Milenianews.com – Jayapura sudah dekat. Pramugari kembali mengingatkan penumpang untuk mengencangkan ikat pinggang. Pikiran saya melayang pada papeda—makanan bening bertekstur kenyal dan lengket, nyaris tanpa rasa, tetapi berubah menjadi santapan penuh tenaga saat disantap dengan ikan kuah kuning. Tepatnya sop ikan berbumbu khas Papua, dengan cabai yang melimpah, pedas, hangat, dan membangkitkan selera.
Pesawat terbang rendah saat bersiap mendarat. Danau Sentani menyambut dari udara, permukaannya memantulkan cahaya keperakan. Di sisi lain, hamparan ilalang hijau kekuningan membentang lembut di perbukitan rendah. Titik-titik perahu tampak di danau—sebagian bergerak menuju tujuan, sebagian lain tertambat di tepian.
Danau Sentani memiliki peran penting bagi masyarakat Jayapura: sumber air, sumber mata pencaharian, tempat mencari ikan, membangun keramba, hingga kawasan wisata. Sentani bukan sekadar danau, melainkan bagian utama dari ekosistem megah yang menopang kehidupan. Dari ketinggian, Danau Sentani sungguh memukau—salam pembuka yang tak terlupakan bagi siapa pun yang mendarat di Jayapura.
Baca juga: Dili, Ibu Kota Timor Leste yang Tenang dan Penuh Jejak Sejarah
Jayapura adalah ibu kota Provinsi Papua, provinsi paling timur Indonesia. Secara geografis, kota ini berada di utara Pulau Papua, di tepi Samudra Pasifik, dan berbatasan langsung dengan Papua Nugini. Lanskap Jayapura terbentang dari pantai hingga Danau Sentani, dengan ketinggian mencapai 700 meter di atas permukaan laut. Kontur ini menciptakan karakter kota yang unik sekaligus menyuguhkan panorama alam yang indah.
Ke arah selatan dari Danau Sentani, daratan terus menanjak. Hamparan ilalang dan rumput hijau berpadu dengan pegunungan yang ditumbuhi hutan tropis. Dua teluk utama ikut membentuk wajah Jayapura: Teluk Yos Sudarso—sering disebut Teluk Jayapura—dan Teluk Youtefa.
Teluk Yos Sudarso menjadi ruang hidup yang menyatukan kota. Perairannya melingkar tenang, di satu sisi dibingkai perbukitan hijau dan hutan mangrove yang masih rapat, di sisi lain menyatu dengan kawasan perkotaan. Saat malam tiba, cahaya lampu berkilauan di sepanjang teluk, menandakan denyut kehidupan yang dinamis.
Pagi hari, sambil menikmati sarapan di hotel, teluk tampak memesona. Cahaya matahari memantul di permukaan laut yang jernih dengan riak kecil. Di seberang, pelabuhan mulai bergerak. Kapal-kapal besar masih bersandar, sementara perahu nelayan mulai berlayar menyambut hari. Sore hari, teluk berubah menjadi ruang berkumpul masyarakat—tempat rekreasi keluarga, wisatawan, serta ajang menikmati budaya dan kuliner khas Jayapura.
Jembatan Merah, infrastruktur untuk persatuan

Inilah Jembatan Youtefa, atau yang lebih dikenal sebagai Jembatan Merah Papua—sesuai warnanya yang mencolok. Jembatan ini tidak melintasi sungai, melainkan menghubungkan dua sisi Teluk Youtefa, sehingga memperpendek jarak tempuh secara signifikan. Jembatan ini menghubungkan Kota Jayapura dengan Distrik Muara Tami, memangkas jarak perjalanan dari sekitar 35 kilometer menjadi hanya 12 kilometer.
Jembatan Youtefa memiliki panjang 732 meter dan lebar 21 meter, dibangun dengan rangka baja. Keunikannya terletak pada proses konstruksi: seluruh rangka baja dirakit di Surabaya, lalu diangkut utuh ke Papua. Proses ini mencatatkan rekor MURI sebagai pengiriman dan pemasangan rangka baja utuh terjauh dan terpanjang.
Saat melintasi jembatan, hembusan angin laut terasa ringan. Sesekali perahu kecil melintas di bawahnya. Di sekitar kaki jembatan tampak permukiman dan aktivitas masyarakat Teluk Youtefa. Dari sini, terlihat jelas kehidupan masyarakat pesisir Papua yang alami, berkarakter, bersahaja, dan apa adanya—pertemuan antara alam, budaya, dan modernitas.
Pembangunan Jembatan Merah memperkuat persatuan dua sisi teluk, mendorong pertukaran ekonomi, serta mempersingkat perjalanan menuju wilayah perbatasan Papua Nugini. Kawasan ini pun berkembang menjadi destinasi wisata baru, memperkaya sudut pandang terhadap teluk, sekaligus meningkatkan taraf ekonomi warga. Infrastruktur yang menjadi simbol kemajuan Indonesia Timur.
Pasar Hamadi, pasarnya ubi dan umbi

Saya mengunjungi Pasar Hamadi, pasar sentral Jayapura. Bangunannya permanen dan cukup besar, tetapi tetap mencerminkan kultur masyarakat Papua yang terbuka. Area pasar terbagi sesuai fungsi—los sayur dan umbi-umbian, los ikan dan hasil laut, serta los kerajinan dan kebutuhan harian.
Meski terbagi, Pasar Hamadi tidak memiliki batas tegas antara ruang jual beli dan ruang sosial. Kios, tempat makan, area berbincang, dan lapak di ruang terbuka saling menyatu. Pengunjung bebas hilir mudik, merasakan dinamika tawar-menawar yang hidup.
Area umbi-umbian dan hasil laut paling menarik perhatian saya. Umbi-umbian khas Papua berbeda dengan yang umum ditemui di Jawa. Ada keladi Papua—bukan talas, karena Papua juga memiliki talas sendiri. Jika talas Bogor terasa familiar, talas Papua sedikit mirip, sementara keladi berukuran lebih besar dan bertekstur kasar.
Bagi masyarakat Papua, umbi-umbian adalah sumber karbohidrat utama. Keladi dapat direbus, ditumbuk, atau dibakar. Selain itu, ada umbi-umbi hutan lain yang belum dibudidayakan dan tidak selalu tersedia. Penjual menawarkan hasil temuan mereka di hutan: umbi mirip singkong dengan daging putih kekuningan yang padat berserat, atau umbi mirip ubi jalar, lebih besar dan bulat dengan kulit tebal.
Untuk menikmatinya, umbi-umbi ini perlu direbus lama atau dipanggang. Rasanya manis, meski tidak semanis ubi jalar madu. Namun, umbi hutan tidak selalu aman dikonsumsi tanpa pengetahuan—perlu pengalaman untuk mengenali dan mengolahnya dengan benar.
Kuliner Sagu: Papeda dan Farno

Papua memiliki hubungan erat dengan sagu. Hingga kini, banyak masyarakat masih menjadikannya makanan pokok. Sagu berasal dari pati pohon sagu, sejenis palma yang tumbuh di rawa-rawa. Prosesnya panjang: pohon ditebang, bagian inti diparut, diperas, diendapkan, lalu dikeringkan sebelum diolah menjadi berbagai hidangan.
Sagu farno adalah salah satu bentuk olahan paling praktis. Bubuk sagu dicampur air, dibuat adonan tipis, lalu dipanggang hingga menjadi lembaran keras di luar dan padat di dalam. Sagu farno tidak dimakan langsung, melainkan diempukkan kembali dengan cara direbus atau dicelupkan ke dalam kuah panas.
Baca juga: Penang: Ketika Sejarah Disajikan di Setiap Meja Makan
Saya menikmati sagu farno yang dicelupkan ke dalam sop ikan ekor kuning panas. Setelah ditekan dan ditunggu sejenak, sagu menjadi lembek dan siap disantap bersama potongan ikan, sayur daun singkong, daun hutan, serta sambal khas Papua yang pedas menggigit.
Papeda adalah kuliner sagu lainnya. Jika sagu farno dikeraskan, papeda justru menjadi bubur kental, bening, dan lengket. Teksturnya kenyal elastis, disantap saat panas, dan kurang nikmat bila dingin. Biasanya dimakan menggunakan sumpit, meski garpu juga bisa digunakan.
Saya menikmati papeda dengan sop ikan panas dan sambal melimpah di sebuah restoran tepi pantai Teluk Jayapura. Di momen itu, teringat sepenggal lagu:
Senja di Kaimana
Indah nian pemandangan
Membuat hati rindu
Tanah Papua
Kontributor: Dr. Ir. Wahyu Saidi, MSc, seorang Entrepreneur, Peminat dan Penikmat Kuliner
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.













