Milenianews.com, Bandar Lampung– Apakah benar jalur Perdagangan Rempah Indonesia pernah jaya? Pertanyaan ini muncul saat acara DialoKlasika “Membaca Nusantara” dalam diskusi buku puisi Nusantara, Amnesia, kumpulan puisi karya Ari Pahala Hutabarat.
Nusantara kerap dipuja sebagai kejayaan, namun sejarah tak pernah benar-benar bersih dari luka. Buku Nusantara, Amnesia hadir bukan untuk merayakan nostalgia, melainkan membongkar ingatan tentang trauma kolektif, suara yang ditenggelamkan, dan sejarah yang dipoles agar tampak utuh.
Melalui puisi, kita diajak membaca ulang Nusantara, bukan sebagai mitos kejayaan, tetapi sebagai ruang ingatan yang retak, penuh jejak kekerasan, kehilangan, dan perlawanan.
Apakah benar Jalur Perdagangan Rempah Indonesia pernah jaya? Ari Pahala Hutabarat menjawab langsung pertanyaan ini. “Pada dasarnya Indonesia hanya penghasil rempah seperti lada, pala, cengkeh, kopi dan lainnya. Rempah ini dirampas Belanda berbalut perdagangan yang menekan dengan monopoli dan harga murah,” tegas Ari sapaan akrabnya, Sabtu, 3 Januari 2026.
“Rempah bisa juga dikatakan kekalahan dan kelemahan Indonesia. Indonesia tidak pernah menjadi pusat perdagangan rampah, justru pusatnya di Kalkuta India, lalu menuju Eropa”, tegasnya lagi.
Ia melanjutkan, Bandar Malaka merupakan jalur rempah tempat transit orang Eropa dalam rangka mencari rempah-rempah. Kemudian meneruskan perjalanan ke Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan daerah lainnya.
“Jalur rempah lainnya melalui Pantai Barat Sumatera mulai dari Barus, Krui, Tanggamus, sampai ke Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan lain-lain,” tambahnya.
Tak hanya itu, ia melanjutkan, Portugis berhasil menaklukkan Malaka dan menerapkan pembayaran pajak dengan harga tinggi pada tahun 1511. Ini merupakan simbol keruntuhan Jalur Rempah.
Menurutnya, Indonesia mengalami amnesia atau lupa yang berakibat salah baca tentang diri sendiri. Juga adanya glorifikasi sejarah yang berlebihan. Hal ini karena banyak mitos kejayaan, yang tujuannya untuk obat psikis agar tidak minder pada pergaulana bangsa di mata dunia.
Berawal dari Jalur Perdagangan Rempah yang mengakibatkan banyak hal diimpor dari Eropa termasuk infrastruktur, sistem politik, budaya berpakaian, agama, bahkan cara berfikir. Seharusnya, banyak rumah panggung di Eropa. Ini sebagai bukti keberhasilan arsitektur Indonesia.
Ari melanjutkan, memang benar Sriwijya pernah berjaya pada abad ke-7 namun bukan menjadi pusat kegiatan. Tetapi hanya tempat transit selama dua tahun di daerah Muaro Jambi untuk belajar bahasa dan budaya India. “Jika benar-benar jaya, mana bukti infrastrukturnya?” ujarnya.
Lalu, ia mencontohkan, Kejayaan China dengan Tembok China dan ilmu yang menyertainya. Ada juga secara materi peradaban tenggelam namun ilmu dan gen pintar lahir dan ada sampai kini.
Pada kesempatan ini Ari juga memberikan alasannya mengapa memilih jalur puisi. “Penggunaan metafora serta lebih luas imajinasi dalam pemaknaan sesuatu serta terkait semiotika dan simatik”, ujarnya.
Rasio, Rasa, dan Raga pada Karya Sastra
Sesi tanya jawab dan tanggapan yang disampaikan oleh Arsiya Oganara, Edy Siswanto, Agit Yogi Subandi, Arman, dan Chepry Hutabarat. Suasana tampak lebih hangat dan penuh persahabatan.
Ari menyatakan, ada dua tipe penyair di Indonesia. Pertama, penyair yang digerakkan oleh kepala/berpikir. Tipe penyair ini tidak langsung menghasilkan karya sastra, namun memerlukan perenungan dan pemikiran yang membutuhkan waktu lama.
Kedua, tipe penyair yang digerakkan oleh dada/rasa. Tipe penyair yang langsung menghasilkan karya sastra berdasarkan situasi dan kondisi di sekelilingnya. Seperti, indahnya pemandangan, dramatisnya suasana, dan lainnya.
Terkait hal ini, Arsiya Oganara menanyakan bagaimana generasi muda Indonesia bisa menghasilkan karya sastra berdasarkan tipe penyair pertama.
“Karya sastra terdiri dari rasio, rasa/seni, dan raga. Aspek teknis dan ilmu harus dikawinkan agar menghasilkan karya seni yang keren”, jawab Ari.
Edy Siswanto, praktisi memberikan komentarnya. Ia sepakat dengan Ari bahwa amnesia hasil konstruksi. “Indonesia menyesuaikan dengan peradaban, perubahan kultur merupakan sunnatullah,” ujarnya.
Akademisi lainnya, Agit Yogi Subandi menuturkan, pada karya sastra atau seni, penguasaan bahasa itu penting karena bahasa cermin kebudayaan, nilai, dan adat.
Pada kesempatan ini pula, Arman sebagai budayawan menyoroti, isu Jalur Rempah tidak otentik sejak pertama kali digaungkan. Ia juga merasa skeptis tentang glorifikasi Sejarah Kejayaan Indonesia yang berhubungan dengan rempah.
Ia berpendapat, glorifikasi hanya menutupi kekalahan dan kesalahan akut yang berulang. Indonesia hanya menjadi bulan-bulanan dari dulu.
Turut memberikan pendapatnya, Chepry Hutabarat. “Dulu orang-orang Nusantara masih lugu sehingga menerima semua akhirnya dimonopoli dan kita kehilangan kultur,” tuturnya.
Pendiri Rumah Ideologi Klasika itu menambahkan, “Pada zaman Majapahit, koruptor dihukum mati, tidak seperti sekang ini.”
Diinformasikan, Ahmad Mufid (Teman Ngobrol) yang lebih dikenal dengan sebutan B Mol sebagai moderator pada acara ini. Tampak hadir akademisi, budayawan, sastrawan, aktor teater, pegiat literasi, mahasiswa, dan masyarakat umum.
Diskusi buku Nusantara, Amnesia, kumpulan puisi karya Ari Pahala Hutabarat akan mengadakan roadshow di Lampung.







