Lingerie dan Hak Perempuan dalam Berpakaian

lingerie-dan-hak-perempuan-dalam-berpakaian

Milenianews.com – Ketika mendengar kata “lingerie” pasti terbayang pakaian dalam wanita yang dipakai untuk menunjang aktivitas seksual. Persepsi tersebut timbul akibat budaya patriarki dan media yang menayangkan hal serupa.

Lingerie yang dibuat pada 1700an, memiliki bentuk pinggang ramping dan dada yang menonjol, bentuk tersebut mengikuti standar kecantikkan pada masa itu. Namun, model lingerie terus berubah mengikuti perkembangan zaman, hingga terbentuklah lingerie modern seperti saat ini.

Baca Juga : Sosok Wanita Tangguh

Sejak saat itu, media turut mempopulerkan lingerie, mulai dari film, iklan, fashion show, hingga fotografi. Model yang digunakanpun disesuaikan dengan standar kecantikan, seperti berkulit putih, tubuh ideal, dan berwajah ayu.

Seiring berjalannya waktu, image lingerie terbentuk sebagai underwear wanita dewasa untuk memuaskan hasrat pasangan. Image tersebut semakin kuat dengan adanya budaya patriarki sehingga mendikte perempuan dalam hal berpakaian.

Dari penelitian Adam D. Galinsky, dkk pada tahun 2012 menemukan hasil Enclothed Cognition, yaitu cara berpakaian mempengaruhi cara pandang tubuh sendiri.

Sederhananya, bagaimana pakaian dapat memberikan proses mental terhadap penggunaannya, penelitian tersebut menjadi pematah persepsi patriarki mengenai lingerie pada wanita.

Enclothed cognition memiliki dua prinsip dasar, yaitu makna simbolik dari pakaian dan pengalaman individu ketika mengenakaiannya.

Kemudian Adam D. Galinsky menggunakan contoh jas laboratorium putih yang sering digunakan oleh dokter. Profesi tersebut erat kaitannya dengan sikap hati-hati dan teliti.

Sehingga dokter yang mengenakan jas putih, cenderung lebih berhati-hati dalam beraktivitas supaya pakaiannya tidak kotor. Selain itu, dengan jas berwarna putih dapat menunjukkan bahwa dokter tersebut steril dan bersih.

Jika dihubungkan antara lingerie dengan enclothed cognition, seluruh perempuan bebas menggunakan lingerie.

Karena dapat meningkatkan kepercayaan diri, lebih mencintai diri sendiri, serta menjadi simbol independensi perempuan dalam menentukan pakaian yang mereka senangi.

Baca Juga : Rahasia Wanita di Lembah Hunza yang Cantik dan Panjang Umur

Tanpa kita sadari, enclothed cognition dapat merubah pandangan masyarakat bahwa perempuan bukan hanya objek tontonan atau pemuas hasrat laki-laki semata.

Namun, perempuan juga memiliki hak penuh atas tubuhnya, perempuan bebas mengekspresikan diri, perempuan memiliki ruang untuk menilai dan memandang dirinya. Sehingga pola pikir masyarakat dapat berubah ke arah kesetaraan gender.(Reporter 2)

 

Jangan sampai ketinggalan info terkini bagi generasi milenial, segera subscribe channel telegram milenianews di t.me/milenianewscom.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *