauhan dan jalan-jalan desa yang berselang-seling. Di beberapa segmen, kereta mengikuti alur sungai kecil, cahaya mentari memantul di permukaan air. Hati terasa adem dan lapang menikmati lanskap yang sangat Eropa.
Kereta berhenti singkat di Kota Namur, kota kecil dengan stasiun yang tidak besar, tetapi tertata rapi. Ada penumpang yang turun dan ada yang naik, namun yang turun lebih banyak, sehingga perjalanan lanjutan terasa lebih lengang.
Perjalanan ke Luxemburg adalah perjalanan ke arah selatan. Memasuki perbatasan Luxemburg, tidak ada pemeriksaan paspor. Perubahan juga terlihat dari lanskap alamnya. Desa-desa di Luxemburg tampak lebih rapi, rumah-rumah berwarna cerah berdiri lebih teratur. Luxemburg adalah negara kerajaan konstitusional dengan tata kelola pemerintahan yang terkenal baik. Negara ini kecil, tetapi merupakan anggota pendiri Uni Eropa dan menjadi tempat berkantornya beberapa lembaga Eropa penting, termasuk lembaga keuangan dan pengadilan. Luxemburg juga dikenal sebagai salah satu negara terkaya di dunia dengan pendapatan per kapita yang tinggi.
Keunikan Luxemburg antara lain terletak pada bahasanya. Negara ini tidak memiliki satu bahasa nasional, melainkan tiga bahasa resmi: bahasa lokal Letzebuergesch, Prancis, dan Jerman. Multibahasa ini menunjukkan toleransi serta posisi Luxemburg sebagai titik temu tiga budaya.
Leuven, si kota pelajar

Saya masih di Belgia, tinggal di tempat kos anak saya di Kota Leuven, kota yang berjarak sekitar 25 kilometer dari Brussel. Awalnya, Leuven adalah kota perdagangan dan pendidikan, yang dapat dilihat dari gedung-gedung serta warisan arsitekturnya. Ada Stadhuis, Balai Kota Leuven, yang telah berdiri sejak abad ke-15 dan mencerminkan arsitektur Gotik Brabant, warisan yang menunjukkan kejayaan kota sejak zaman dulu.
Tata kota Leuven menggambarkan kota lama Eropa Barat pada umumnya: ada alun-alun, gereja, dan lembaga pendidikan yang berdekatan, mengelilingi alun-alun, membentuk satu kesatuan ruang publik.
Leuven terkenal karena Universitas Katolik Leuven atau KU Leuven, yang berdiri sejak tahun 1425 dan hingga kini menjadi universitas tertua dengan pengaruh keilmuan yang diakui di Eropa. KU Leuven membawa Leuven menjadi kota unggul dalam bidang pendidikan, penelitian, dan inovasi. Sejak masa Renaisans, universitas ini telah melahirkan pemikiran intelektual yang berkontribusi dan berpengaruh terhadap tradisi keilmuan Eropa. Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, KU Leuven bertransformasi menjadi universitas modern dengan keilmuan yang terus berkembang.
Bangunan-bangunan KU Leuven menggambarkan perjalanan panjang universitas tersebut. Ada University Hall di pusat kota yang dibangun pada tahun 1317, lebih tua dari universitasnya sendiri. Awalnya, gedung ini merupakan balai kain yang menjadi pusat perdagangan tekstil. Setelah KU Leuven berdiri, gedung ini diambil alih dan dijadikan gedung administrasi hingga saat ini. Bangunan ini mencerminkan bentuk awal arsitektur Gotik Brabant, didominasi struktur batu yang kokoh dengan tata ruang luas untuk fungsi ruang publik. Selama berabad-abad, gedung ini menjadi saksi berbagai peristiwa penting, mulai dari lahirnya pendidikan tinggi di Eropa, masa kebangkitan dan reformasi, hingga perguruan tinggi di era digital.
Banyak bangunan KU Leuven dibangun pada abad ke-18 dan ke-19 dan masih digunakan hingga kini. Di antaranya kolese-kolese yang jumlahnya mencapai 45 buah, yang pada awalnya berfungsi sebagai asrama mahasiswa, ruang belajar dan diskusi, sekaligus tempat pembinaan intelektual dan ibadah di bawah bimbingan dosen serta imam. Mahasiswa tinggal dalam komunitas tertutup: tidur, belajar, dan berdoa di gedung yang sama. Saat ini, gedung kolese masih digunakan dengan fungsi yang sedikit berubah, seperti ruang kuliah, ruang seminar, pusat penelitian, serta hunian terbatas. Kolese ini mencerminkan kesinambungan tradisi akademik selama berabad-abad dan mewakili hubungan erat antara kehidupan kota, pendidikan, dan agama.
Mahasiswa Eropa, sepeda, dan kafe

Ada Kastil Arenberg di luar pusat kota, contoh integrasi bangunan bersejarah dengan fungsi akademik modern. Kastil ini kini digunakan oleh fakultas teknik dan sains. Bangunan-bangunan KU Leuven yang masih digunakan umumnya memiliki fasad bergaya Gotik dan Renaisans Flemish. Salah satu bangunan simbolik utama adalah Gedung Perpustakaan Universitas Leuven. Gedung ini pertama kali dibangun pada awal abad ke-20, sempat hancur pada Perang Dunia I dan II, dan selalu dibangun kembali. Hingga kini, gedung tersebut masih berfungsi dan menjadi landmark Kota Leuven sekaligus lambang ketahanan intelektual universitas.
Studentenkot adalah sebutan untuk kamar mahasiswa di Leuven. Hampir semua mahasiswa tinggal di sini karena fasilitas hunian yang tersedia memang berupa studentenkot, baik milik swasta maupun pemerintah. Umumnya, studentenkot menyediakan kulkas, mesin cuci, dan dapur yang digunakan bersama. Mahasiswa didorong untuk hidup mandiri sejak awal: mengatur waktu, mencuci, membereskan ruang, belajar, dan menata keuangan dilakukan sendiri.
Sepeda adalah alat transportasi utama di kota ini. Ada bus kota yang mengelilingi Leuven dengan jadwal teratur. Berjalan kaki juga menjadi pilihan yang baik karena cuaca Eropa sangat mendukung pejalan kaki, kecuali saat musim dingin. Pelajar yang baru datang biasanya tetap membeli sepeda karena bisa digunakan setiap saat dan harganya tidak mahal. Selalu ada pelajar yang datang dan pergi, sehingga sepeda bekas mudah ditemukan dengan harga terjangkau. Untuk keseharian kampus, tempat tinggal, dan pusat kota, sepeda menjadi pilihan paling praktis.
Belajar adalah tugas utama mahasiswa di Leuven, tetapi gaya hidup pelajar di kota ini menunjukkan keseimbangan antara belajar dan aktivitas sosial. Nama-nama organisasi internasional terlihat tertulis di sudut-sudut gedung. Poster yang tertempel di kampus dan persimpangan jalan memperlihatkan berbagai aktivitas mahasiswa, mulai dari seminar, diskusi, hingga undangan pesta. Gaya hidup mahasiswa Leuven tidak lepas dari keberadaan Oudemarkt, deretan kafe mahasiswa yang sering disebut sebagai kafe terpanjang di dunia. Bangku dari beberapa kafe menyatu di ruang terbuka, memanjang di sepanjang tepi jalan. Nongkrong di kafe menjadi bagian dari persiapan kehidupan: tempat berdiskusi, bersosialisasi, dan membangun jejaring untuk masa depan.
Saya sengaja duduk di ruang depan MOK Coffee, area terbuka di pusat kota. Orang-orang lalu-lalang tepat di sebelah meja saya. Dari sini ke gerbang masuk kampus KU Leuven hanya sekitar 800 meter. Kafe ini cukup besar, dengan tempat duduk di dalam dan di luar ruangan. Sekitar 20 meja terisi, masih lengang karena ini siang menjelang sore. Ramainya kafe tentu terjadi pada malam hari. Caffè latte sudah tersedia di meja dan sudah saya minum beberapa teguk. Roti isi telur masih belum saya sentuh karena tidak lapar. Saya datang ke sini untuk menikmati udara Leuven dan meresapi kehidupan mahasiswa.
Leuven memang tidak begitu populer di Indonesia, tetapi ia ada.
Kontributor: Dr. Ir. Wahyu Saidi, MSc, seorang Entrepreneur, Peminat dan Penikmat Kuliner
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.










