Kupang, Wajah Indonesia Timur yang Tenang

Oleh: Dr. Ir. Wahyu Saidi, MSc, seorang Entrepreneur, Peminat dan Penikmat Kuliner

Milenianews.com – Ini Kupang, kota di timur Indonesia yang secara geografis posisinya masih di tengah arah selatan. Saya berada di Kupang, ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Timur. Kota ini menyambut apa adanya, dengan kesederhanaan yang jujur. Tanpa hiruk pikuk seperti Bandung atau Yogyakarta, tanpa kemacetan seperti Semanggi di Jakarta. Kupang memberi ruang untuk bernapas, mengamati, dan menikmati.

Kupang memang panas. Mataharinya bersinar tegas, langit biru tanpa basa-basi. Kota ini memiliki kawasan kota lama, maka saya memulai dari sana. Tidak terlalu luas, karena itu saya memilih berjalan kaki sebagai langkah pertama untuk mengerti dan meresapi Kupang. Ini kunjungan pertama, dan berjalan kaki terasa sebagai cara paling jujur untuk berkenalan.

Keluar bandara menuju hotel, saya sempat mampir makan siang dengan menu laut. Suasananya mengingatkan saya pada Dili di Timor Leste. Keduanya berada di Pulau Timor dan berkembang dalam kondisi geografis, budaya, dan iklim yang hampir sama. Kupang dan Dili sama-sama menghadap laut, berada di kawasan teluk dengan garis pantai panjang, sehingga laut dan pelabuhan menjadi denyut utama kehidupan.

Baca juga: Dili, Ibu Kota Timor Leste yang Tenang dan Penuh Jejak Sejarah

Kota lama yang berkembang alamiah

kota lama kupang

 

Kota lama Kupang masih tampil apa adanya, mengalir mengikuti perjalanan waktu. Kawasan ini belum menjadi destinasi wisata yang dipoles rapi seperti dalam buku teks. Bangunan-bangunan tua berdiri dengan dinding dan cat yang memudar, menampilkan arsitektur kolonial yang berusaha menyesuaikan diri dengan iklim tropis. Jendela kayu besar dan tinggi dibuka lebar, ramah terhadap hembusan angin.

Sebagian bangunan masih difungsikan sebagai rumah tinggal. Sebagian lain berubah menjadi kantor usaha kecil atau kios yang menyapa siapa pun yang lewat. Ada pula bangunan besar yang kini diam dan tidak terawat. Keberadaannya menjadi saksi perjalanan kota yang jujur dan terbuka.

Sejak masa kolonial, Kupang adalah kota pelabuhan. Perannya penting dalam perdagangan dan logistik di wilayah timur Nusantara. Hingga kini, infrastruktur transportasi tetap menjadi simpul penghubung Kupang dengan pulau-pulau lain di Nusa Tenggara Timur dan kawasan Indonesia Timur.

Saya teringat Kota Lama Semarang. Keduanya sama-sama warisan kolonial Belanda, tetapi memiliki karakter yang berbeda. Semarang lebih lama menjadi kota hunian Belanda sehingga strukturnya lebih terencana. Jalan, bangunan publik, dan taman disusun dengan konsep yang jelas. Pemerintah daerah juga telah membenahi kawasan tersebut dalam skala besar untuk menarik wisatawan.

Sementara itu, kota tua Kupang tumbuh secara kecil dan lurus. Perkembangannya masih alamiah, mengikuti garis pantai dengan dua titik utama, pusat kota dan pelabuhan. Bangunan tua dan pengembangannya belum menjadi satu kesatuan utuh, tetapi justru di situlah kejujurannya terasa.

Jagung, makanan pokok yang masih punya penggemar

pasar

Bergeser sedikit dari pusat kota, masih di kawasan tepi pantai, saya tiba di Pasar Oeba. Di sinilah hasil laut dari perairan sekitar Kupang dan pulau-pulau sekitarnya bertemu dengan hasil pertanian dari desa-desa di wilayah ini. Pasar Oeba adalah pasar pagi yang telah ramai sejak sebelum matahari terbit.

Budaya Nusa Tenggara Timur terasa kuat. Pedagang dan pembeli berbicara keras dan lugas. Tawar-menawar berlangsung cepat, tanpa basa-basi. Pasar ini mungkin tidak rapi dan tidak tertib, tetapi hidup.

Karena berada di wilayah pantai, hasil laut mendominasi bagian depan pasar. Ikan, udang, dan kerang tersusun di meja sederhana. Tubuhnya masih basah, memantulkan cahaya matahari pagi. Kesegarannya mudah dikenali.

Di sudut lain, jagung kering yang dijual dalam karung-karung besar masih mendominasi. Ini menunjukkan bahwa pangan pokok tradisional tersebut tetap memiliki penggemar. Di lorong-lorong lebih dalam, terlihat umbi-umbian lokal, singkong, jagung segar, rempah, dan sayuran tersusun acak. Dari produk yang dijajakan, terlihat bahwa masyarakat Kupang masih sangat bergantung pada bahan pangan lokal. Produk impor ada, tetapi tidak mendominasi.

Area jajanan pasar tidak ditempatkan dalam satu zona khusus. Kue-kue tradisional tersebar di berbagai sudut, disajikan sederhana dalam tampah. Kebanyakan berbahan dasar singkong, tepung beras, dan ubi jalar. Saya juga melihat pedagang yang menjual jagung, singkong, dan ubi rebus.

Yang paling menarik perhatian saya adalah jagung bose, kuliner penting di Kupang. Jagung kering ditumbuk kasar hingga pecah, lalu direbus lama sampai empuk. Disajikan sederhana, hanya dengan sedikit garam. Banyak penggemarnya karena mengenyangkan dan memberi energi. Jagung bose biasa disantap dengan lauk sederhana seperti ikan asin, sayur santan daun pepaya, atau sambal lokal.

Indonesia tidak hanya Jawa, ada Kupang juga

kota pelabuhan

Menjelang malam di Kupang, ketika lampu-lampu jalan mulai menyala, saya menuju pasar malam Kupang. Tempat ini menjadi ruang pelepas penat setelah seharian beraktivitas. Keramaian kota hadir dalam bentuk yang sederhana dan wajar.

Pasar malam Kupang tidak berada di bangunan permanen. Lokasinya berada di sekitar Kantor Gubernur Nusa Tenggara Timur. Posisinya strategis, berada di pusat kota dan mudah dijangkau dari berbagai arah. Ruas Jalan El Tari berubah menjadi ruang publik. Lapak-lapak street food berdiri di trotoar dan area terbuka di kedua sisi jalan.

Baca juga: Penang: Ketika Sejarah Disajikan di Setiap Meja Makan

Tenda-tenda sederhana dipasang sementara. Ada yang berjualan menggunakan gerobak, ada pula yang menjajakan makanan di atas meja dengan penerangan seadanya. Tidak mewah, tetapi cukup untuk menikmati malam. Banyak penjual menawarkan ikan, cumi, kerang, dan kepiting untuk dibakar. Aroma laut bercampur asap pembakaran menyebar di udara. Ada pula sate, nasi dengan aneka lauk matang, dan gerobak besar berisi gorengan yang ditumpuk rapi, pisang, tahu, dan tempe.

Minuman kopi dan minuman ringan tersedia di lapak lain. Kopinya sederhana, pahit, manis, atau susu, tanpa banyak variasi. Orang datang, duduk, makan, lalu pulang. Anak-anak berlarian, orang dewasa berbincang pelan. Keramaian ini tidak hiruk pikuk. Semua berlangsung apa adanya.

Perjalanan selalu memiliki akhir. Kunjungan ke Kupang memberi pemahaman bahwa Indonesia tidak hanya Jakarta dan Jawa. Ada wilayah pinggiran yang hadir dengan caranya sendiri. Kupang memang sederhana, mencerminkan Indonesia Timur yang dibentuk oleh alam yang keras. Keramahannya tidak berlebihan, tetapi tulus dan hangat.

Justru dari kesederhanaan itulah Kupang terasa tidak rumit. Yang hadir adalah rasa damai, akrab, dan jujur.

Inilah Kupang.

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *