Milenianews.com – Makanan ultra-proses semakin populer di tengah gaya hidup modern yang serba praktis. Makanan seperti sosis, nugget, mie instan, snack kemasan, hingga minuman bersoda memang mudah didapat dan dikonsumsi.
Namun, di balik kemudahan tersebut, konsumsi makanan ultra-proses dalam jangka panjang bisa berdampak negatif bagi kesehatan, termasuk kesehatan mental dan otak.
Baca juga: Makanan Ini Bisa Meningkatkan Kualitas Tidur Lho!
Apa Itu Makanan Ultra-Proses?
Makanan ultra-proses adalah produk yang telah melalui berbagai tahap pemrosesan industri dan mengandung banyak zat tambahan seperti pengawet, pewarna, pemanis buatan, serta perasa buatan. Biasanya, makanan ini rendah serat, protein, dan vitamin, tetapi tinggi gula, garam, dan lemak jenuh.
Dampak terhadap Kesehatan Mental
Makanan ultra-proses tidak hanya berpengaruh pada kesehatan fisik, tetapi juga dapat berdampak negatif pada kesehatan mental. Melansir dari sebuah penelitian yang diterbitkan di JAMA Psychiatry, konsumsi makanan ultra-proses yang tinggi dikaitkan dengan peningkatan risiko depresi dan kecemasan. Kandungan gula berlebih dalam makanan ini dapat memengaruhi kadar hormon stres dalam tubuh dan meningkatkan risiko peradangan kronis yang berkaitan dengan gangguan suasana hati.
Selain itu, makanan ultra-proses juga dapat mengganggu keseimbangan mikrobiota usus, yang memiliki hubungan erat dengan kesehatan mental. Melansir dari studi di Frontiers in Nutrition, mikrobiota usus berperan dalam produksi neurotransmitter seperti serotonin dan dopamin yang mengatur suasana hati. Ketika keseimbangan mikrobiota terganggu akibat pola makan yang buruk, risiko gangguan mental seperti depresi dan kecemasan pun meningkat.
Dampak Makanan Ultra-Proses terhadap Kesehatan Otak
Selain berpengaruh pada kesehatan mental, makanan ultra-proses juga dapat berdampak negatif pada fungsi kognitif dan kesehatan otak secara keseluruhan. Penelitian di American Journal of Clinical Nutrition menemukan bahwa mengonsumsi makanan ultra-proses dalam jumlah tinggi dapat menurunkan kemampuan kognitif dan meningkatkan risiko penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer.
Tingginya kandungan lemak trans dan gula dalam makanan ultra-proses dapat menyebabkan peradangan di otak, yang dapat mempercepat penurunan fungsi kognitif. Selain itu, zat tambahan dalam makanan ultra-proses, seperti pemanis buatan dan pengawet, juga dapat mengganggu sinyal saraf di otak dan berkontribusi pada gangguan memori serta konsentrasi.
Cara Mengurangi Konsumsi Makanan Ultra-Proses
Baca juga: Keuntungan dari Mengonsumsi Makanan Kaya Serat
Untuk menjaga kesehatan mental dan otak, ada baiknya mengurangi konsumsi makanan ultra-proses dan beralih ke pola makan yang lebih sehat. Berikut beberapa tips yang bisa dilakukan:
- Pilih makanan alami seperti sayuran, buah, biji-bijian, kacang-kacangan, dan protein tanpa lemak.
- Masak makanan sendiri agar bisa mengontrol bahan-bahan yang digunakan.
- Periksa label makanan dan hindari produk dengan daftar bahan yang terlalu panjang dan mengandung banyak zat tambahan.
- Batasi konsumsi gula dan garam berlebih yang sering terdapat dalam makanan ultra-proses.
- Perbanyak konsumsi makanan kaya omega-3 seperti ikan salmon dan kacang-kacangan untuk mendukung kesehatan otak.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.