Pensil dan Kertas Bisa Digunakan Untuk Sensor Kesehatan

Pensil dan Kertas untuk sensor kesehatan
Ilustrasi : Unniversity of Missouri
Milenianews.com – Pensil dan kertas merupakan sesuatu yang digunakan untuk menulis atau menggambar. Namun apa jadinya jika pensil dan kertas ini digunakan sebagai sensor untuk memantau kesehatan seseorang? Belum lama ini hal tersebut berhasil dilakukan oleh para peneliti dari Universitas Missouri. Mereka berhasil menciptakan sensor bioelektrik untuk kesehatan dengan mengandalkan pensil dan kertas biasa. 

Para peneliti menemukan bahwa inti pensil yang biasa kita gunakan untuk membuat gambar atau menulis itu terbuat dari 90% grafit. Grafit sendiri merupakan mineral dengan komposisi utama karbon, dapat menyalurkan sejumlah energi ketika digunakan untuk menulis di kertas. Grafit inilah yang akan menjadi elektroda sensor, sementara kertas akan berfungsi sebagai struktur pendukungnya. 

Dilansir dari Engadget(17/7), Selama riset ini, para peneliti tersebut berhasil memantau EMG (electromyography) menggunakan pensil dan kertas sebagai sensor kesehatan. EMG adalah salahsatu prosedur yang digunakan untuk memantau kesehatan otot dan sistem syaraf yang menggerakkannya.

Para peneliti itu mengatakan bahwa potensi teknik ini sangat besar untuk memantau temperatur hingga kadar gula darah seseorang. Terlebih lagi, sensor ini dapat bekerja secara realtime.

Baca Juga : Ilmuwan UCLA Kembangkan Sarung Tangan Penerjemah Bahasa Isyarat

Penemuan ini merupakan penemuan yang besar. Dengan adanya penemuan ini, akan memberikan opsi peralatan kesehatan yang lebih murah dan mudah digunakan masyarakat. Materialnya murah dan mudah untuk didapat membuat semua orang bisa mempunyainya. Tidak seperti plastik, kertas yang digunakan untuk struktur pendukungnya dapat dihancurkan dengan mudah. Sehingga tidak menimbulkan sampah yang susah didaur ulang.

Peneliti menilai bahwa di masa depan orang dapat menggunakan teknologi ini untuk kebutuhan perawatan di rumah masng-masing. Tidak hanya itu, teknologi ini dipandang dapat membantu penelitian jarak jauh, terutama selama masa pandemi seperti saat ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *