Jalan Sunyi Pengabdian di Bidang Literasi

Judul               : Membangun Budaya Literasi dan Taman Bacaan Berbasis

              Edukasi dan Hiburan – TBM Edutainment.

Penulis            : Syarifudin Yunus

ISBN               : 978-623-99780-5-1

Penerbit           : Endnote Press

Tebal               : 272 halaman

Milenianews.com, Ngobrolin Buku– Selain menuturkan realitas pengabdian di taman bacaan, buku Membangun Budaya Literasi dan Taman Bacaan Berbasis Edukasi dan Hiburan – TBM Edutainment  karya Syarifudin Yunus dapat dikatakan buku yang paling komprehensif mengupas literasi dan taman bacaan di Indonesia. Layak menjadi referensi ilmiah bagi mahasiswa maupun artikel ilmiah tentang literasi dan taman bacaan. Karena di dalamnya membahas empat  bagian penting di literasi, yaitu 1) praktik baik taman bacaan, 2) kajian dan riset literasi, 3) TBM Edutainment, dan 4) tantangan di taman bacaan.

Buku setebal 272 halaman terbitan Endnote Press ini menegaskan pentingnya membangun budaya literasi dan taman bacaan berbasis edukasi dan hiburan. Sebagai obat “jalan sunyi” pengabdian di bidang literasi. Karena itu, buku ini menyajikan pengalaman konkret dalam menggerakkan literasi dan taman bacaan sebagai sentra pendidikan yang dipadukan dengan hiburan. Itulah yang disebut penulis dengan teori “TBM Edutainment” sebagai model pengembangan taman bacaan. Agar lebih diminati dan mengundang daya tarik anak-anak dan masyarakat. TBM Edutainment mampu menjadikan taman bacaan sebagai tempat yang asyik dan menyenangkan. Agar spirit literasi untuk semua dapat terwujud. Tentu, harus didasari oleh komitmen dan konsistensi sepenuh hati dalam berliterasi.

Realitas Taman Bacaan di Indonesia

Di buku ini, disajikan fakta miris realitas taman bacaan di Indonesia seperti: hanya 20% ruang baca taman bacaan yang memadai, 60% koleksi buku taman bacaan tidak memadai, 57% taman bacaan yang ada tidak punya dokumen legalitas, dan 72% taman bacaan yang ada di Indonesia hanya bisa membeli 1 dari 4 buku yang dibutuhkan. Bukti bahwa rasio kecukupan dana di taman bacaan tergolong memprihatinkan. Karenanya, gerakan literasi dan taman bacaan bisa lebih berdaya bila ada kepedulian dan kolaborasi dari berbagai pihak, terutama CSR korporasi dan keterlibatan komunitas atau relawan.

Kelebihan buku ini, antara lain: 1) menyajikan isi yang komprehensif yang terdiri dari: 30% praktik baik TBM, 15% kajian dan riset taman bacaan, 15% TBM Edutainment, dan 40% tantangan dan tips di taman bacaan, 2) bergaya bahasa berupa esai yang mudah dimengerti, 3) memuat riset dan realitas budaya literasi, dan 4) menyajikan “teori baru” dalam aktivitas literasi dan taman bacaan yang disebut “TBM Edutainment”. Kekurangannya terletak pada jenis kertas “bookpaper” yang kurang memadai dan menempatkan literasi dan taman bacaan sebagai jalan sunyi pengabdian.

Di tengah gempuran era digital yang kian tidak terbendung, setidaknya buku Membangun Budaya Literasi dan Taman Bacaan Berbasis Edukasi dan Hiburan – TBM Edutainment bisa jadi “angin segar” yang mencerahkan untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang literat. Masyarakat yang mampu memahami realitas kehidupan. Bahwa saat berliterasi dan berjuang di taman bacaan pasti ada tantangan dan rintangan yang menghadang. Karena itu, pegiat literasi di manapun harus lebih spartan dan berjiwa pantang menyerah dalam berliterasi. Demi tegaknya tradisi baca dan budaya literasi masyarakat.

Kata kuncinya, terletak pada eksekusi dan praktik baik untuk mewujudkan taman bacaan sebagai tempat yang asyik dan menyenangkan melalui TBM Edutainment. Sebuah cara beda dalam tata kelola dan pengembangan literasi dan taman bacaan di Indonesia. Salam literasi!

Peresensi: Farid Nabil Elsyarif, Mahasiswa Prodi Statistika FMIPA Universitas Brawijaya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *