Hagia Sophia dan Perjalanan 1500 Tahun Sejarah Istanbul

hagia sophia

Oleh: Dr. Ir. Wahyu Saidi, MSc, seorang Entrepreneur, Peminat dan Penikmat Kuliner

Milenianews.com – Saya berkunjung ke Istanbul, kota terbesar di Turki, pusat ekonomi dan perdagangan, kota budaya, kota tua dengan banyak bangunan bersejarah yang jejaknya sudah tercatat sejak abad keempat masehi. Kota Istanbul berada di dua perairan besar, Laut Hitam dan Laut Marmara, di Selat Bosporus yang memisahkan Eropa dan Asia.

Istanbul memang populer, tetapi perlu dicatat kota ini bukan ibu kota Turki. Ibu kota Turki adalah Ankara yang letaknya sekitar lima jam perjalanan dari Istanbul ke arah pedalaman. Ankara berada di bagian tengah Turki. Pemilihan kota ini sebagai ibu kota memiliki pertimbangan strategis pertahanan karena lebih sulit dijangkau musuh dan lebih mudah secara administrasi karena berada di tengah wilayah negara. Ankara juga memiliki udara yang lebih nyaman untuk pemukiman, berada sekitar 1000 meter di atas permukaan laut.

Sebutan nama Istanbul sendiri baru dipakai secara internasional pada tahun 1930 sebagai nama resmi kota di Republik Turki. Sebelumnya kota ini dikenal dengan beberapa nama. Pada masa awal, wilayah ini merupakan pemukiman Yunani yang sudah tercatat sejak awal abad keempat sebagai pusat perdagangan strategis. Pemukiman ini pernah diperebutkan oleh Persia, Athena, dan Sparta. Byzantium adalah nama kota ini pada masa Kekaisaran Romawi Timur. Pada tahun 330 Kaisar Romawi Konstantinus Agung memindahkan ibu kota kekaisaran dari Roma ke Byzantium.

Baca juga: Jejak Transformasi Uni Emirat Arab: Dari Padang Pasir Menuju Kemakmuran

Bangunan yang terlibat perang selama 1500 tahun

bangunan

Kaisar Konstantinus kemudian mengubah nama kota Byzantium menjadi Konstantinopel. Sejak saat itu kota ini berkembang pesat menjadi pusat perdagangan, pusat pemerintahan, sekaligus pusat agama Kristen Ortodoks. Kaisar tidak hanya menjadi pemimpin politik, tetapi juga pelindung gereja.

Dari sisi pertahanan, Konstantinopel menjadi salah satu kota terkuat di dunia. Kota ini memiliki tembok pertahanan yang terkenal sangat kokoh dan tidak dapat ditembus selama lebih dari seribu tahun.

Pada masa ini lahir budaya Romawi baru yang berkembang di Konstantinopel, perpaduan antara warisan Romawi, intelektual Yunani, dan pengaruh spiritual dari Timur. Naskah-naskah kuno Yunani seperti karya Plato dan Aristoteles dilestarikan. Arsitektur Romawi terus berkembang dan bangunan lama tetap dipertahankan.

Konstantinopel juga menjadi salah satu simpul penting jalur perdagangan antara Eropa dan Asia yang kemudian dikenal sebagai Jalur Sutra.

Pada abad ke-6 Hagia Sophia dibangun. Bangunan ini menjadi salah satu monumen arsitektur paling penting dalam sejarah dunia. Sejak dibangun hingga kini, Hagia Sophia menjadi saksi peralihan kekuasaan dan agama selama sekitar 1500 tahun, baik dalam masa damai maupun perang.

Hagia Sophia awalnya merupakan pusat pemerintahan Kekaisaran Bizantium sekaligus gereja katedral terbesar di dunia. Bangunan ini menjadi pusat gereja Kristen Ortodoks hingga sekitar abad ke-12, sebelum kemudian menjadi katedral Katolik. Selama hampir seribu tahun bangunan ini menjadi pusat pendidikan, kebudayaan, dan aktivitas keagamaan Romawi Timur, sekaligus dikenal sebagai bangunan berkubah terbesar di dunia pada masanya.

Kaligrafi Islam dan mozaik Kristen berdampingan

tembok

Benteng Konstantinopel dibangun dengan sistem pertahanan berlapis. Tembok luar dan tembok utama dipisahkan oleh parit. Tembok ini membentang sepanjang sekitar 6.500 meter dengan tinggi sekitar 12 meter. Menara pengawas berdiri di berbagai titik strategis. Di sepanjang pantai, tembok pertahanan juga mengikuti garis laut.

Selama berabad-abad, tembok ini hampir mustahil ditembus ketika perang masih menggunakan kuda, panah, dan senjata sederhana.

Namun pada tahun 1453, benteng Konstantinopel akhirnya berhasil ditembus oleh Sultan Mehmed II dari Kesultanan Ottoman. Sultan Mehmed menggunakan meriam raksasa bernama Basilica, meriam perunggu sepanjang sekitar delapan meter yang mampu melontarkan peluru batu seberat lebih dari seratus kilogram.

Setelah menaklukkan Konstantinopel, Sultan Mehmed II memasuki kota dan menguasai Hagia Sophia. Ia tidak menghancurkan bangunan ini karena sangat mengagumi keindahan arsitekturnya. Hagia Sophia kemudian diubah menjadi masjid utama Kesultanan Ottoman.

Beberapa unsur Islam ditambahkan pada bangunan ini. Menara dibangun untuk menandai fungsi barunya sebagai masjid. Mimbar dan mihrab juga ditambahkan untuk kebutuhan ibadah. Sebagian interior disesuaikan dengan tradisi Islam.

Pada tahun 1935, di masa pemerintahan Mustafa Kemal Atatürk yang sekuler, Hagia Sophia diubah menjadi museum. Bangunan ini kemudian menjadi simbol sekularisme Turki dan upaya menjembatani budaya Timur dan Barat.

Pada tahun 2020, pemerintah Turki di bawah Presiden Recep Tayyip Erdoğan mengubah kembali status Hagia Sophia menjadi masjid. Meski demikian, bangunan ini tetap terbuka bagi wisatawan dari berbagai negara.

Simbol-simbol Kristen seperti mosaik tidak dihancurkan. Sebagian hanya ditutup atau disamarkan saat waktu ibadah, sehingga warisan sejarahnya tetap terjaga. Hagia Sophia juga merupakan bagian dari situs warisan dunia UNESCO.

Saya berkunjung ke Hagia Sophia ketika bangunan ini sudah kembali berfungsi sebagai masjid. Bangunan ini adalah salah satu destinasi wisata paling ikonik di dunia. Kubah raksasa setinggi sekitar 55 meter tampak seolah melayang di ruang utama. Mozaik tokoh-tokoh Kristen masih terlihat, sementara kaligrafi besar dari masa Ottoman menggantung di dinding bagian dalam.

Baca juga: Dari Hagia Sophia hingga Bosphorus: Petualangan Sejarah dan Kuliner di Istanbul

Ruang antarbudaya yang memesona

masjid di hagia sophia

Usai berkeliling di dalam masjid, saya keluar ke pelataran Hagia Sophia dan langsung disambut kehidupan khas kawasan tua Istanbul. Bangunan-bangunan bersejarah berdiri berdampingan dengan kios-kios cendera mata dan aroma kuliner Turki yang menggoda.

Ada penjual simit, roti bundar bertabur wijen yang masih hangat. Di sampingnya toko Turkish delight dengan aneka warna tersusun seperti permata. Cahaya matahari sore memantul di atas baklava, kue berlapis madu dan sirup yang sangat menggoda selera.

Aroma daging domba panggang dari kedai kebab sempat menggoda, tetapi perut saya masih terasa penuh. Saya memilih memesan teh apel hangat dan duduk santai di bangku batu tua.

Dari tempat itu kubah dan menara Hagia Sophia masih terlihat jelas. Wisatawan mancanegara berjalan berdampingan dengan warga lokal yang datang untuk beribadah. Tempat ini bukan sekadar destinasi wisata. Hagia Sophia adalah ruang pertemuan antarbudaya yang hidup hingga hari ini.

Terima kasih Istanbul. Terima kasih Hagia Sophia. Saya menikmati, dan saya terpesona.

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *