Budaya  

Film “Nona Manis Sayange”, Konflik Cinta di Tengah Pesona Alam dan Adat  Labuan Bajo

Film “Nona Manis Sayange” mengangkat adat dan budaya Labuan Bajo (Nusa Tenggara Timur), khususnya terkait uang mahar (belis). (Foto: Dok Putaar Film)

Milenianews.com, Kupang– Pertengahan tahun 2023, Rumah Produksi Putaar  Film menyiapkan sebuah film drama komedi berjudul Nona Manis Sayange. Film yang menceritakan kisah percintaan dengan latar belakang adat dan budaya di Pulau Nusa Tengara Timur, khususnya Labuan Bajo ini akan disutradarai oleh Hestu Saputra. Selain menceritakan adat dan kebudayaan di Labuan Bajo, film ini juga akan menghadirkan pemandangan indah dari pulau Labuan Bajo, yang sudah terkenal sampai mancanegara ini.

Film Nona Manis Sayange ini, mengedepankan isu tentang uang mahar (belis), yang sampai saat ini terus berjalan. Persoalan masyarakat di Labuan Bajo yang kaitannya dengan  persoalan belis menjadi populer di wilayah Labuan Bajo khususnya, dan  masyarakat NTT pada keseluluruhannya. Mereka tidak bisa menikah secara adat, mereka menikah secara agama dan  negara melalui catatan sipil,. Karena untuk pernikahan  adat  sendiri biasa mereka  harus berutang  belis/mahar.

Eksekutif Produser Putaar Film, Dr. Ngadiman mengungkapkan, dirinya merasa terpanggil untuk mengenalkan adat dan budaya Labuan Bajo di Nusa Tenggara Timur, karena belum banyak masyarakat luas yang mengetahuinya.”Latar belakang kami membuat film ini adalah untuk memperkenalkan adat dan budaya NTT khususnya Labuan Bajo yang mana keindahannya sangat mempesona dan lagi menjadi perhatian banyak turis baik dari dalam maupun luar negeri. Adat dan budayanya belum maksimal diketahui banyak orang. Sehingga kami memandang perlu untuk memperkenalkan kepada semua pihak termasuk membantu promosi pariwisata indonesia kepada orang banyak,” ungkapnya dalam rilis yang diterima Milenianews.com.

Sedangkan sutradara Hestu Saputra mengungkapkan, perlu proses panjang dalam mengerjakan projek  film Nona Manis Sayange.” Tinggal selangkah menuju final. Film Nona Manis Sayange termasuk proses paling lama di antara perjalanan saya membuat  beberapa  film sebelumnya, dari editing, CGI, dan sarana teknis lainnya yang kita upayakan semaksimal mungkin dalam berupaya menyampaikan narasi elemen-elemen kehidupan yang terbangun menjadikan cerita bisa kuat penyampaiannya. Itu tujuan utamanya. Total waktu yang dibutuhkan penyelesain film ini satu tahun 2 bulan. Dari ide menulis riset sampai editing post. Syutingnya sendiri total 23 hari production days,” jelasnya.

Sementara itu Robby Arya Futra  dan Miranda Putri sebagai producer yang merupakan debut pertamanya di film Nona Manis Sayange ini merasa bangga turut berkreasi di film besar ini. “Ini merupakan pengalaman berharga saya di bidang entertaint bekerja  sama dengan senior  Dhoni Ramadhan dan Pietra Paloh di Putaar Film” imbuhnya.

Sementara itu Dhoni Ramadhan & Pietra Paloh menganggap film Nona Manis Sayange yang akan tayang serentak di bioskop mulai 2 Nopember 2023 merupakan film ke-15 dari Putaar Film yang penghujung tahun  ini genap 28 tahun berdiri.

Pangeran Lantang juga menyatakan sangat senang bisa menjadi bagian dari film ini.” Senang bisa jadi bagian di film Nona Manis Sayange ini. Selama ini, saya hanya mengetahui Labuan Bajo, menjadi tempat liburan yang dimimpikan banyak orang, karena terkenal dengan pemandangannya yang indah. Ternyata, bukan hanya itu saja, tapi adat dan budaya Labuan Bajo sangat unik,” katanya.

Film Nona Manis Sayange ini menceritakan tentang kisah Sikka seorang gadis remaja lahir dari keluarga pengusaha kaya, bersahabat semenjak kecil dengan Akram anak keluarga seorang pelaut yang hidup di pesisir pulau labuan Bajo. Mereka tumbuh bersama saling menguatkan melewati perjalanan hidup yang memperdalam perasaan cinta mereka berdua.

Keadaan berubah ketika ambisi dan manipulasi datang dari Ayah Sikka untuk memisahkan mereka. Sebagai anak pelaut Akram dituntut aturan adat untuk membayar belis ( syarat mahar tradisi suku Manggarai di Labuan Bajo ) dari ayah Sikka yang nilainya fantastis, jika ia ingin menikah dengan Sikka. Hal itu tidak membuat sosok Akram mundur dan tetap berjuang demi Sikka. Di sisi lain Sikka juga berusaha meyakinkan ayahnya bahwa cinta sejati bukan diliat dari nilai materi atapun status sosial.

Beragam keindahan romantisme alam Labuan Bajo bisa menyatukan kisah cinta remaja dengan pengaruh norma adat dan budaya yang berkembang di masyarakatnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *