Lewat Vibe Coding, Nurul Ichsan Ajak Guru BK Ciptakan Aplikasi Digital Berbasis AI

Milenianews.com, Purwokerto – Kemajuan teknologi kecerdasan buatan (AI) menghadirkan peluang besar bagi para guru Bimbingan dan Konseling (BK) untuk berinovasi menciptakan layanan pendidikan berbasis digital. Peluang strategis ini dikupas oleh Nurul Ichsan, M.Kom., dalam acara Seminar & Award Pemuda Digital yang digelar Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) Purwokerto di Hotel Luminor, Rabu (14/10).

​Mengusung tema “Smart with AI, Strong in Mind, Kind at Heart and Creative Mind“, seminar ini membahas cara memanfaatkan AI untuk mengatasi berbagai problematika pendidikan. Pendidik didorong tidak hanya sekadar melek teknologi, tetapi juga jeli melihat kebutuhan di lingkungan sekolah guna merumuskan solusi yang tepat sasaran.

Baca juga: UBSI Tasikmalaya Gelar Seminar Pemuda Digital, Dorong Guru BK Manfaatkan AI di Sekolah

Dalam materinya, Nurul menyoroti berbagai tantangan kompleks yang dihadapi guru BK saat mendampingi siswa. Tantangan ini meliputi penanganan kebutuhan siswa yang beragam, persiapan studi lanjutan, bimbingan karier, hingga penyelesaian masalah pribadi yang menuntut perhatian khusus.

​Ia juga menggarisbawahi masalah pengelolaan data siswa yang sering kali masih berserakan di berbagai platform, seperti grup WhatsApp, Microsoft Excel, tumpukan dokumen fisik, hingga catatan pribadi. Kondisi inilah yang memicu urgensi akan sistem manajemen data yang lebih tertata.

​Melalui adopsi teknologi digital, seluruh proses pengarsipan dan tugas administratif diharapkan dapat berjalan jauh lebih praktis. Guru BK pun diimbau untuk mulai mengidentifikasi tugas-tugas mana saja yang berpotensi dipermudah dengan bantuan aplikasi.

​Inovasi Vibe Coding: Rancang Aplikasi Tanpa Kode Manual

Poin menarik dari presentasi tersebut adalah pengenalan konsep vibe coding. Melalui pendekatan inovatif ini, siapa pun dapat merancang aplikasi hanya dengan mengandalkan bantuan AI. Pengguna cukup memberikan instruksi atau prompt menggunakan bahasa sehari-hari yang mudah dipahami.

​Dengan metode ini, guru cukup mendeskripsikan tujuan aplikasi, fitur yang diperlukan, serta alur kerjanya tanpa harus pusing mengetik kode pemrograman secara manual. Namun, proses pembuatannya tetap membutuhkan langkah terarah. Pengguna wajib memetakan masalah, merumuskan spesifikasi, lalu membuat Product Requirement Document (PRD) sebagai panduan pengembangan.

​Setelah kebutuhan tersusun, pembuatan aplikasi bisa dieksekusi melalui platform AI. Nurul mencontohkan penggunaan platform Base44 yang memang dirancang khusus untuk memfasilitasi pembuatan aplikasi. Pendekatan ini membuktikan bahwa penciptaan solusi digital harus berakar dari pemahaman masalah, bukan sekadar ikut-ikutan tren.

Sebagai gambaran nyata, Nurul memaparkan berbagai contoh aplikasi fungsional yang bisa dibuat untuk menunjang operasional sekolah. Beberapa di antaranya meliputi aplikasi layanan BK digital, pemantauan uang kas kelas, hingga ragam media pembelajaran interaktif.

​Khusus untuk ranah BK, desain aplikasi bisa dikustomisasi sesuai kondisi sekolah. Sebelum membuatnya, guru dituntut merumuskan masalah dan memilih fitur yang paling krusial agar aplikasi tepat guna. Aspek penting lainnya adalah manajemen data. Segala informasi pribadi dan riwayat konseling siswa wajib dikelola dengan tanggung jawab tinggi agar digitalisasi tidak mengorbankan privasi dan rasa percaya siswa.

​Kolaborasi Strategis untuk Ciptakan Solusi Pendidikan

Lebih jauh, Nurul membuka wacana kerja sama strategis antara pihak sekolah, UBSI, serta Digital Creative Community (DICO) untuk merealisasikan aplikasi ini. Sinergi ini diproyeksikan menjadi jembatan yang menghubungkan kebutuhan praktis di sekolah dengan keahlian para praktisi teknologi. Lewat kolaborasi ini, diharapkan lahir aplikasi yang tidak hanya canggih, tapi juga memberi manfaat nyata bagi kelancaran kegiatan belajar-mengajar.

Meski demikian, masuknya AI bukan berarti semua beban kerja guru bisa diambil alih oleh mesin. AI tetaplah berstatus sebagai alat bantu yang pengoperasiannya mutlak membutuhkan kontrol dan pertimbangan dari akal manusia.

Baca juga: Kunci Sukses Guru BK di Era AI: Fisik Sehat, Mental Kuat, dan Bijak Bermedia

​Peran sentral guru BK dalam menyelami kondisi psikologis siswa, menjalin komunikasi, serta memberi pendampingan personal tidak akan pernah tergantikan. Secanggih apa pun teknologi yang masuk ke sekolah, empati dan ikatan batin pendidik tetap menjadi elemen tak ternilai.

​Di akhir materinya, Nurul memotivasi peserta untuk memandang AI sebagai katalisator kreativitas dalam memecahkan persoalan pendidikan. Literasi teknologi, kepekaan melihat kebutuhan, dan semangat belajar adalah amunisi utama guru. Jika diarahkan dengan bijak, kehadiran AI pasti mendongkrak kinerja pendidik tanpa mengikis sisi humanis dari pendidikan itu sendiri.

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *